Dari Tiongkok ke Tanah Sasak: Kisah Hidup yang "Diseduh" di Hok Kian Kong Hwee


Mataram adalah salah satu Kota yang menyimpan banyak sejarah masa lalu yang beberapa bukti fisik sejarahnya masih biwa kita lihat hingga saat ini. Salah satunya Kota Tua Ampenan

Jika teman-teman berjalan-jalan di Jalan Koperasi di Ampenan, suasananya tuh langsung kerasa beda. Di antara sisa-sisa bangunan kolonial yang mulai lelah dimakan usia, ada satu fasad yang bikin kita kayak otomatis ngerem.
 
Gedungnya tenang, tapi auranya berat banget, kayak nyimpen sejuta memori yang sengaja dibiarin diam. Itulah gedung Hok Kian Kong Hwee.

Coba kita flash back ke akhir abad ke-19. Ampenan waktu itu bukan cuma kota pesisir biasa; dulu Ampenan adalah salah satu titik paling liar dan hidup di Nusa Tenggara. Pelabuhannya sibuk minta ampun. Kapal-kapal layar dari berbagai penjuru samudra silih berganti buang sauh, nurunin rempah, kain, sampai orang-orang asing yang matanya berbinar campur cemas. Di antara kerumunan itu, ada gelombang manusia berdatangan dari Fujian, Tiongkok, masyarakat Hokkien yang nekat menyeberang lautan luas demi secercah harapan hidup baru.

Bayangin rasanya jadi mereka. Turun dari kapal, ngeliat tanah baru yang asing, bahasa beda, budaya beda, dan gak punya siapa-siapa. Pasti gamang parah. Tapi manusia emang makhluk yang paling jago bertahan lewat kebersamaan. Para sesepuh dan pedagang Hokkien waktu itu mutusin buat enggak jalan sendiri-sendiri. Mereka patungan, ngumpulin koin demi koin dari hasil dagang tipis-tipis, sampai akhirnya berdirilah sebuah rumah bersama: Hok Kian Kong Hwee

Begitu gedung ini jadi, hidup di Pecinan Ampenan kayak punya jantung baru karena tempat ini bukan cuma balai pertemuan biasa. Kalau kamu hidup di zaman itu, gedung ini adalah segalanya: posko pendaftaran buat nyambut sodara baru yang baru turun dari kapal, meja perundingan buat nyelesaiin sela-sela masalah warga tanpa pake urat leher, sekaligus tempat ngungsi pas lagi jatuh miskin. Dan begitu Imlek atau festival budaya datang? Wah, jangan ditanya. Gedung ini berubah jadi panggung paling meriah se-Ampenan. Lampion digantung, bau dupa dan masakan rumah ngumpul di udara, dan suara tawa berhasil nambal sementara rasa rindu rumah yang menahun.

Secara fisik, bangunannya sendiri udah kaya cerita. Ada perpaduan estetika kolonial tropis yang tegap dan sentuhan khas Tionghoa Nusantara yang lekat. Lihat aja fasad segitiga tingginya yang dihiasi ornamen kayu lawas, klop banget sama ventilasi roster beton geometris yang jadi tren arsitektur awal abad ke-20. Terus, pas mata kita nangkep tulisan ber-ejaan tempo dulu, "HOK KIAN KONG HWEE", yang nempel tegas di dinding depannya, rasanya kayak lagi natap tanda tangan sejarah yang nolak buat dihapus zaman.

Tapi ya gitu... roda nasib emang suka muter sesuka hati. Waktu Pelabuhan Ampenan akhirnya harus ditutup gara-gara pendangkalan dan pusat bisnis geser ke arah Cakranegara serta kota baru, denyut di gedung ini pelan-pelan melemah. Riuh tawa, debat urusan dagang, dan tapak kaki orang-orang mulai surut. Gedungnya sepi.

Meski begitu, waktu segan membuat bangunan ini kalah. Sekarang, Hok Kian Kong Hwee udah resmi jadi cagar budaya. Dia udah gak dipakai buat ngurusin pendatang atau rapat warga lagi, tapi fungsinya sekarang jauh lebih penting: jadi pengingat bahwa Lombok dari dulu pernah jadi tempat bertemunya banyak cerita, peleburan beda kepala, dan rumah yang hangat buat siapa aja yang datang dengan niat baik.

Pokoknya kalau lagi lewat Ampenan terutama Jalan Koperasi, coba deh mampir sebentar di gedung ini. Liat baik-baik bangunan dan tulisan di dindingnya, sambil bayangin betapa ramainya tempat ini oleh orang-orang yang ketawa, nangis, dan berjuang hidup ratusan tahun lalu.

Comments