Luka 'Fatherless': Benarkah Absennya Ayah Jadi Pemicu Perilaku Menyimpang di Masa Dewasa?


Indonesia sering dijuluki sebagai Fatherless Country. Bukan karena para ayah tidak ada secara fisik, tapi karena kehadiran mereka sering kali sebatas "penyambung napas ekonomi" tanpa keterlibatan emosional. Padahal, bagi seorang anak, ayah adalah jendela pertama untuk melihat dunia luar. Jika jendela itu buram atau tertutup rapat, anak akan kehilangan arah dalam memandang dirinya sendiri.

1. Dampak Psikologis: Nakhoda Tanpa Kompas dan Haus yang Tak Padam

Secara ilmiah, ketiadaan peran ayah bukan sekadar urusan "kurang perhatian", tapi berdampak pada struktur mental anak hingga dewasa.

  • Bagi Anak Laki-laki: Ayah adalah blueprint (cetak biru) maskulinitas yang sehat. Tanpa figur otoritas yang suportif, anak laki-laki sering kali sulit mengambil keputusan dan kehilangan identitas diri. Penelitian dari Psychology Today menyebutkan bahwa mereka cenderung mencari validasi di tempat yang salah. Fenomena perilaku menyimpang atau krisis identitas yang marak saat ini, sering kali berakar dari upaya "instan" untuk merasa diterima karena tidak adanya pengakuan dari sang ayah.
  • Bagi Anak Perempuan: Ayah adalah standar pertama tentang bagaimana seorang pria seharusnya memperlakukannya. Tanpa kasih sayang ayah, muncul apa yang disebut low self-esteem. Mereka cenderung "haus" akan afeksi, sehingga sulit membedakan mana perhatian yang tulus dan mana yang manipulatif saat beranjak dewasa.

2. Perspektif Islam: Ayah sebagai Penjaga Akidah

Dalam Islam, peran ayah sangatlah sentral. Al-Qur'an justru lebih banyak mengabadikan dialog antara ayah dan anak (seperti kisah Luqman Al-Hakim atau Nabi Ibrahim) daripada ibu dan anak. Ayah bukan sekadar pelengkap, melainkan:

  • Imam dan Ra’in: Pelindung yang bertanggung jawab atas keselamatan mental dan spiritual keluarga (QS. At-Tahrim: 6).
  • Pemberi Identitas: Secara nasab, anak dinisbatkan kepada ayahnya. Ini adalah simbol bahwa ayah adalah akar sejarah dan harga diri bagi si anak.

3. Sebuah Paradoks: Belajar dari Rasulullah SAW dan Nabi Ismail AS

Mungkin kita bertanya: "Jika peran ayah begitu vital, mengapa manusia terbaik seperti Rasulullah lahir yatim? Dan mengapa Nabi Ismail tetap tumbuh mulia padahal ditinggal ayahnya bertahun-tahun?"

Jawabannya logis dan menenangkan: Kualitas "Kehadiran" jauh lebih penting daripada sekadar "Keberadaan" fisik. Di sinilah peran krusial Storytelling sang Ibu dan sistem pendukung lingkungan bermain.

  • Narasi Cinta Siti Aminah: Rasulullah SAW tidak pernah melihat Abdullah, namun Ibundanya, Siti Aminah, tidak membiarkan sosok Abdullah "mati" di hati Muhammad kecil. Aminah membangun citra bahwa ayahnya adalah pria mulia dan jujur. Inilah Positive Image Planting. Ditambah lagi kehadiran Kakek (Abdul Muthalib) dan Paman (Abu Thalib) yang memberikan teladan maskulinitas, sehingga kebutuhan psikologis akan figur ayah tetap terpenuhi.
  • Visi Besar Siti Hajar: Nabi Ismail ditinggal di lembah gersang, tapi Siti Hajar selalu menanamkan narasi positif: "Ayahmu pergi karena perintah Tuhan, dia orang hebat." Saat Nabi Ibrahim datang sesekali, kualitas interaksinya sangat tinggi (Deep Talk). Mereka membangun Ka'bah bersama. Ismail tumbuh hebat karena ia mengagumi "narasi" ayahnya yang dijaga dengan baik oleh ibunya.

4. Luka Batin dan Realita Hari Ini

Masalah besar hari ini adalah banyaknya "Fatherless in Home"—ayah yang fisiknya ada di rumah, tapi jiwanya tidak hadir. Mata di layar ponsel, tapi hati tidak menyentuh anak.

Lebih miris lagi jika terjadi konflik, sang ibu justru menghancurkan citra ayah di depan anak ("Lihat tuh ayahmu, nggak berguna!"). Secara psikologis, saat ibu merusak citra ayah, ia sedang menghancurkan "pahlawan" di dalam jiwa anaknya sendiri. Inilah yang memicu luka batin mendalam yang sering kali meledak dalam bentuk perilaku menyimpang di masa remaja dan dewasa.

***

Luka fatherless bisa disembuhkan melalui kesadaran. Bagi kita yang dewasa, langkah pertamanya adalah berdamai dengan masa lalu dan mencari "figur ayah" positif melalui mentor atau lingkungan yang sehat.

Sedangkan bagi para ayah, ingatlah: Anakmu tidak butuh pahlawan super. Mereka hanya butuh ayah yang "hadir"—yang mau mendengar tanpa menghakimi, dan memeluk tanpa diminta. Sebab, setiap kata-katamu adalah batu bata yang sedang menyusun pondasi masa depan mereka.

 

Comments