Pantas Saja Korupsi Subur! Ternyata Standar 'Keren' Kita Sudah Rusak Parah


​Ada sebuah pergeseran yang menyesakkan dada belakangan ini. Jika kita menilik ke belakang, standar seseorang dijadikan idola terasa begitu terhormat. Kita mengagumi mereka yang berdarah-darah melahirkan karya—aktor yang menjiwai peran, musisi yang merangkai nada, atau akademisi yang membuka cakrawala berpikir kita. Kita memuja proses, kerja keras, dan substansi.

​Namun, coba lihat layar ponsel kita hari ini. Popularitas seolah bisa dibeli dengan pamer kemewahan. Standar "keren" kini menyempit menjadi sekadar angka: berapa saldo rekeningnya, seberapa hedon gaya hidupnya, atau berapa ratus juta yang ia hasilkan dalam sekali siaran langsung.

Masalahnya bukan pada uangnya, tapi pada pesannya. Ketika materi menjadi satu-satunya standar kemuliaan, kita sedang membangun fondasi mental yang rapuh bagi generasi mendatang. Di titik ini, etika menjadi barang murah. Hal yang salah, perilaku yang tidak terpuji, hingga tindakan yang tidak beretika bisa mendadak dianggap "benar" dan "inspiratif" hanya karena pelakunya kaya raya dan populer.

​Inilah akar mengapa budaya korupsi sulit dikikis. Jika masyarakat kita masih menyembah hasil tanpa peduli cara, maka integritas akan selalu kalah oleh ambisi materi.
Sudah saatnya kita melakukan "diet konten". Berhentilah memberi panggung pada mereka yang hanya menjual pamer tanpa isi. Mari kembali mencari panutan yang memberi nutrisi bagi akal dan budi.

​Menjadi kaya itu tidak salah, tapi menjadikan kekayaan sebagai satu-satunya bukti kesuksesan adalah kekeliruan besar. Mari kita hargai lagi karya, hargai lagi etika, dan hargai lagi kejujuran. Karena pada akhirnya, kualitas sebuah bangsa ditentukan oleh siapa yang mereka idolakan.

Siapa sosok yang menurut kalian masih memegang teguh karya dan etika saat ini? Share di kolom komentar ya.

Comments