GURU MENANGIS! Gaji Tukang Cuci Piring MBG 20x Lipat Gaji Honorer. Masih Waras?


Narasi "Indonesia Emas 2045" kini terdengar seperti lelucon yang tidak lucu. Di atas kertas, kita berteriak tentang membangun SDM unggul. Namun di lapangan, kita sedang menyaksikan sebuah praktik "kanibalisme anggaran" yang mengerikan: Kita membakar lumbung ilmu hanya untuk menyalakan kompor dapur.

Mari kita bedah realitas brutal yang disajikan oleh APBN 2026 ini.

1. Logika "Gali Lubang, Kubur Masa Depan"

Anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) dipatok Rp 335 Triliun. Fantastis? Tentu. Tapi dari mana uangnya? Ternyata, Rp 223 Triliun (66%-nya!) diambil dengan memangkas jatah Pendidikan.

Ini bukan solusi, ini trade-off yang mematikan. Pemerintah seolah berkata: "Anak-anak boleh kenyang, tapi tidak perlu pintar. Sekolah boleh roboh, guru boleh lapar, yang penting katering jalan."

Memindahkan pos anggaran pendidikan untuk program makan siang adalah pengakuan tersirat bahwa negara tidak mampu mencari uang baru. Kita hanya memutar uang dari kantong kanan (otak) ke kantong kiri (perut). Jika dana pendidikan—yang seharusnya dipakai untuk memperbaiki atap sekolah yang bocor, laboratorium yang usang, dan pelatihan guru—malah dialihkan untuk nasi kotak, maka kita sedang mencetak generasi yang stunting akalnya.

2. Tragedi Gaji: Harga Sebuah "Dapur" vs "Ruang Kelas"

Pukulan paling telak ada pada standar penghargaan manusianya. Mari sandingkan dua fakta yang membuat dada sesak:

  • Kepala Dapur SPPG (Satuan Pelayanan Gizi): Estimasi Rp 6 - 7 Juta/bulan.

  • Tukang Cuci Piring/Staf Dapur: Estimasi UMR/Rp 2,5 - 4 Juta.

  • Guru Honorer: Rp 300.000/bulan (seringkali dibayar rapel per 3 bulan).

Pahamilah pesan implisit di sini: Negara lebih menghargai mereka yang mengelola logistik makanan daripada mereka yang mengelola masa depan bangsa.

Guru honorer adalah orang yang setiap pagi berdiri di depan kelas, mendidik karakter, mengajarkan literasi, dan menanamkan moral kepada anak-anak "Generasi Emas" itu. Sudah menjalani peran itu sekian tahun bahkan ada yang sudah separuh hidupnya. Tapi negara menilai keringat mereka lebih murah daripada harga jasa cuci piring bekas makan siang siswa.

Bagaimana bisa kita berharap guru fokus mengajar jika di kepalanya penuh dengan pertanyaan "Besok anak saya makan apa?" sementara di kantin sekolah, petugas katering digaji jauh lebih layak? Ini bukan soal iri dengki, ini soal keadilan dan prioritas adab.

3. Realita di Lapangan: Kenyang Semu?

Ironi ini makin menjadi ketika kita melihat laporan lapangan (seperti kasus viral di Bekasi) di mana menu MBG yang sampai ke siswa terkadang hanya ubi setengah potong atau susu kental manis—jauh dari standar gizi yang dijanjikan.

Jadi, kita memangkas ratusan triliun dari pendidikan, membuat guru makin tercekik, demi sebuah program yang dalam pelaksanaannya pun masih dipertanyakan kualitasnya? Kita mempertaruhkan segalanya untuk hasil yang setengah matang.

Darurat Nalar!

Indonesia sedang dalam kondisi Darurat Nalar. Kita tidak bisa membangun Generasi Emas hanya dengan protein, jika ekosistem pendidikannya kita hancurkan sendiri.

Jika guru honorer masih dibayar Rp 300 ribu sementara anggaran pendidikan disunat demi proyek populis, berhentilah bermimpi tentang 2045. Kita tidak sedang berjalan menuju Indonesia Emas, kita sedang lari di tempat menuju Indonesia Cemas.

Comments