Mandalika : Janji Yang Ditagih Laut (Bagian 3)


Bagian 3 — TUJUH PANGERAN & PENJARA KUTUKAN

Waktu berjalan, dan Putri Mandalika tumbuh menjadi sosok yang membuat siapa pun menoleh hanya dengan kehadirannya. Wajahnya memancarkan ketenangan, suaranya lembut seperti angin laut pagi hari. Setiap kali ia berjalan melalui pasar Sekar Kuning, anak-anak berlari menghampirinya, dan para ibu membungkuk penuh hormat.

Ia tersenyum — tetap tersenyum — seolah tidak ada apa pun yang menghantuinya setiap malam. Namun semakin ia tumbuh dewasa, semakin banyak lamaran yang datang, dan tidak satu pun dari lamaran itu datang dengan niat baik.

Pangeran dari Barat membakar dermaga Sekar Kuning hanya untuk memastikan ia tiba lebih cepat dan memaksa audiensi dengan sang Putri.

“Seorang perempuan seperti Mandalika tidak boleh dimiliki oleh kerajaan lain.”

Pangeran dari Utara menyerang rombongan utusan lain, membantai mereka di jalan hanya karena takut kalah kesempatan bertemu lebih dulu. Tubuh utusan ditemukan terapung di sungai, diapit teratai layu.

Pangeran dari Timur datang dengan rombongan besar, membawa hadiah emas dan permata. Namun ketika Mandalika menolak bertemu, ia menghancurkan satu desa yang sedang panen, menginjak tanaman yang baru tumbuh sambil berteriak :
“Jika aku tidak mendapatkannya, tidak ada yang mendapatkannya!”

Istana dipenuhi dengan kabar buruk, teriakan, dan tangisan rakyat. Udara Sekar Kuning yang biasanya tenang berubah menjadi penuh ketakutan. 

Dan anehnya…
Raja bangga.
Ia berdiri di balkon, melihat bendera-bendera kerajaan asing berkibar di kejauhan, tersenyum seperti pemenang.

Mandalika menahan napas. 
Ia ingin berteriak: “Ini bukan berkah. Ini adalah harga dari perjanjianmu.” Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan, seperti duri.

***

Malam hari, ketika semua orang tertidur, Mandalika berdiri di depan cermin besar berbingkai kayu jati. Lilin yang ia nyalakan bergetar karena angin—atau mungkin karena sesuatu yang lain.

Asap lilin membentuk garis tipis di udara. Cermin mulai berkabut. Sosok perempuan itu muncul perlahan dari pantulan—pertama rambut panjang basah, lalu mata gelap, lalu kulit pucat seperti kertas yang direndam air. 

Mandalika mundur, napasnya terputus. Tubuhnya bergetar ketakutan.
“Mengapa aku?” suara Mandalika hampir tidak terdengar.

Sosok itu tersenyum. Senyum yang terlalu lebar untuk wajah manusia.  
Kata itu — persembahan — merobek hati Mandalika lebih dalam daripada pedang mana pun. Mandalika jatuh berlutut. Tangannya menutupi telinga, mencoba mengusir suara itu.

“Aku… tidak meminta ini.”

Sosok itu condong ke depan, mendekat, wajahnya hanya sejengkal dari wajah Mandalika.

“Ayahmulah yang meminta.”

***

Sejak malam itu, Mandalika tidak pernah tidur tanpa mimpi buruk. Namun keesokan paginya, tidak ada yang berubah pada dirinya di mata rakyat.  Ia tetap menyapa pedagang pasar dengan ramah, membantu ibu-ibu mengangkat bakul beras, mengusap kepala anak-anak yang berlari memanggil namanya, turun langsung ke ladang membantu rakyat mengikat hasil panen. Bahkan ketika matanya sembap karena tidak tidur, ia tetap tersenyum.

Raja melihat itu sebagai kesempurnaan seorang putri. Rakyat melihat itu sebagai kehangatan seorang calon pemimpin. Tidak ada satu pun yang melihat apa yang sebenarnya terjadi : tanda merah di pergelangan tangan yang muncul entah dari mana, rambut Mandalika yang sering basah meski ia tidak pernah keluar malam, atau jejak air asin di lantai kamarnya setiap subuh. Yang mereka lihat hanyalah putri mereka.Yang tersenyum.Yang kuat. 
Yang mereka banggakan. Mereka tidak tahu bahwa Mandalika bukan dicintai oleh dunia luar.

Ia diburu.
Dan setiap langkah pangeran yang datang bukanlah langkah cinta, tapi langkah dari perjanjian gelap yang bergerak semakin dekat.

Awalnya hanya surat.
Lalu hadiah.
Lalu ancaman.
Hingga akhirnya — darah.

Itu bukan lamaran.
Itu deklarasi perang.

“Lihatlah, Mandalika,” katanya sambil membelai rambut putrinya,
“kerajaan-kerajaan besar saling berebut hanya untuk memilikimu. Kau adalah berkah atas doaku.”

“Mereka membunuh bukan karena cinta,”  bisiknya, suaranya seperti tulang yang bergesekan.
“Mereka membunuh karena aku.”

“Kau adalah hutang yang harus dibayar.”
“Kau adalah persembahan.”

***

Bagian 4 : PENGAKUAN

Comments