Malu Sama Otot! Kuat Nanjak Rinjani Berhari-hari, Tapi "Lumpuh" Jalan ke Masjid 100 Meter?

Pernahkah kita merasa begitu gagah saat berhasil menaklukkan puncak gunung? Kita rela mengambil cuti panjang, menabung berbulan-bulan untuk membeli perlengkapan terbaik, dan menahan lelah mendaki berjam-jam demi sebuah foto di atas awan. Rinjani, Tambora, hingga puncak-puncak tertinggi kita kejar dengan bangga.
​Namun, ada sebuah ironi yang sering luput kita sadari. ​Kaki-kaki perkasa yang mampu menanjak ribuan meter di atas permukaan laut itu, mendadak "lumpuh" tak bertenaga justru saat mendengar panggilan Azan dari masjid yang hanya berjarak lima puluh langkah dari pintu rumah.
​Jarak ke puncak gunung yang berkilo-kilo meter terasa dekat karena hobi, tapi jarak ke masjid yang di depan mata terasa lebih jauh dari benua antartika karena iman yang sedang "koma".

***
​Sekelarnya dari kajian tadi, jujurly ada satu rasa yang tertinggal di dada: rasa malu, bercampur dengan kerinduan untuk memperbaiki diri. Rasanya baru kemarin kita melepas Ramadan, dan kini kita diingatkan kembali bahwa tamu agung itu akan segera datang.
​Duduk menyimak penjelasan Ust. Heeldy tadi membuat saya merenung panjang tentang waktu, tentang prioritas, dan tentang langkah kaki yang seringkali terasa berat menuju rumah-Nya.
​Agar materi kajian yang buat saya sangat penting ini tidak hilang atau terlupakan begitu saja maka ini adalah beberapa catatan refleksi yang saya rangkum, sebagai pengingat untuk diri sendiri yang sering lupa.

​1. Belajar "Gencatan Senjata" dari Bulan Haram

​Saya baru tersadar betapa istimewanya waktu-waktu yang Allah pilih. Ada empat bulan haram (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab) yang memiliki kedudukan tinggi.
​Satu fakta sejarah yang menyentil hati saya: bahkan orang-orang Jahiliyah dahulu—yang belum mengenal Islam dengan sempurna—sangat menghormati bulan-bulan ini. Mereka meletakkan senjata, menghentikan peperangan, dan menahan diri dari menyakiti makhluk hidup lain di tanah suci.​ 
Jika mereka yang berada di masa kegelapan saja mampu menahan diri demi menghormati bulan ini, bagaimana dengan saya yang mengaku Muslim? Bukankah seharusnya saya lebih bisa melakukan "gencatan senjata" terhadap hawa nafsu dan dosa-dosa kecil yang sering diremehkan?

​2. Jangan Menunggu Ramadan untuk "Ngegas"

​Analogi yang disampaikan dalam kajian tadi sangat masuk akal: "Ibarat motor atau mobil, mesin itu harus dipanaskan dulu sebelum dipacu kencang. Kalau mesin dingin langsung dipaksa jalan, rasanya pasti tidak enak, tersendat-sendat."
​Begitu pula dengan ibadah kita menyambut Ramadan. Seringkali kita baru mulai sibuk membuka Al-Qur'an di hari pertama puasa. Akibatnya? Badan kaget, lemas, dan semangat ibadah hanya bertahan di minggu pertama.
​Bulan Rajab dan Sya'ban ini adalah fase pemanasan. Ini saatnya kita mulai melatih fisik dengan puasa sunnah dan melatih lisan dengan tilawah. Tujuannya satu: agar saat Ramadan tiba, "mesin" kita sudah panas. Kita sudah terbiasa lapar, sudah terbiasa bangun malam, sehingga kita bisa langsung berlari kencang memburu Lailatul Qadar tanpa rasa berat.

​3. Gunung Mampu Didaki, Masjid Terlewati

​Bagian ini adalah bagian yang paling membuat saya tertunduk malu.
​Kita sering merasa bangga memiliki fisik yang kuat. Kita mampu mendaki Rinjani berhari-hari, menjelajahi Tambora, atau bersepeda jauh ke Malimbu dan Senggigi demi sebuah hobi dan kesenangan. Namun, anehnya, fisik yang perkasa itu tiba-tiba menjadi "lumpuh" ketika mendengar azan dari masjid yang hanya berjarak beberapa langkah dari rumah.😭

​Kisah sahabat Nabi, Abdullah bin Ummi Maktum, benar-benar menjadi tamparan keras. Beliau yang tunanetra, yang rumahnya jauh, dan harus melewati jalanan gelap, tidak diberi keringanan oleh Rasulullah untuk meninggalkan shalat berjamaah selama ia masih mendengar azan.

​Lantas, apa alasan saya? Hujan sedikit, alasan. Capek kerja, alasan.

​Allah berfirman dalam Surah At-Tawbah ayat 18, bahwa yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman. Hanya orang beriman. Jadi, shalat berjamaah di masjid bukan sekadar rutinitas fisik, melainkan barometer iman di dalam dada.😭

​4. Transaksi dengan Langit

​Terakhir, tentang niat. Bolehkah kita beribadah karena mengharap pahala yang berlipat ganda? Jawabannya menyejukkan: Boleh.

​Allah Maha Tahu bahwa manusia suka dengan "hitungan". Maka Allah janjikan 27 derajat untuk shalat berjamaah, Allah janjikan malam yang lebih baik dari 1000 bulan (sekitar 83 tahun!) di Lailatul Qadar. Itu adalah bentuk kasih sayang Allah agar kita termotivasi.
Bayangkan, shalat Isya berjamaah pahalanya seperti shalat separuh malam. Shalat Subuh berjamaah pahalanya seperti shalat semalam suntuk. Ini adalah multiplier effect (efek berganda) yang luar biasa. Rugi rasanya jika kita melewatkan "diskon besar-besaran" dari Langit ini hanya demi kenyamanan semu di rumah.

​***

Kajian hari ini bukan untuk membuat saya merasa putus asa atas dosa masa lalu, tapi untuk menyalakan kembali api semangat yang sempat redup.

​Mari kita mulai "memanaskan mesin". Mari kita paksa kaki ini melangkah ke masjid selagi sehat, sebelum nanti kita hanya bisa digotong ke masjid sebagai jenazah.

​Semoga Allah sampaikan usia kita ke bulan Ramadan dalam keadaan hati yang siap dan iman yang bertumbuh. Aamiin.

Comments