Ketika Basic Skill Dianggap Kodrat


Zaman ini ternyata masih banyak suara-suara yang sumbang yang bilang : 
"kok suaminya masak?" 
"kok laki-laki cuci piring?"
"kok bapak bapak cuci baju?" 
Bla bla bla... 
Aduh, kiraen dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dengan belajar agama dan bersosialisasi dengan banyak orang, bibit-bibit patriarki tanpa batas ini sudah kita tinghal.. Ternyata nyatanya masih banyak ya. 

Bahkan ada suatu hari seorang perempuan bertamu ke rumah dan mendapati saya sedang mencuci piring lalu bilang "Oo jadi disini suami yang cuci piring, kok gitu?" 😅 
Aku senyum saja sambil bilang dengan santai "Ibu pasti pengen kan suami ibu kayak saya?" 

Lalu dia tersenyum kecut dan diam. 

Jadi gini lho bapak ibu.. 
Rumah itu bukan sebuah perusahaan yang pembagian kerjanya diatur berdasarkan gender, rumah itu semacam dermaga tempat dua manusia pulang untuk saling menguatkan setelah berjibaku dengan ombak dan badai masing-masing di luar sana. 

Ketika ada yang masih memandang cucian piring, cucian baju, dan sapu lantai sebagai takdir eksklusif seorang perempuan, kita sedang menyaksikan kekeliruan cara pandang yang telah mengakar terlalu lama. Padahal, mengurus rumah bukanlah basic skill perempuan. Itu adalah basic skill manusia.

Bapak ibu... 
Setiap orang, terlepas dari apa jenis kelaminnya, kelak akan hidup mandiri. Makan, mengenakan pakaian bersih, dan tinggal di tempat yang nyaman adalah kebutuhan biologis serta psikologis semua orang. Mengetahui cara merawat tempat tinggal dan isinya bukan tentang melayani orang lain, melainkan tentang kemampuan dasar untuk bertahan hidup dan merawat diri sendiri secara bermartabat. Sungguh aneh ketika ada yang menganggap kemandirian dasar ini sebagai kodrat satu pihak saja.

Rumah tangga adalah sebuah tim. Di dalam lapangan pertandingan bernama kehidupan rumah tangga, tidak ada istilah pemain inti dan pemain cadangan, apalagi pembantu dan majikan. Yang ada adalah dua orang yang saling mengoper bola kebaikan demi menjaga agar atap rumah tetap menaungi kedamaian. Ketika seorang suami mengambil alih tugas membersihkan dapur, mencuci baju, atau membereskan mainan anak-anak, ia sedang tidak "membantu" istrinya. Ia sedang mengerjakan bagian tanggung jawabnya sendiri.

Rumah tangga adalah kapal yang didayung bersama. Ketika satu tangan lelah, tangan yang lain mengambil alih, bukan karena itu tugasnya, tapi karena ia mencintai nakhoda di sisinya. Tsaahhhh 

Lebih dari itu, keterlibatan seorang ayah dalam pekerjaan domestik membawa dampak yang jauuuuuuh melampaui kebersihan lantai rumah. Ketika seorang bapak turun tangan menyapu, mengepel, atau menyiapkan makanan, ia sedang MENANAMKAN TELADAN YANG PALING MAHAL di hati anak-anaknya. Anak laki-laki akan tumbuh tanpa rasa gengsi untuk meringankan beban pasangannya kelak, sementara ANAK PEREMPUAN AKAN BELAJAR BAHWA HARGA DIRINYA TIDAK DIUKUR DARI SEBERAPA LELAH IA MENGABDI SENDIRIAN di sudut dapur. Mereka belajar bahwa kasih sayang sewujud dalam tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata manis di ruang tamu.

Keteladanan terbaik seorang ayah gak hanya seberapa tinggi ia menaruh standar kesuksesan di luar rumah, tapi seberapa rendah ia bersedia merunduk untuk merapikan rumah tempat anak-anaknya tumbuh.

Mari kita lepaskan beban sejarah yang keliru ini secara perlahan. Menjaga kebersihan dan kehangatan rumah adalah seni merawat cinta, dan cinta tidak pernah menuntut satu pihak untuk berjuang sendirian hingga kehabisan napas.

Boleh setuju boleh tidak...

Ditulis sambil ngeteh setelah cuci peralatan dapur di halaman 😁 

Comments