Menanti Giliran Pulang: Antara Bekal, Rindu, dan Kalimat Terakhir


Di Ambang Ramadan: Sebuah Renungan Tentang "Pulang" dan Bekal
(Sebuah Rangkuman Kajian, 3 Februari 2026)

Malam ini, di tengah hangatnya majelis yang Allah pilihkan untuk kita, terselip sebuah kesadaran yang menghentak. Tanpa terasa, kita telah melewati pertengahan bulan Syaban. Hitungan mundur menuju Ramadan kini tinggal menyisakan belasan hari. Pertanyaannya bukan hanya "kapan puasa dimulai?", melainkan "apakah usia kita akan sampai ke sana?"
Duh, agak agak ovt kan jadinya 😁

Misteri Jatah Usia
Diskusi malam ini terasa lebih deep saat kita mengingat kembali saudara, kerabat, dan rekan yang baru saja berpulang. Mulai dari sahabat yang mendadak dipanggil saat sedang tes kesehatan, ketika melahirkan, setelah berjuang melawan penyakitnya, hingga sosok-sosok yang lekat dalam ingatan kita. Kematian menyapa tanpa melihat riwayat medis, tanpa memandang usia muda atau tua.
Berita-berita duka ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sinyal kasih sayang Allah agar kita sadar: kita sedang antre menunggu giliran.

Menanti di Ruang Tunggu yang Panjang
Kita diajak merenung tentang konsep waktu. Bayangkan, Rasulullah SAW dan para sahabat telah menanti di alam barzah selama lebih dari 1.400 tahun. Bagi orang saleh, ribuan tahun itu terasa singkat bak tidurnya pengantin baru. Kebayang kan gimana syahdu nya? 
Oh iya lupa, masih ada yang belum jadi pengantin, ya? Hihihi

Namun bagi yang lalai, penantian itu adalah siksaan yang teramat panjang, belum lagi dahsyatnya hari di Padang Mahsyar kelak.
Di masa penantian yang sunyi dan sepi sendiri itulah, kita butuh "sahabat". Sahabat itu bernama Amal Jariyah. Contoh amal jariyah adalah Wakaf, ilmu yang bermanfaat, sedekah sumur bor (misalnya), hingga didikan kepada anak-anak agar menjadi saleh—itulah support system sejati yang akan menemani kita saat semua orang meninggalkan kita sendirian di liang lahat.

Ramadan adalah Stasiun Pengisian Jiwa
Sekarang, Ramadan sudah di depan mata. Maka itu ayo kita jadikan bulan suci ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum untuk "nge-cas" iman secara total. 
Jika baterai iman kita terisi penuh di bulan Ramadan, energinya akan cukup untuk menghidupkan hati kita selama satu tahun ke depan. Jangan sampai kita justru disibukkan dengan hal-hal duniawi seperti baju lebaran dan lainnya di detik-detik akhir Ramadan yang berharga yang seharusnya kita pakai untuk lebih dan lebih giat berinadah. Persiapkanlah bekal itu dari sekarang, agar nanti kita bisa fokus bercengkrama dengan Allah.

Karena pada akhirnya,seluruh perjalanan hidup ini bermuara pada satu harapan: Husnul Khotimah.
Kita berdoa agar kelak, kalimat terakhir yang membasahi lisan kita bukanlah keluhan duniawi, melainkan "Laa ilaha illallah". Dan jika kita kelak mendampingi orang yang sakaratul maut, bimbinglah mereka dengan lembut menuju kalimat tauhid ini, biarkan itu menjadi kata penutup, kunci surga mereka.

Semoga Allah sampaikan usia kita ke bulan Ramadan, melembutkan hati kita untuk menerima nasihat, dan menjaga kita dalam ketaatan hingga akhir hayat.
Wallahu a'lam bishawab.

Comments