Mandalika : Janji Yang Ditagih Laut (bagian 2)

Bagian 2 — BAYANGAN YANG TIDAK PERNAH PERGI

Sejak malam kematian para belian, istana berubah menjadi tempat yang menyesakkan.

Tidak ada lagi tawa. Tidak ada lagi musik kecapi di ruang utama. Para pelayan berjalan tanpa suara, seolah takut mengusik sesuatu yang mengintai.

Setiap malam Mandalika tidur dengan lampu minyak menyala, namun bahkan cahaya itu pun tidak membuatnya merasa aman. Terkadang, saat ia memejamkan mata, terdengar bisikan lembut—seperti suara perempuan di tengah badai:

“Waktunya hampir tiba…”

Namun ketika Mandalika membuka mata, hanya ada kegelapan dan tirai tipis yang bergetar oleh angin dari laut.

Suatu malam, Mandalika terbangun oleh suara tetesan air. Tik… tik… tik. Ia meraba rambutnya—basah lagi. Tapi kali ini, bukan hanya rambut. Lantai kamarnya penuh air laut. Dan di tengah genangan itu, sesosok bayangan perempuan berdiri membelakanginya, rambutnya panjang menjuntai menyentuh lantai, basah dan berat seperti baru keluar dari laut.

“Siapa kau?” suara Mandalika bergetar. Bayangan itu tidak bergerak. Namun pantulan di lantai memperlihatkan wajah pucatnya—mata gelap, kosong, seperti tanpa jiwa.

“Kau tahu siapa aku,” jawabnya pelan, seperti bisikan yang muncul di dalam kepala Mandalika.

“Aku… tidak mengenalmu.”

Bayangan itu mendekat. Setiap langkahnya, lantai memercikkan air asin.

“Kau mengenal janji yang dibuat ayahmu.”

Mandalika mundur. Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia merasa seluruh dadanya bergetar.

“Ayahku tidak pernah berjanji pada siapa pun!”

Bayangan itu berhenti tepat di hadapan Mandalika. Wajahnya berubah—menjadi Mandalika sendiri, namun mata dan kulitnya tampak membusuk oleh garam dan air laut.

“Darahmu adalah bayaran.”

Mandalika menjerit.

Pelayan berhamburan masuk, namun ketika lampu diterangi, lantai sudah kering. Tidak ada air. Tidak ada bayangan. Tidak ada suara. Hanya Mandalika yang tercekat, napasnya tersengal, dengan tangan mencengkeram lehernya sendiri seolah masih ada yang mencekik.

Para pelayan mencoba menenangkannya, tetapi dalam tatapan mata mereka tersimpan sesuatu yang tak ingin mereka akui: rasa takut pada sang putri sendiri.

***

Keesokan harinya, Mandalika duduk di ruang makan besar yang sepi. Permaisuri berusaha menyuapi putrinya, tapi Mandalika hanya menatap piring porselen yang berisi makanan laut.

Ikan bakar. Udang. Urap Rumput laut.

Semua itu—tanpa dimasak oleh permaisuri—tiba-tiba muncul di dapur sejak subuh. Padahal tidak ada pelayan yang memasaknya. Dan baunya… sama seperti bau air laut yang selalu muncul di kamar Mandalika.

“Ini… bukan dari dapur kita,” ucap salah satu pelayan berbisik.

Raja memukul meja.

“Lalu dari mana?? Jangan pernah sebut tentang… hal itu lagi!”

Tapi setiap mata di ruangan itu tahu: sesuatu dari laut sedang menagih janji.

***

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Raja masuk ke gudang rahasia di bawah istana. Ada peti tua yang ditutup kain merah. Tangan Raja bergetar ketika membuka peti itu—di dalamnya terdapat gulungan daun lontar yang usianya hampir setua kerajaan itu sendiri.

Di atasnya tertulis:

“Perjanjian Sekar Kuning dengan Penjaga Laut.”

Raja menutup matanya, napasnya berat.

“Aku pikir waktu telah menghapusmu,” bisiknya lirih.

Tapi suara dari sudut ruangan menjawab:

“Laut tidak pernah lupa.”

Raja menoleh cepat. Di belakangnya, terlihat bayangan perempuan berdiri di balik pilar batu. Rambutnya basah, air menetes ke lantai. Ia terlihat seperti seseorang yang telah menunggu terlalu lama.

“Bayar janji itu,” suaranya dingin. “Atau laut akan mengambil apa yang menjadi milikku.”

Raja menggenggam peti itu erat.

“Tidak. Aku tidak akan menyerahkan Mandalika.”

Bayangan itu tertawa—tawa yang sama seperti yang Mandalika dengar sejak kecil. Tawa yang bergema seperti ombak menerjang karang.

“Kau tidak bisa menyelamatkan sesuatu yang sudah ditakdirkan menjadi milikku.”

***

Di kamar Mandalika, angin laut tiba-tiba berhembus dari jendela yang tertutup. Putri remaja itu memandang ke kaca.  Bayangan itu berdiri di belakangnya—berwujud Mandalika dewasa dengan mata yang kosong dan sedih.

“Saat waktunya tiba… akan ada yang menangis. Tapi bukan aku.

Bayangan itu menghilang perlahan, seperti larut kembali ke dalam air.

Mandalika menatap cermin lama itu. Untuk pertama kalinya, ia menyadari: bayangan itu tidak hanya mengikuti. Bayangan itu sedang menunggu dan Mandalika mulai takut, bukan pada bayangan itu. Tapi pada kemungkinan bahwa— Bayangan itu adalah dirinya sendiri.

***

 Bagian 3 : TUJUH PANGERAN & PENJARA KUTUKAN

Comments