Bro and sis, Sini Duduk Dulu. Kita Ngobrol Sesuatu yang penting.
Belakangan Saya tiba-tiba jadi menaruh perhatian pada gaya teman-teman seumuran kamu kalau lagi nongkrong (yang kebetulan beberapa saya kenal orang nya). Keren-keren banget, sumpah. Di meja kafe itu pemandangannya "wah" semua. iPhone terbaru, kunci mobil atau motor keluaran terbaru, terus kopinya yang nama menunya susah disebut itu, yang harganya bisa beli nasi balap untuk 3 hari.
Sekilas, kalian terlihat sukses semua. Mapan. Dewasa.
Disisi lain mereka ini ada yang masih ngekost, ada yang ngontrak rumah dan ada yang udh punya rumah sendiri dengan KPR. Bisa jadi mereka ini sudah memiliki pekerjaan dan penghasilan yang baik dan mapan.
Saya tidak akan nge-judge mereka tapi saya ingin memberi pandangan dan saran buat kamu, dik.
Jangan sampai...
Di tanganmu ada teknologi seharga motor, Dik. Tapi di rekeningmu, boro-boro buat beli motor, buat tambal ban aja mungkin kamu mikir dua kali.
Ini bukan salah kamu sepenuhnya, saya ngerti. Tekanan zaman sekarang memang gila. Tapi ini namanya paradoks. Tampilannya elit, tapi fondasinya sulit.
Saya kasih tahu satu istilah ya, namanya HENRY. Bukan nama orang, itu singkatan: High Earner, Not Rich Yet. Penghasilan tinggi, tapi belum kaya.
Banyak teman-teman seumuran kamu kejebak di sini.
Gaji udah dua digit, udah keren, tapi miskin.
Eh, jangan marah dulu dibilang miskin. Miskin di sini bukan berarti nggak makan. Maksud saya, kamu rapuh. Kamu hidup tanpa bantalan. Gaji Rp20 juta, tapi pengeluaran Rp19,5 juta cuma buat bayar cicilan gaya hidup. Itu bahaya, Dik. Hidup kamu cuma berjarak "satu kali gaji telat" dari kehancuran.
Kamu mungkin mikir, "Ah, kan aku mampu bayar cicilannya, Bang."
Bro bro, mampu beli (atau mampu nyicil) itu beda jauh sama Kaya. HP mahal di tanganmu itu cuma bukti kamu bisa belanja. Itu bukti uangmu keluar, bukan bukti uangmu ngumpul.
Kenapa Sih Harus Segitunya?
Saya tahu, rasanya berat kalau nggak ngikutin tren. Kamu merasa dilihatin orang. "Malu dong, masa HP masih kentang."
Dengerin saran saya: Orang lain itu nggak peduli.
Serius. Orang lain itu terlalu sibuk mikirin cicilan dan masalah hidup mereka sendiri. Kita sering memiskinkan diri sendiri, kerja banting tulang, cuma buat bikin kagum orang yang bahkan kita nggak kenal di Instagram. Buat apa? Demi validasi?
Validasi itu mahal harganya, Dik. Bayarannya masa depan kamu.
Sini Belajar dari Psychology of Money
Ada satu buku yang saya baca berulang kali karena bagus banget, judulnya The Psychology of Money. Penulisnya Morgan Housel. Saya pengen kamu ngerti satu hal penting dari buku ini.
Ada bedanya Rich sama Wealthy. Bahasa Indonesianya sama-sama "Kaya", tapi maknanya beda bumi dan langit.
💸 Rich (Terlihat Kaya): Ini yang sering menipu mata kamu. Lihat orang bawa mobil sport, kamu pikir dia kaya. Padahal, Rich itu cuma permukaan. Sifatnya pamer, berisik, dan butuh pengakuan. "Rich" itu soal pendapatan yang dibelanjakan.
💸 Wealthy (Kaya Beneran): Nah, ini tujuannya. Kekayaan itu justru adalah uang yang tidak kamu belanjakan. Wealth adalah mobil mewah yang nggak kamu beli. Jam tangan mahal yang nggak kamu pakai. Uangnya kamu simpan, kamu jadiin aset, kamu jadiin dana darurat.
Morgan Housel bilang kalimat yang jleb banget:
"Wealth is what you don't see."
(Kekayaan adalah apa yang tidak kamu lihat).
Masalah anak muda sekarang, kalian menilai kesuksesan dari apa yang kelihatan. Padahal, kalau kamu punya uang 100 juta terus kamu beliin mobil 100 juta, ya kamu sekarang punya mobil, tapi kamu udah nggak punya uang 100 juta itu lagi. Uangnya hilang, Bro.
Jadi, Pesan Saya Buat Kamu..
Saya ngomong gini karena peduli, nggak mau kamu nyesal pas udah tua nanti.
Dunia bakal terus maksa kamu buat kelihatan Rich. Iklan, medsos, teman tongkrongan, semua nuntut kamu pamer. Tapi menjadi Wealthy butuh mental baja dan sikap masa bodoh.
Nggak apa-apa HP-nya nggak ganti 3 tahun, asalkan tabunganmu nambah terus.
Nggak apa-apa naik motor biasa, asalkan kamu punya dana darurat yang bikin tidur nyenyak.
Puncak kesuksesan itu bukan pamer barang, brokuu. Tapi punya kendali atas hidupmu. Bisa bangun pagi dan bilang, "Hari ini aku bebas mau ngapain aja tanpa takut dikejar tagihan."
Jadi, mumpung masih muda, saya mau tanya satu hal buat kamu renungkan malam ini :
Kamu mau "kelihatan" kaya, atau mau beneran kaya?
Kamu nggak bisa dapet dua-duanya kalau uangnya habis dipakai buat gaya. Jadilah tuan atas uangmu, bukan budak gengsimu.
Jadi ayo, mulai diberesin keuangannya. Saya percaya kamu bisa. Banyak tempat belajar sekarang ini.
Comments
Post a Comment