Ketika 'Ahli Sains' Lupa Siapa yang Bikin Hukum Alam!


Kalau kita atau siapa pun nyoba nilai Isra' Mi'raj murni pakai kacamata sains doang, sebenarnya kita lagi ngalamin bug berpikir yang cukup fatal. Lucunya, ada aja yang sok-sokan nge-judge peristiwa agung ini sebagai "omong kosong" gara-gara nggak masuk akal sama hukum fisika jaman batu. Padahal, argumen model begitu justru nunjukin gagal paham kronis soal konsep Tuhan dan sains itu sendiri.

Biar lebih make sense, mari kita bedah bareng-bareng pakai cara pandang yang santai deh tetap on point:

1. Nyamain Hukum Alam sama yang Bikin Hukum Alam (Salah Server!)
Kesalahan paling telak dari pandangan materialis itu adalah memutlakan hukum alam (sunnatullah) terus dipakai buat nge-batesin kuasa Allah SWT.

Gravitasi, kecepatan cahaya, dan rumus fisika lainnya itu emang diciptain Tuhan biar bumi stabil dan kita bisa hidup nyaman. Tapi, ya kali Sang Pencipta hukum malah ikutan terikat sama aturan buatan-Nya sendiri?. Ibaratnya, developer game ngebuat aturan sistem mainnya, tapi dia kan punya akses admin mutlak yang bisa kapan aja nge-bypass atau ngubah aturan itu. Kalau Allah yang nyiptain ruang dan waktu dari nol, otomatis ngelipat ruang-waktu dalam sekejap ya perkara kecil buat-Nya.

2. Sains Itu Ngurusin yang Empiris, Bukan Nge-judge yang Ghaib
Buat kita yang ngaku ngerti sains atau medis, nolak hal metafisik pakai alibi "nggak kelihatan di lab" itu namanya category mistake alias salah kamar!

Sains itu kerjanya di ranah empiris: yang kelihatan, bisa diukur, diuji, dan diulang (reproducible). Nah, kalau ada fenomena di luar nalar indra manusia, harusnya sains bersikap jujur dengan bilang, "Alat ukur kita yang belum nyampe," bukan malah ngegas bilang, "Itu pasti nggak ada!"

Nolak sesuatu cuma gara-gara nggak muat di rumus fisika harian tuh sama aja kaya nge-dogma diri sendiri.

3. Ini Bukan Soal Manusia Canggih, tapi Kuasa Tuhan yang Tak Bertepi
Nyamain Isra' Mi'raj sama aksi "manusia jaman batu pergi ke langit" itu jelas offside banget. Nabi Muhammad SAW itu nggak lagi ikutan astronot, nggak pakai baju antariksa, atau ngerakit roket buat nembus lapisan atmosfer.

Beliau berangkat murni atas kehendak mutlak, kuasa, dan fasilitas VIP langsung dari Allah SWT, ditemani Buraq serta Malaikat Jibril. 

Intinya bukan seberapa hebat manusia, tapi seberapa tak terbatas kuasa Tuhan. Kalau Allah udah berkehendak "Kun Fayakun" (Jadilah, maka jadilah), hukum fisika mana pun pasti auto tunduk.

Makanya, Nolak mukjizat pakai logika materialistik mentah-mentah itu ibarat semut yang sok tahu soal luasnya samudra cuma karena dia nggak bisa berenang. Di hadapan Sang Maha Pencipta, batas mustahil manusia itu nggak ada apa-apanya. Buat kita yang mau mikir jernih dan hatinya terbuka, Isra' Mi'raj itu bukti telak kalau kekuasaan Allah jauh melampaui batas imajinasi manusia sekecil apa pun itu.

Dah gitu aja! 

Comments