Ekspedisi Beringin Sila: Kayuhan Sepeda dan Nyanyian Sebelas Cucu


Bagi dunia, beliau mungkin hanya seorang pria tua biasa. Namun bagiku, Kakek adalah idola, pahlawan, dan kebanggaan yang nilainya melampaui apa pun yang kupunya. Kasih sayangnya mengalir tanpa batas, mungkin karena aku adalah cucu pertamanya—si pembuka jalan bagi generasi berikutnya.
Malam ini, rasa rindu tiba-tiba mengetuk pintu ingatan. Aku pun tergerak untuk menulis, sekadar menyegarkan kembali fragmen-fragmen memori yang terlalu indah untuk dibiarkan pudar.

Komando di Bawah Pohon Sawo
Kejadiannya saat aku berumur sepuluh tahun. Di sebuah hari Minggu yang cerah, Kakek yang biasanya sibuk tiba-tiba punya ide cemerlang. Beliau mengumpulkan kami—sebelas cucunya—di bawah pohon sawo samping rumah. Dengan senyum khasnya, beliau mencetuskan ide gila: Bersepeda ke Bendungan Beringin Sila.

Jaraknya seingatku 15 kilometer. Jauh? Tentu, apalagi bagi kaki-kaki mungil kami. Tapi semangat kami mengalahkan logika.

"Sekarang, siapkan bekal dan sepeda masing-masing. Setelah itu kumpul lagi di sini. Siap?" tanya Kakek.

"Siaaaaap!!!" teriak kami serempak, memecah kesunyian pagi.

Perjalanan Penuh Melodi

Maka dimulailah ekspedisi itu. Pasukan kami terdiri dari aku, Kak Neneng, Unun, Santi, Elis, Dhani, Edi, Doni, Rini, Sri, dan Cahyo. Kakek membonceng Sri yang paling kecil di atas sepeda Polygon biru tua kesayangannya. Sementara aku, si sulung, bertugas membonceng Doni.

Perjalanan itu tidak terasa berat sama sekali. Di bawah komando Kakek, kami bernyanyi sepanjang jalan. Repertoar kami sangat beragam, mulai dari lagu anak-anak milik Joshua dan Sherina, hingga lagu dangdut legendaris dari A. Rafiq dan Rhoma Irama. Kami tertawa, berhenti sejenak untuk mengatur napas, lalu tertawa lagi.

Kami melewati jalanan tepi pantai yang menyuguhkan aroma garam dan pemandangan perkampungan nelayan yang eksotis. Sesekali Kakek menggoda Rini, yang rambutnya berkibar lucu ditiup angin laut.

Kedamaian di Beringin Sila

Menjelang Zuhur, kami tiba di bendungan. Tempat itu sunyi, dikelilingi tebing batu berlumut yang menjulang tinggi—eksotis dan tenang. Sebelum sempat kami menceburkan diri ke air, Kakek memberi instruksi tegas namun lembut: Sholat dulu.

Ajaibnya, meski kami anak-anak yang bandel, perintah Kakek selalu kami patuhi tanpa beban. Berbeda jika Bapak yang memerintah; rasanya berat karena Bapak suka lebih galak. Tapi Kakek? Beliau punya cara untuk membuat kewajiban terasa seperti bagian dari petualangan.

Kami sholat, beberapa tidak. Ritual yang paling ditunggu tiba: Makan siang. Di bawah pohon mangga, kami membuka bekal masing-masing. Menu sederhana itu terasa seperti hidangan bintang lima karena dimakan bersama di tengah semilir angin.

Sesaat sebelum beberapa dari kami tertidur karena kekenyangan, Kakek mendongeng tepatnya memberi petuah. Suaranya yang berat namun teduh menceritakan kisah masa kecilnya. Selepas dongeng, semua berhamburan menceburkan diri ke anak sungai dari bendungan tanpa bisa dicegah lagi oleh kakek.

Waktu yang Terus Berjalan

Sekarang, aku sudah berusia 21 tahun. Adik-adik dan sepupuku sudah tumbuh besar dengan karakter mereka masing-masing. Dunia sudah banyak berubah, namun Kakek tetaplah Kakek yang dulu.

Rambutnya mungkin sudah memutih seluruhnya, tapi tatapan matanya tetap seteduh dulu. Beliau masih sering mengunjungiku di Mataram. Bahkan tadi malam, beliau menelepon hanya untuk menggodaku, 

"Siapa perempuan yang sedang kamu dekati sekarang?"

Aku hanya bisa tersipu malu di balik telepon. Ah, Kakek... suatu saat nanti, aku berjanji akan duduk berdua bersamamu dan menceritakan kisah cinta cucumu ini dengan lengkap. Sebagaimana engkau dulu menceritakan dongeng-dongeng indah di bawah pohon mangga Beringin Sila.

Comments