Hatiku dan logika ku sedang tak sejalan rupanya. coba kau simak perdebatan mereka, kawan!
Hati :
"Aku mencintainya dengan tulus.. tapi aku tak tau apakah dia juga cinta padaku?"
Logika :
"Bagaimana mungkin bisa tahu kalau tak kau tanyakan?"
Hati :
Itulah masalahnya aku belum menanyakannya dan belum jujur tentang perasaanku?
Logika :
kalau begitu jujur dan katakan saja padanya sekarang sebelum dia di ambil orang.
Hati :
Aku
belum punya cukup nyali untuk berterus terang.. tahukah kamu?
mengungkapkan isi hati itu tak mudah. Aku lebih siap disuruh melawan
banteng mexico dari pada jujur tentang perasaanku padanya.
Logika ;
Kalo
seperti sampai kapanpun kau tak akan pernah tahu isi hatinya.apa dia
punya perasaan yang sama atau tidak kau tak akan pernah tahu.
Hati :
Iya..memang demikian tapi... aku..aku..
Logika :
terus saja dengan "tapi tapi" mu itu sampai nanti kau lihat dia sedang bergandnegan tangan bahagia dengan orang lain.
Hati :
Tahu
kah kau? Aku mencintainya. bukan sekedar menginginkannya. Aku yakin
kau tak akan bisa mengerti yang ku rasakan. Aku mencintainya tanpa
peduli aku terluka. Aku mencintainya karena aku ingin semua yang
terbaik di dunia ini untuknya, entah apapun itu. Bahkan jika nanti dia
bergandengan tangan bahagia dengan lelaki lain aku akan bahagia
untuknya. karena aku mencintainya. Aku mencintainya bukan sekedar
menginginkannya.Dengan atau tidak bersamaku asal dia bahagia aku akan
bahagia. Terlebih lagi jika dia bersamaku. Semua hal terbaik yang ku
miliki dan ku bisa akan ku berikan untuknya.
Logika :
Hmmm
Omong kosong! Kau jelas membutuhkannya. Memnginginkannya ada untukmu,
mencintaimu dan hidup denganmu. sudahlah sudahi "tapi" mu itu.
Beritahukan perasaanmu padanya.
Hati :
Aku
akan mengatakannya. Tapi pada saat yang tepat. Pada saat dia sedang
tersenyum bersama hari-harinya. Saat dia sedang nyaman dengan
perasaannya hari itu. Saat itulah aku akan mengungkapkan semuanya. Bahwa
aku telah lancang mencintainya. Bahwa akibat kelancangan itu aku telah
di dera pikiran dan perasaan yang selalu tertuju padanya. Atas
kelancangan itu hari-hariku menjadi seperti menjadikannya candu. Aku
kecanduan melihatnya, mengetahui kabarnya atau menyebut namanya atau tak
bisa memejamkan mata hampir setiap malam karena mengkhawatirkannya.
Kau tahu? aku bahkan khawatir jika seekor nyamuk menggigit kulitnya.
Ahh..
Logika :
Sudahlah.. kau memang lamban, terlalu dramatis dan melankolis. Kita hampir saja taks sejalan.
Hati :
Hmm..kau
tak akan pernah mengerti indahnya sensasi cinta yang meletup-letup
dalam jiwa. Kau terlalu ambisius. ingin semua berjalan instan dan serba
cepat. Ini Indah.. rindu itu.. rasa cinta itu begitu lezat saat kau
merasakannya.
Logika :
Semakin cepat semakin jelas dan lebih baik bukan? Sudahlah, kau memang Bodoh!
Hati :
Tak ada yang terlambat bagiku dalam hal cinta. Dia tahu atau tidak, aku tetap mencintainya dengan ikhlas.
Aku memilih untuk membuka kembali salah satu Novel Harper Lee di rak bukuku. Membacanya sambil tidur-tiduran. Menunggu serangan kantuk melumpuhkan arogan-nya logikaku dan keuh keuh-nya hatiku. Agar aku sedikit tenang malam ini. Disela-sela aku membaca, hati berbisik gelisah
"Kenapa dia tak membalas sms-ku?""Jelas saja dia sudah tidur pulas! Ini sudah jam satu malam, asal kau tahu!" Logika tiba-tiba saja muncul.
Haaahh... sudahlah. Biarkan aku tenang!
Diam!
Kamar kostku- Mataram, 14 Maret 2011, 01.08 am
Comments
Post a Comment