Pagi itu, langit Mataram cerah. Tapi di halaman TVRI NTB, suasana justru lebih dari sekadar cerah—penuh semangat, dan... cukup reflektif. Acara "Antar Nusa: Waspada Gagal Ginjal – Kenali Gejala, Cegah Sejak Awal" resmi dimulai pukul 09.00 WITA.
Aku, bersama Sisca Olivia, dipercaya jadi pembawa acara. Sambil membuka rundown, aku menyadari satu hal: kita sering membicarakan soal hidup sehat, tapi jarang betul membahas ginjal secara serius. Organ mungil yang kerja diam-diam, tapi ketika rusak, suaranya lebih nyaring dari sekadar keluhan.
"Ginjal Bekerja Saat Kita Tidur dan Lupa"
Di segmen pertama, kami berdialog hangat dengan dr. Yasa
Asmara, dokter spesialis penyakit dalam sekaligus konsultan ginjal, dan Bapak
Abdullah, SKM, Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Wilayah NTB
yang hari itu datang di segmen akhir karena ada hal lain yang harus
diselesaikan.
Ada satu kalimat yang bikin aku diam cukup lama:
“Ginjal itu kerja 24 jam, menyaring darah kita sampai 300
kali sehari. Tapi tetap saja, kita sering perlakukan dia seperti pembantu
tak bergaji.”
Obrolan yang Harusnya Kita Dengar Sejak Lama
Selama 15 menit dialog utama, banyak hal penting
dibahas—tapi yang paling membekas adalah soal gejala awal gagal ginjal
yang sering diabaikan:
- Tubuh
mudah lelah dan lemas
- Bengkak
di kaki dan wajah
- Kencing
berkurang atau berbusa
- Tekanan
darah tiba-tiba tinggi
- Mual,
muntah, dan nafsu makan menurun
Kita sering menyangka itu cuma efek begadang atau kurang makan. Padahal itu alarm tubuh. Dan yang bikin hati makin nyesek: Banyak pasien datang ke rumah sakit saat ginjal sudah rusak 70-80%. Karena ginjal itu, sayangnya, terlalu sabar. Ia bekerja diam-diam tanpa minta perhatian.
Ginjal dan Gaya Hidup Kekinian: Nggak Cocok!
Gaya hidup kita hari ini, jujur aja, kurang bersahabat buat
ginjal: Fast food tiap minggu bahkan tiap hari, Minuman manis dan berwarna
hampir tiap hari, Obat sembarangan tanpa resep, Makanan asin, pedas, gurih =
guilty pleasure. Padahal semua itu bikin ginjal kerja lembur. Dan ya, ginjal
nggak bisa komplain langsung. Tapi ketika rusak, gantinya mahal—baik secara
uang, waktu, maupun kualitas hidup.
Setelah acara selesai, bahkan seetelah di rumah masih terngiang penjelasan dokter Yasa tadi. Kita hidup sehat saja kemampuan dan daya kerja ginjal bisa terus turun karena usia yang terus bertambah nah apalagi ditambah dengan beban berat yang kita kasi, dengan perilaku makan dan hidup yang tidak sehat. Tentu ini akan mempercepat kerusakannya. Jadi mulai sekarang udah wajib banget mikir gimana caranya kita mulai jaga ginjal, tanpa nunggu ada masalah dulu?
Karena faktanya, ginjal nggak bisa diganti dengan motivasi doang.Sekali rusak, bisa berujung pada cuci darah rutin seumur hidup.
Dan yang terpenting: sering-seringlah dengar tubuh sendiri. Karena Kalau Ginjal Bisa Bicara… mungkin dia bakal bilang:
“Aku nggak butuh banyak. Cuma tolong jangan abaikan aku.”
Dari balik layar TV, dari balik acara formal, aku ingin bawa
pesannya ke kamu yang baca ini: Jangan tunggu sakit baru peduli. Jangan tunggu
rusak baru bertanya, Karena sehat itu bukan soal usia, tapi soal keputusan. Dan
menjaga ginjal? Salah satu keputusan terbaik yang bisa kamu ambil hari ini.
Ditulis di tengah secangkir air putih, bukan kopi susu.

Comments
Post a Comment