Teman-teman, Pernah nggak sih, tiba-tiba kita merasa badan linu-linu, tensi naik, atau bahkan mendengar vonis penyakit yang bikin deg-degan, lalu buru-buru menyalahkan makanan kemarin? “Duh, gara-gara semalam aku kebanyakan makan gorengan nih!” atau “Pasti gara-gara gula nih.”
Emang betul, apa yang kita masukkan ke mulut itu ngaruh.
Tapi, pernah nggak kita sejenak bertanya: kenapa sih kita
ngidam makanan-makanan itu? Kenapa kita susah banget ngerem pola makan yang
nggak sehat?
Kalau kita kulik lebih dalam, urusannya ternyata bukan
sekadar soal perut yang lapar, tapi tentang hati yang sedang haus.
Ketika Piring Makan Menjadi Pelarian
Banyak banget penyakit modern mulai dari kolesterol, darah
tinggi, stroke, sampai masalah organ dalam yang akarnya ternyata bersembunyi di
dalam emosi kita. Orang yang gampang banget melampiaskan stres ke makanan manis
atau berminyak, sering kali bukan karena kurang kenyang, tapi karena kurang
cinta, kurang penghargaan, atau merasa tidak dihargai.
Kita mencari pelarian. Makanan manis jadi kompensasi rasa
sepi. Makanan berlemak jadi "temen setia" waktu lagi merasa teraniaya
atau capek sama keadaan.
Tanpa sadar, tubuh kita sedang memikul beban emosi yang
menumpuk. Kerasnya hati yang menolak memaafkan, dendam yang dipelihara, atau
rasa kesal yang dipendam rapat-rapat, semuanya itu diam-diam menggerogoti fisik
kita dari dalam. Nggak heran kan, kalau hipertensi, jantungan, dan
penyakit-penyakit berat lainnya sering datang dalam satu paket sama emosi yang
kurang 'bersih'?
"Obat" Paling Murah yang Sering Kita Lupa
Kabar baiknya, kalau akar masalahnya ada di hati, maka obat
utamanya juga harus dimulai dari hati. Bukan cuma sibuk cari suplemen mahal
atau sibuk diet ketat, tapi kita perlu "merawat" batin kita setiap
hari.
Bagaimana caranya? Sederhana banget, tapi butuh komitmen:
- Perbanyak
Istigfar: Istigfar itu bukan cuma ucapan ritual. Istigfar adalah cara
kita merendahkan hati, mengakui segala khilaf (termasuk khilaf kita
memperlakukan tubuh sendiri), dan melepaskan beban emosi negatif. Semakin
sering kita beristigfar, hati yang tadinya keras dan penuh sesak bakal
pelan-pelan melunak. Dan percaya deh, hati yang lembut adalah obat mujarab
buat hipertensi serta ketenangan jiwa.
- Belajar
Memaafkan: Sering kali kita merasa tersakiti, lalu bersumpah untuk
tidak memaafkan. Padahal, menolak memaafkan itu sama saja seperti minum
racun tapi berharap orang lain yang sakit. Orang yang enggan memaafkan
sebenarnya sedang memikul beban kesombongan, merasa dirinya paling benar.
Padahal, melepaskan dan memaafkan adalah tiket utama untuk hidup yang
bebas dari penyakit fisik yang dipicu stres kronis.
- Mulai
Berbagi (Sedekah): Sifat pelit atau bakhil itu ternyata juga penyakit
jiwa. Dan Nabi kita sudah ngasih resep mujarabnya: sedekah. Berbagi,
bahkan dari hal kecil yang kita punya, melatih jiwa kita untuk ikhlas dan
nggak terlalu mencintai dunia secara berlebihan.
Tubuh kita ini amanah. Tapi sering kali kita terlalu sibuk merawat penampilannya, sibuk memilih makanan organik paling mahal, tapi lupa membersihkan "rumah" tempat jiwa kita tinggal yaitu hati.
Mulai sekarang, yuk coba check-in ke diri sendiri. Lagi ada
rasa jengkel apa yang belum dimaafkan? Lagi ada beban apa yang terus dipendam?
Yuk, ringankan langkah dengan perbanyak istigfar, belajar
berlapang dada, dan lepaskan semua gengsi serta rasa sakit hati. Karena pada
akhirnya, tubuh yang sehat dan bugar itu bukan cuma buah dari apa yang kita
makan, tapi ketenangan dari hati yang ikhlas dan penuh cinta.

Comments
Post a Comment