Seni Mengetuk Pintu Langit: Rahasia Istigfar dan Keajaiban yang Mengikutinya
Teman-teman, Pernah gak kalian merasa sudah berlari sekuat
tenaga, tapi pintu kemudahan seolah masih terkunci rapat? Atau mungkin hati
terasa sesak oleh kecemasan yang tak jelas ujung pangkalnya? Saya pribadi
sering merenung, jangan-jangan yang kita butuhkan bukan sekadar kerja lebih
keras, melainkan sebuah "pembersihan" hati. Dan kunci itu ternyata
sederhana sekali: Istigfar.
Kisah Sang Imam dan Doa di Balik Adonan Roti
Ada sebuah kisah menyentuh yang selalu berhasil membuat saya
merinding. Kisah ini tentang Imam Ahmad bin Hanbal, seorang ulama besar yang
suatu hari merasa "digerakkan" hatinya untuk mendatangi sebuah kota
tanpa alasan yang pasti.
Sesampainya di sana, karena sudah larut malam, sang Imam
ingin beristirahat di masjid. Namun, marbot masjid yang tidak mengenalinya
justru mengusirnya. Di saat beliau telantar di jalanan, seorang penjual roti
yang sederhana melihatnya dan mengajak beliau menginap di rumahnya.
Selama melayani tamu istimewanya, sang penjual roti tak
henti-hentinya bergumam, "Astagfirullah... Astagfirullah..."
Lisan dan hatinya seolah menyatu dalam irama istigfar di setiap gerakan
tangannya mengadon roti.
Sang Imam yang terkesan bertanya, "Sudah berapa lama
kau lakukan ini, dan apa yang kau dapatkan dari istigfarmu?"
Penjual roti itu tersenyum teduh. "Demi Allah, tidak
ada satu doa pun yang kupanjatkan kecuali Allah telah mengabulkannya. Semuanya,
Tuan. Kecuali satu doa yang hingga kini belum terwujud."
"Apa doa itu?" tanya sang Imam penasaran.
"Aku ingin sekali bertemu dengan Imam Ahmad bin
Hanbal."
Seketika air mata sang Imam jatuh. Beliau memeluk penjual
roti itu dan berkata, "Allah tidak hanya menjawab doamu, tapi Allah
menyeretku ke kotamu, bahkan mengusirku dari masjid hanya untuk mengantarkanku
ke depan pintu rumahmu. Akulah Ahmad bin Hanbal."
Istigfar dan Psikologi: Melepaskan Beban untuk Menarik Kebaikan
Mungkin kita bertanya, bagaimana mungkin kalimat sependek
itu bisa seajaib itu? Jika kita bedah dari sisi psikologi, istigfar sebenarnya
adalah proses berdamai dengan diri sendiri.
Saat kita mengucapkan Astagfirullah, kita sedang
melakukan mental detoxing. Kita mengakui kesalahan, melepaskan rasa
bersalah (guilt), dan membuang sampah emosi yang selama ini menyumbat
energi positif dalam diri. Dalam kondisi ini, batin kita masuk ke fase Ikhlas
dan Pasrah.
Dalam psikologi, kepasrahan bukanlah menyerah kalah,
melainkan kondisi "nol" di mana kita berhenti melawan arus takdir
yang tak bisa kita kendalikan. Saat batin tenang, otak kita bekerja lebih
jernih, dan di situlah vibrasi kebaikan, termasuk rezeki dan solusi
masalah, lebih mudah masuk ke dalam hidup kita.
Hal ini selaras banget dengan apa yang sering dibahas dalam
buku Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu. Di sana ditekankan bahwa
perasaan kita adalah doa yang sesungguhnya. Istigfar adalah cara paling ampuh
untuk menciptakan positive feeling yang murni dari dasar hati.
Ketika kita beristigfar, kita
sebenarnya sedang menata ulang getaran hati kita: Dari rasa takut menjadi rasa
aman. Dari prasangka buruk (su’udzon) menjadi prasangka baik (husnudzon).
Sesuai hukum daya tarik (Law of Attraction), energi positif akan menarik kejadian positif. Saat hati kita "bersih" dan penuh prasangka baik kepada Allah, maka alam semesta seolah bergerak menyelaraskan diri untuk memenuhi apa yang kita butuhkan. Inilah mengapa doa orang yang gemar beristigfar terasa begitu cepat "menembus" langit.
Istigfar adalah cara kita berkata, "Ya Allah, aku
lelah dengan egoku, aku bersimpuh pada rahmat-Mu." Janji Allah itu
pasti. Dalam banyak ayat, istigfar disebut sebagai pembuka keran
kemakmuran—mulai dari kelimpahan harta, keturunan, hingga kekuatan fisik yang
prima. Ia bukan sekadar penghapus dosa masa lalu, tapi juga tolak bala yang
melindungi kita di perjalanan hidup.
Jadi, teman-teman, mari kita coba mulai sekarang. Basahi
lisan dengan istigfar bukan hanya saat kita merasa salah, tapi jadikan ia
sebagai nafas harian. Rasakan bagaimana pelan-pelan hidupmu terasa lebih
ringan, hati lebih lapang, dan keajaiban-keajaiban kecil mulai berdatangan
mengetuk pintumu.
Ini Adalah dalil-dalil tentang istigfar :
وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ
Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabb-mu dan
bertaubat kepada-Nya, (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan
memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu, hingga pada waktu yang
telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai
keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sungguh aku takut,
kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat.” [Hûd/11:3]
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ
ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ
السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ
وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ
« مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ
اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ
ضِيقٍ مَخْرَجًا ، وَمِنْ
كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا ،
وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا
يَحْتَسِبُ »
"Barang siapa memperbanyak istighfar (memohon ampunan),
niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan
untuk setiap kesempitannya, dan rezeki dari arah yang tidak
disangka-sangka".


Comments
Post a Comment