Lombok memang indah, tapi 'Lombok yang ada kamunya' itu beda banget rasanya | Review Music


REVIEW MUSIK: Lombok yang Ada Kamunya
Artis: BAPACKGURU (Jien Raharja / Itok The Datu)

Di balik nama panggung yang unik, BAPACKGURU, berdiri sosok Jien Raharja atau yang lebih akrab disapa Itok The Datu, vokalis dari band The Datu. Bagi penikmat musik di Nusa Tenggara Barat, The Datu sudah dikenal luas lewat karya-karya Pop Ballad berbahasa Sasak dan Indonesia yang melodius. Kini, lewat proyek solonya, Itok membawa warna yang lebih intim namun tetap mempertahankan DNA ballad yang menjadi kekuatannya.

Lagu "Lombok yang Ada Kamunya" hadir sebagai sebuah Pop Ballad manis dengan balutan lirik yang menggunakan pendekatan geographical storytelling. Itok tidak sekadar menempelkan nama lokasi, tetapi menjadikan tempat-tempat seperti Tanjung Aan, Selong, Sembalun, hingga Ampenan sebagai landmark ingatan. Seolah-olah peta pulau Lombok di lagu ini bukan digambar dengan tinta, melainkan dengan kenangan.

Namun, senjata paling mematikan dari lagu ini justru terletak pada judul yang juga menjadi inti chorus-nya: "Lombok yang Ada Kamunya".
Penggalan kalimat ini terasa sangat ear-worm, TikTok-able, dan Story-able. Potensi viralnya sangat besar, mengingat Lombok adalah salah satu ikon pariwisata Indonesia. Jutaan orang pernah datang ke pulau ini, dan banyak dari mereka pasti meninggalkan (atau membawa pulang) cerita cinta. Lagu ini cerdas mengambil celah itu; ia siap menjadi anthem atau soundtrack wajib bagi konten-konten media sosial—mulai dari video perjalanan estetik para wisatawan, hingga story galau para perantau atau mereka yang gagal move on dari pesona pulau ini (dan seseorang di dalamnya).

Kedalaman lagu ini makin terasa pada penggalan lirik:

"Tapi seperti sunset Merese saat mendung, berkurang nikmatnya."

Ini adalah metafora kelas atas. Sunset di Bukit Merese dikenal sangat magis, namun tanpa matahari, gak lengkap!. Begitu pun Lombok di mata narator lagu ini; tetap indah, tapi terasa hampa tanpa kehadiran sosok tersebut.

Meskipun dikemas dengan nada yang enak didengar, rasa-rasanya lagu ini terdengar sangat jujur—bahkan terlalu jujur. Mendengar penghayatan vokal Itok, pendengar mungkin akan tersenyum simpul sambil menduga-duga: ini sekadar lagu fiksi, atau memang "curhat colongan" pengalaman pribadi Mas Itok tentang seseorang yang pernah mengisi hari-harinya di Lombok? Hayoloo hayoo 😁

Apapun latar belakangnya, BAPACKGURU berhasil merangkum rasa rindu dan keindahan visual Lombok dalam satu paket audio yang berpotensi besar untuk melekat di telinga dan hati banyak orang.

Lagu ini punya segalanya untuk meledak di media sosial: hook yang kuat, lirik yang relate dengan banyak orang, dan visualisasi kata yang memanjakan imajinasi.

Coba berani gak tag orang yang bikin Lombok jadi susah dilupain buat kamu? 

Comments