Pernahkah kamu merasa hidup ini penuh kejutan? Kadang kita merencanakan A, tapi yang terjadi malah B. Kadang kita merasa tersesat, bingung, atau bahkan merasa dunia sedang tidak adil karena banyaknya masalah yang datang tiba-tiba.
Sebagai manusia yang hidup di era digital, rasanya kita lebih mudah memahami konsep-konsep rumit jika ditarik ke dunia teknologi. Nah, pernah terpikir tidak, bagaimana kalau kita membedah konsep takdir dan Lauhul Mahfuz menggunakan kacamata teknologi?
Mari kita berimajinasi sebentar.
Server Pusat yang Tak Pernah Down
Dalam keyakinan kita, ada istilah Lauhul Mahfuz. Secara bahasa, ia berarti "Lembaran yang Terpelihara". Tapi, coba bayangkan Lauhul Mahfuz ini sebagai sebuah "Super Server" atau "Cloud Database" raksasa milik Semesta.
Kapasitasnya? Unlimited. Keamanannya? Encrypted.
Di dalam server maha canggih inilah, Allah Sang Pencipta menyimpan "Master Data" kehidupan. Mulai dari galaksi yang bertabrakan miliaran tahun lalu, daun kering yang jatuh di halaman rumah tadi pagi, hingga siapa jodohmu dan kapan kamu akan menutup mata nanti—semuanya sudah tercatat rapi di sana.
Tidak ada data yang corrupt. Tidak ada file yang hilang. Semuanya tersimpan aman, jauh sebelum kita lahir ke dunia
Kalau Lauhul Mahfuz adalah server-nya, maka takdir adalah "Source Code" atau kode pemrogramannya.
Bayangkan sebelum langit dan bumi diciptakan, Tuhan sudah menuliskan naskah programnya. "Kode" ini mengatur segalanya: gravitasi bumi, detak jantung kita, hingga rezeki yang akan mampir ke dompet kita bulan depan.
Saat kita menjalani hari-hari, sebenarnya kita sedang melihat program itu di-running. Kejadian demi kejadian yang kita alami adalah algoritma yang sedang bekerja dengan presisi tingkat tinggi.
Tidak Ada "Bug", yang Ada Hanya "Fitur"
Inilah bagian yang paling menenangkan. Seringkali, saat kita terkena musibah—ban bocor, sakit, atau kehilangan sesuatu—kita menganggap itu sebagai kesialan. Dalam bahasa komputer, kita menganggap hidup kita sedang error atau ada bug.
Padahal, jika kita melihat ke "Server Pusat" tadi, tidak ada yang namanya error.
Kejadian menyakitkan itu sebenarnya adalah feature (fitur) yang memang sengaja dikoding untuk tujuan tertentu. Mungkin "fitur" sakit itu diselipkan untuk menghapus dosa-dosa kecil (seperti membersihkan cache sampah di HP). Atau mungkin, "fitur" kegagalan itu dirancang untuk memaksa kita berbelok ke jalan lain yang ternyata jauh lebih indah di masa depan (seperti sistem GPS yang melakukan rerouting saat ada macet).
User Interface vs Backend
Kita, manusia, hidup di sisi layar monitor. Kita adalah user yang melihat tampilan antarmuka (User Interface). Kita merasa kitalah yang mengklik tombol, memilih menu, dan menggeser layar. Kita punya kehendak, kita punya usaha.
Namun, di sisi belakang layar (Backend), sistem Lauhul Mahfuz-lah yang memproses segalanya. Tenang, rapi, dan pasti.
Jadi, untuk apa terlalu cemas? Kenapa harus takut menghadapi hari esok?
Hidup ini sudah ada yang mengatur. Data kita aman. Skenario kita sudah final dan tervalidasi oleh Sang "Programmer" Terbaik. Tugas kita hanyalah menjalani peran sebaik mungkin, percaya pada sistem-Nya, dan yakin bahwa setiap baris kode yang dituliskan untuk kita, ujungnya adalah demi kebaikan kita sendiri.
Karena di tangan Allah, tidak ada sistem yang gagal.
Comments
Post a Comment