Orang tua dulu bilang, "Sedia payung sebelum hujan." Dan jujur, makin ke sini saya makin ngerti maknanya. Karena hidup tuh gak cuma soal bertahan dari derasnya hujan, tapi juga soal punya cukup payung biar gak basah kuyup pas hujan datang.
Nah, ngomong-ngomong soal payung, saya jadi ingat satu buku keren yang bikin kepala manggut-manggut dan dompet langsung pengen dikunci —
“The Psychology of Money” karya Morgan Housel.
Morgan bilang,
“Doing well with money has little to do with how smart you are and a lot to do with how you behave.”
Artinya?
Soal uang tuh bukan cuma soal seberapa pintar kita ngitung, tapi soal pola pikir dan kebiasaan kita setiap hari.
Dan ini ngena banget buat saya yang bukan ahli finansial, tapi cuma pengen jadi ayah yang gak panik pas anak-anak mulai masuk sekolah.
Saya percaya:
Lebih baik nyicil nabung daripada nyicil gaya.
Karena pendidikan anak itu bukan kejutan.
Kita tahu waktunya. Kita tahu besarnya.
Tapi sayangnya, kadang kita pura-pura lupa sampai semuanya udah di depan mata.
Morgan juga bilang:
“Saving is the gap between your ego and your income.”
Maksudnya?
Kalau gaya hidup kita selalu mau lebih tinggi dari penghasilan, ya gak bakal bisa nabung.
Dan kalau gak punya tabungan? Ya tiap hujan datang, kita kalang kabut nyari pinjaman. Makanya saya pilih rem gaya, gas tabungan.
Saya tahu saya gak bisa kontrol ekonomi negara, harga sekolah, apalagi biaya masuk kuliah 15 tahun ke depan. Tapi yang bisa saya kontrol adalah: seberapa banyak saya mau tahan beli barang yang gak penting, seberapa sering saya milih ngopi di rumah daripada di kafe dan seberapa niat saya buat nyiapin masa depan anak-anak dengan uang receh yang saya kumpulin pelan-pelan.
Karena kata Morgan lagi:
“Wealth is what you don’t see.”
Orang kaya beneran tuh bukan yang kelihatan pakai jam mahal, HP terbaru, atau makan di resto tiap weekend. Tapi yang punya tabungan cukup, investasi jalan, dan tenang saat badai datang.
Jadi... kita mau jadi kaya yang kelihatan?
Atau kaya yang beneran punya payung pas hujan datang?
Saya sih, milih yang kedua.
Karena tujuan saya bukan kelihatan mapan, tapi bisa bilang ke anak saya nanti:
“Iya, Nak... Ayah udah siapin. Tinggal kamu fokus belajar.”
Itu mimpi sederhana. Tapi butuh kesadaran besar. Dan itu semua dimulai dari cara kita memandang uang, hari ini.

Comments
Post a Comment