Masih Ngaku Tau Samawa? Lagu Ini Bakal 'Menampar' Kita untuk Kembali ke Jati Diri yang Sebenarnya!

🎵 "Tau Samawa": Detak Jantung Cinta dalam Gubahan 
🎵 Ethno-Pop Kontemplatif
🎵 Artis : Iqbal Sanggo feat. Widi
🎵 Genre: Ethno Pop, Melayu, Ballad 

Musik seringkali menjadi "arkiv" (arsip) rasa dan memori kolektif sebuah peradaban. Dalam lagu bertajuk "Tau Samawa" ini, kita diajak bukan sekadar mendengar, melainkan "masuk" ke dalam ruang batin paling sunyi masyarakat Sumbawa. Menyelami Kembali identitas diri yang di era ini mulai terasa dan terlihat sekali berjaraknya. Memanggil Kembali rasa cinta dan bangga pada identitas kita sebagai “Tau Samawa” yang lahir dan tumbuh di Tana Samawa. Sebuah perpaduan Ethno Pop Ballad yang digarap dengan presisi rasa yang tinggi.

Berikut adalah ulasan mendalam mengenai komposisi musik dan kekuatan liriknya:

1. Lanskap Suara: Resonansi Cinta Iqbal Sanggo

Mendengarkan aransemen lagu ini, telinga kita langsung disambut dengan signature sound yang mengingatkan pada kekhasan karya Iqbal Sanggo (seperti dalam Sambava atau Kiak). Ada "kecerdasan kultural" yang kuat dalam setiap bunyinya.

Namun, yang menjadi salah satu nyawa lagu ini adalah bunyi Rebana. Jauh dari kesan rancak atau gegap gempita, rebana di sini ditabuh dengan tempo yang lambat dan sangat hati-hati. Ia berbunyi layaknya degup jantung seseorang yang sedang tenang,diliputi rindu yang mendalam juga dipenuhi rasa cinta yang meluap.

Setiap ketukan terasa berdenyut, memberikan efek resonansi fisik yang menggetarkan dada. Efek "degup lambat" ini menciptakan atmosfer intim yang luar biasa—seolah lagu ini tidak sedang dinyanyikan di panggung yang jauh, melainkan berbisik dan berdetak langsung di dalam rongga dada pendengarnya. Di sela-sela degup jantung rebana itu, melodi Serunai masuk menyayat halus, menyempurnakan suasana syahdu yang membawa angan terbang melintasi tanah Samawa.

2. Kedalaman Lirik: Tiga Pilar "Tau Samawa"

Musik yang menggetarkan itu menjadi wadah yang sempurna bagi liriknya yang seberat "pusaka". Bait-bait lagu ini mendefinisikan ulang apa artinya menjadi Tau Samawa (Orang Sumbawa). Ini bukan sekadar identitas keturunan, melainkan sebuah pencapaian spiritual dan sosial yang memegang tiga prioritas utama:

·        Prioritas Pertama: To’ (Tahu, Belajar, Kesadaran & Ketuhanan) Frasa "Sai To" adalah fondasi awal. Seorang Tau Samawa harus "Tahu" (berilmu). Pengetahuan inilah yang menuntun pada kesadaran membedakan yang haq dan bathil, yang bermuara pada Habluminallah: rasa takut, harap, dan cinta hanya kepada Allah SWT.

·        Prioritas Kedua: Ila’ (Integritas Moral) "Dua ke Ila’" (Kedua dengan rasa Malu). Ini adalah rem pakem dalam berperilaku. Kangila boat lenge—malu berbuat tidak baik. Rasa malu ini mencegah korupsi, kecurangan, kekerasan dan hal buruk lainnya yang bisa merendahkan diri kita sebagai makhluk Allah SWT yang diciptakan dengan penuh kesempurnaan. Ia adalah perisai harga diri.

·        Prioritas Ketiga: Saling Satingi (Egalitarianisme Semesta) Inilah puncak kesalehan sosial. Saling Satingi (saling meninggikan/memuliakan) bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi kepada seluruh makhluk ciptaan Allah. Sebuah ajaran luhur untuk hidup harmonis tanpa saling menjatuhkan.Lagu "Tau Samawa" adalah sebuah masterpiece perenungan. Kombinasi ketukan rebana yang menggetarkan—seperti detak jantung yang penuh cinta—dengan lirik yang sarat falsafah, menjadikan lagu ini lebih dari sekadar hiburan. Ia adalah doa, pengingat, sekaligus "pulang" bagi jiwa-jiwa yang merindukan kesejatian diri sebagai Orang Sumbawa.

Coba dengarkan lagunya sekarang, pakai headphone, lalu pejamkan mata. Rasakan detak rebananya. Kalau kamu merinding, berarti darah Samawa-mu sedang memanggil. Komen di bawah kalau kamu merasakannya!

Comments

Post a Comment