Kenapa Orang yang "Kudet" Malah Lebih Bahagia dari Kamu yang FOMO?

Di sekitarmu setidaknya ada satu dua orang yang kelakuannya agak "ajaib"? Atau kamu sendri yang "ajaib" itu? Alhamdulillah kalau iya. Kenapa? Ayo simak tulisan saya kali ini. 

Saat semua orang lagi demam drakor terbaru, dia malah asyik nonton dokumenter tentang sejarah paku bumi. Atau pas satu dunia lagi heboh joget TikTok, dia anteng aja nyeruput kopi hitam—tanpa gula, tanpa update story. Kita sering banget ngasih label ke mereka: "Si paling beda", "Sok indie", atau yang paling umum: Anti-Mainstream.

Tapi, kalau kita bedah isi kepala mereka pakai ilmu psikologi dan filosofi dari buku "Berani Tidak Disukai", ternyata mereka bukan sekadar cari perhatian. Mereka justru sedang mempraktikkan resep kebahagiaan yang jarang orang tahu.

1. Bukan Sombong, Tapi Punya "Self-Determination" (Kemandirian)
Ayo lurusin satu hal: orang yang gak ngikutin tren itu bukan berarti sombong. Di dunia psikologi, ini namanya Nonconformity.
Mereka punya apa yang disebut Self-Determination Theory. Teori ini bilang kalau manusia itu punya kebutuhan dasar buat ngendaliin hidupnya sendiri (otonomi).
Nah, ini nyambung banget sama konsep "Pemisahan Tugas" di buku Berani Tidak Disukai.
Prinsipnya: "Apa yang aku pilih adalah tugasku. Apa yang kamu pikirkan tentang pilihanku, itu tugasmu."

Orang-orang anti-mainstream ini secara gak sadar udah jago misahin tugas ini. Saat mereka milih HP jadul di tengah gempuran smartphone canggih, mereka lagi menjalankan otonomi mereka. Mereka gak ambil pusing sama "tugas orang lain" (yaitu nyinyiran netizen). Mereka adalah CEO dari keputusan hidup mereka sendiri, bukan "karyawan" dari ekspektasi sosial.

2. Jujur Sama Diri Sendiri (Anti Drama Batin)
Ada fakta menarik dari sisi psikologis. Orang yang gak maksa ikut arus punya tingkat autentisitas yang tinggi. Mereka jujur sama diri sendiri.
Kamu pernah gak ngerasain Cognitive Dissonance? Itu adalah perang batin saat kamu ngelakuin sesuatu yang gak sesuai sama hati nurani. 
Contoh: Pura-pura suka lagu viral biar nyambung pas ngobrol, padahal kuping kamu sakit dengernya. Itu capek, lho!

Di buku Berani Tidak Disukai, ini disebut sebagai "Kebohongan Kehidupan". Kalau kamu hidup cuma buat menuhin ekspektasi orang lain, kamu lagi bohong ke diri sendiri dan orang-orang di sekitarmu. Kaum anti-mainstream ini minim drama batin. Pikiran, hati, dan tindakan mereka selaras. Kesehatan mental mereka lebih terjaga karena mereka gak hidup di atas panggung sandiwara.

3. Kebebasan = Keberanian Untuk Tidak Disukai
Ini poin yang paling "mind-blowing".
Orang yang takut ketinggalan tren (FOMO) biasanya punya ketakutan besar: takut dikucilkan. Akhirnya, mereka kena Conformity Syndrome. Rela kehilangan jati diri, beli barang yang gak butuh, cuma biar dibilang "valid".
Padahal, buku ini ngasih definisi kebebasan yang nampar banget: "Kebebasan adalah keberanian untuk tidak disukai." 

Orang-orang yang berani tampil beda itu sebenernya lagi nunjukin kalau mereka merdeka. Mereka siap kalau ada orang yang gak suka atau mandang sebelah mata, demi mempertahankan apa yang bener-bener mereka mau. Itu mental baja, bukan sekadar gaya-gayaan.

4. Jebakan "Desire for Recognition" (Haus Pengakuan)
Salah satu musuh terbesar kebahagiaan menurut buku ini adalah hasrat ingin diakui (Desire for Recognition).
Kalau hidup kamu disetir tren, kamu bakal capek ngejar pengakuan yang gak ada ujungnya. Hari ini dipuji karena sepatu baru, besok dicuekin kalau gak punya tas baru. Kamu jadi people pleaser yang lelah secara emosional.

Orang yang punya pola pikir mandiri fokusnya bukan ke "Gimana biar aku kelihatan keren?", tapi "Apa yang bermanfaat buat aku?". Mereka lepas dari penjara ekspektasi orang lain.

5. Tapi Hati-Hati, Jangan Jadi Pembenci (Contrarian Bias)
Eits, tapi ada peringatan keras nih. Jangan sampai kamu terjebak Contrarian Bias.
Apa tuh? Itu sikap nolak sesuatu cuma karena hal itu populer, tanpa alasan yang jelas. "Idih, apaan sih makanan viral, pasti sampah." Padahal nyoba aja belum.

Kalau kamu membenci sesuatu cuma karena banyak orang suka, menurut buku Berani Tidak Disukai, kamu sebenernya belum bebas. Kenapa? Karena hidup kamu masih ditentukan sama orang lain (dalam bentuk rasa benci). Kamu masih terikat sama mereka. Itu sama gak sehatnya dengan orang yang ikut-ikutan.
Kesimpulan: Kuncinya di "Mindfulness"

Jadi, harus gimana? Jawabannya klise tapi ampuh: Balance dan Sadar.

💬 Kamu gak perlu hapus Instagram atau bertapa di gua.
💬 Kalau ada tren yang positif dan kamu suka? Gas ikutan! (Ini otonomi).
💬 Kalau ada tren yang konyol dan ngerugiin? Skip aja, gak usah takut dibilang gak asik. (Ini keberanian).

Jadilah seperti yang dibilang di buku ini : Miliki keberanian untuk menjadi diri sendiri, meskipun itu artinya ada beberapa orang yang mungkin gak paham atau gak suka sama jalanmu. Hidup ini terlalu singkat buat dihabisin jadi fotokopian orang lain.

Gimana? Siap buat sedikit "tidak disukai" demi kewarasan mental kamu sendiri?

Comments