Hidup tidak se-kaku garis mistar yang kau pegang itu. Tidak semua hal harus lurus, presisi, dan tunduk pada standarmu detik ini juga.
Ada arogansi yang tersembunyi rapi di balik niat "memperbaiki" orang lain. Kau berdiri di sana, menatap orang yang sedang berproses dengan tatapan nanar, lalu kau hujani mereka dengan kalimat-kalimat yang kau sebut "kebenaran". Padahal, itu terdengar lebih seperti penghakiman.
Yang paling ironis adalah amnesiamu.
Mungkin udara di puncak "kesalehan" yang kau rasakan sekarang terlalu tipis, hingga membuatmu lupa ingatan. Kau lupa bahwa sebelum berdiri tegak seperti hari ini, kakimu pun pernah tertatih. Kau lupa bahwa untuk memahami apa yang kau pahami sekarang, kau menghabiskan waktu bertahun-tahun jatuh, salah, dan dimaafkan oleh semesta.
Dulu, kau juga pernah mentah. Dulu, kau juga pernah keliru.
Lantas, atas dasar apa kau merampas hak orang lain untuk berproses? Mengapa kau menuntut orang lain untuk langsung berlari, padahal dulu kau sendiri butuh waktu lama hanya untuk belajar berdiri?
Memaksa bunga mekar dengan menarik kelopaknya hanya akan membunuhnya, bukan memperindahnya. Begitu pula caramu mengubah orang. Nasihat yang disampaikan dengan nada merendahkan bukanlah kebaikan; itu hanyalah egomu yang sedang bersolek.
Hormatilah proses orang lain. Biarkan mereka bertumbuh dengan ritme mereka sendiri, sama seperti dulu kau diberi waktu untuk memperbaiki diri tanpa dihardik oleh orang yang merasa paling suci.

Comments
Post a Comment