Tidak Ada Masa Lalu Yang Benar-benar Selesai


Tidak ada yang benar-benar selesai di masa lalu.
Semua meninggalkan jejak, membawa dampak entah itu baik atau buruk bagi hari ini, bahkan hari esok. Ambil contoh yang paling sederhana. Waktu kecil, saya selalu lari ketakutan setiap kali orang tua hendak membantu mencabut gigi susu yang sudah goyang demi memberi ruang bagi gigi permanen. Akibatnya, gigi saya tumbuh bertumpuk dan berantakan.

Seiring waktu, saya tumbuh menjadi remaja hingga dewasa dengan susunan gigi bawah yang meruntuhkan rasa percaya diri. Puncaknya, di usia pertengahan tiga puluhan, ketidaknyamanan itu semakin nyata karena tuntutan pekerjaan di depan banyak orang dan di depan kamera. Saya pun terpaksa mendatangi dokter gigi, yang akhirnya mengharuskan tindakan pencabutan dan pemasangan implan dengan biaya yang tidak sedikit. Pengeluaran besar yang tak terduga itu berakar dari satu hal sepele di masa lalu, sebuah masalah kecil yang enggan saya selesaikan tiga dekade silam.

Itu baru urusan gigi.
Lalu, bagaimana dengan luka perasaan, trauma, atau masalah psikis masa lalu yang kerap kita abaikan, yang sengaja tidak kita akui, dan dibiarkan menggantung begitu saja? Dampaknya tentu jauh lebih besar, bahkan membentang sepanjang hidup.

"Jika gigi yang berantakan sejak kecil saja sanggup menyita waktu, tenaga, dan biaya di masa kini, jangan pernah menganggap remeh urusan hati dan pikiran. Justru di sanalah letak akar yang paling memengaruhi pertumbuhan diri, baik secara fisik maupun psikis."

Situasi ini menjadi sangat berbahaya ketika dibiarkan tanpa kesadaran dan tanpa penyelesaian. Karakter yang tadinya hangat bisa perlahan berubah menjadi defensif dan negatif. Seseorang yang memendam luka batin dan trauma menahun tanpa pernah disembuhkan lambat laun bisa tumbuh menjadi pribadi yang minder, antisosial, penuh curiga, mudah marah, hingga menjadi sumber masalah bagi lingkungannya.

Selain diri sendiri, siapa yang paling merasakan hantamannya? Tentu saja orang-orang terdekat: orang tua, suami atau istri, serta anak-anak tercinta. Selama luka itu bungkam dan tidak disembuhkan, selama itu pula lingkaran masalah akan terus berputar, bahkan bertransformasi menjadi luka warisan bagi anak cucu. Tanpa disadari, perilaku dan pola pikir dari luka batin yang tak terselesaikan akan menurun pada generasi berikutnya, mewariskan beban yang seharusnya berhenti di tangan kita.

Itulah sebabnya, ketika kita mendapati seseorang di sekitar kita hari ini menunjukkan perilaku yang menjengkelkan, kerap marah-marah, menutup diri, atau menebar masalah, cobalah melangkah lebih dekat. Beri ia ruang untuk bercerita tentang dunianya. Memang bukan perkara mudah, namun setidaknya kita menjadi tahu bahwa di balik setiap perkataan dan tindakan yang menyakitkan, selalu ada luka yang belum kering atau trauma masa lalu yang belum usai.

Bantu ia menyadari keberadaan luka itu, temukan titik sakitnya, lalu dampingi untuk berproses pulih bersama atau arahkan pada pertolongan ahli.
"Sebab pada akhirnya, apa yang terjadi di masa lalu tidak pernah benar-benar selesai sampai kita sendiri yang menyelesaikannya."

Comments