Blunder Fatal KPU & Bawaslu Dibongkar di Sidang MK, Jabatan Gibran Nyaris Tamat?

Genks, drama persidangan sengketa hasil Pilpres di Mahkamah Konstitusi (MK) akhirnya sampai juga di episode pamungkas. Tinggal ngetuk palu doang nih, antara Senin atau Selasa depan kita bakal denger putusan final dari sembilan hakim konstitusi. Suasana sidang terakhir kemarin jujur aja bikin geleng-geleng kepala tapi sekaligus lega. Kenapa? Karena setelah sekian lama ditutup-tutupi, borok-borok lama mulai keliatan cetok welo-welo (terang benderang, kata bapak-bapak di sidang).

Kronologi Ijazah yang Berubah Wujud
Masalah utama yang digugat oleh para pemohon, mulai dari Prof. Deni Indrayana, koalisi masyarakat sipil, emak-emak militan, partai politik, sampe kawan-kawan purnawirawan itu sebetulnya simpel tapi krusial: Syarat pendidikan minimal jadi wakil presiden.
Di undang-undang, aturannya jelas banget: minimal tamat SMA atau sederajat. Tapi pas diuji di persidangan kemarin, apa buktinya yang nongol?
- Bukan ijazah kelulusan SMA (certificate of completion).
- Yang ada malah transkrip nilai dan sertifikat kehadiran (certificate of attendance) dari luar negeri yang kalau dikuliti ternyata cuma setara program Diploma 1 (D1) alias kuliah cuma 1,5 tahun!
Lah, kok bisa? Di sinilah magisnya birokrasi kita. KPU tiba-tiba dituding bikin "pasal selundupan" lewat Pasal 18 ayat (3) PKPU No. 19 Tahun 2023 yang ujug-ujug muncul di detik-detik terakhir tanpa uji publik yang benar. Tujuannya apa lagi kalau bukan buat meloloskan yang bersangkutan yang dari awal emang nggak punya bukti tamat SMA yang sah?
Bahkan, Bawaslu yang mestinya jadi pengawas pemilu malah curhat di sidang dengan suara bergetar karena ngerasa di-ghosting dan nggak dikasih akses buat verifikasi. Parah, kan?

Buat Gibran: Udah, Gak Usah Malu-malu Kucing!
Nah, di sinilah saatnya kita ngomong langsung secara jantan ke Mas Gibran Rakabuming Raka.
Eh, Gibran, kamu masih muda, perjalanan hidup masih panjang banget. Tapi jujur aja, ngeliat fakta persidangan MK kemarin, nggak malu apa?
Semua rakyat sekarang udah tau kalau klaim pendidikan mu ternyata menyimpan banyak misteri dan inkonsistensi. Dari daftar riwayat hidup yang beda-beda tahunnya, dokumen luar negeri yang ternyata cuma certificate of attendance, sampe aturan main yang dipaksain lewat jalur belakang.
Kalau di luar negeri, pejabat ketahuan cacat syarat administratif kayak gini mah udah pada antre mundur atau hara-kiri secara politik demi ngetes urat malu. Ini kok malah anteng-anteng aja? Jabatan yang diduduki kalau dasarnya dari awal udah cacat administratif dan manipulatif, ya rasanya secara moral bakal berat banget buat dipertanggungjawabkan di dunia, apalagi di akhirat.

Saran kita sih simpel aja; Daripada nanti ujung-ujungnya dipermalukan lewat putusan diskualifikasi resmi dari MK, ya punya-punyalah rasa malu. Mundurlah secara terhormat.

***

Sekarang, bola panas bener-bener ada di tangan sembilan Hakim Konstitusi. Publik capek kalau hukum cuma dijadiin alat buat melegalkan kecurangan berbungkus prosedur formal. Kita butuh hakim yang berani melompat ke keadilan substantif seperti doktrin MK sendiri bahwa tidak boleh ada orang yang diuntungkan atas kejahatan atau kecurangan yang dilakukan.

Apapun hasilnya Senin atau Selasa besok, satu hal yang pasti: gelisah dan kesadaran kritis rakyat udah kadung terbangun. Demokrasi kita emang lagi dibajak, tapi warasnya warga, emak-emak, mahasiswa, dan para pejuang keadilan nggak bakal bisa dibungkam begitu aja.

***
Kira-kira, Gibran bakal berani ngeles apa lagi nih? Pantengin terus sidangnya, gaes!
Menurut kalian, Gibran bakal milih mundur teratur atau pasrah nunggu vonis MK? 

Comments