Jika ini sekadar luka fisik, setahun mungkin waktu yang lebih dari cukup untuk membuatnya sembuh tanpa bekas. Sel-sel kecil di dalam kulit barangkali sudah tumbuh kembali dalam jumlah ribuan, bahkan jutaan. Rasa sakitnya pun jelas tak akan kita ingat lagi. Apalah pentingnya mengingat rasa sakit kulit yang terluka? Dengan sendirinya ia akan memudar, lalu menghilang. Bahkan setelah setahun berlalu, kita mungkin sudah lupa di bagian mana pernah terluka; siapa yang melukai pun bisa jadi bukan hal penting lagi.
Tetapi, ini adalah luka hati. Apa obatnya? Jelas tidak mungkin sembuh hanya dengan menyanyikan lagu Geisha, Lumpuhkanlah Ingatanku. Itu lelucon garing. Aku pun tak ingin hilang ingatan.
***
Sejak dulu, aku selalu menjaga diri agar tidak membenci siapapun. Aku banyak membaca dan memahami betapa kebencian itu bukan hanya tidak baik, tapi juga menyiksa diri. Poin "tidak baik" sudah lama aku pahami, namun poin "menyiksa diri" itulah yang belakangan ini benar-benar aku rasakan.
Kau tahu, kawan? Membenci itu sungguh sebuah penyiksaan lahir batin. Bayangkan betapa tersiksanya ketika terus-terusan mengingat orang yang telah membuatmu terluka. Sangat menguras tenaga dan hati saat mengingat kata-kata dan perilaku seseorang yang membuatmu merasa sakit, terhina, dan tak dihargai. Siang malam, kata-kata negatif yang terlanjur terlepas itu memenuhi kepala. Dadamu mulai bergemuruh menahan amarah, kembang-kempis sesak ingin meledak. Matamu memanas, gigimu gemeretak menahan geram.
Namun, beruntunglah jika kamu masih mau mendengarkan hati kecilmu. Beruntung karena ada sebagian kecil dari pikiranmu yang melarangmu melakukan hal yang sama: mencaci, memaki, menghina, atau menghardik. Terkadang, ketika keinginan membalas itu muncul, selalu terbersit sebuah tanya dalam hati: “Jika aku melakukan hal yang sama untuk membalasnya, lalu apa bedanya aku dengan mereka?” Tak akan ada yang lebih baik, walaupun memendam itu rasanya jauh lebih sakit.
Memendam amarah, sakit hati, galau, dan kecewa adalah pembunuh senyap yang telah menewaskan banyak orang. Aku percaya, sumber penyakit itu selain dari luar (seperti virus atau makanan), sebagian besar justru berasal dari dalam diri kita sendiri. Pikiran dan hati yang tak karuan karena perbuatan buruk orang lain akan berdampak pada imunitas tubuh. Otak lelah, hati letih, sel-sel tubuh mati, hingga makan pun tak selera. Jika sudah begini, siapa yang rugi? Membenci memang bukan perkara mudah. Lalu apa solusinya? Mengikhlaskan? Ternyata ikhlas pun tak kalah sulitnya.
Tak jarang aku menghibur diri dengan mencoba melupakan. Aku menguatkan diri dengan nasihat tentang keikhlasan. Namun, itu hanya membantu sedikit—biasanya hanya berhasil ketika aku tidak melihat atau mendengar orang tersebut. Begitu ia muncul lagi, ingatan itu kembali dengan sendirinya, membawa serta sesak di dada dan kegeraman yang seolah baru saja terjadi kemarin sore.
Perkara melupakan, apa daya kita? Sampai detik ini aku belum tahu caranya. Mengingat bisa diupayakan dengan alat bantu—kamera, tulisan, dan lainnya. Tapi melupakan? Apa alat bantunya? Jangan suruh aku menyanyikan lagu Geisha tadi!
Satu-satunya yang aku lakukan adalah berdoa. Memohon pada Allah agar hatiku lebih sabar, lebih lapang, dan lebih kuat. Hanya Allah tumpuanku saat dada bergemuruh hebat menahan sakit hati. Hanya Allah harapanku agar aku bisa memaafkan. Jujur saja, terkadang terselip doa agar Allah memberi pelajaran kepada mereka, agar mereka sadar bagaimana menggunakan lisan dengan baik. Terkadang aku berpikir, orang-orang seperti ini mungkin terlalu mengagungkan otak hingga melupakan hati. Padahal hati adalah ciptaan Tuhan yang paling sensitif; bukan terbuat dari batu, bukan pula buatan pabrik yang jika rusak bisa diganti dengan mudah. Doa-doa yang "kejam" itu kadang muncul ketika hati sudah terlampau sakit dan aku tak mampu membalas langsung.
Memang, berkali-kali muncul rencana buruk di kepala untuk membalas dendam. Tapi syukurlah, bekal nasihat orang tua sejak kecil sudah mendarah daging. Jawaban atas segala sakit hati itu selalu muncul sendiri dari hati kecilku. Misalnya, ketika aku mengeluh kepada Allah selepas salat: "Kenapa aku harus dipertemukan dengan orang-orang yang tak menyukaiku?" Seketika, hati kecilku menghibur: "Bisa jadi mereka dikirim Allah agar kamu selalu dekat dengan-Nya. Bisa jadi mereka ada agar kamu terbiasa kuat. Atau, bisa jadi bukan mereka yang dikirim untukmu, tapi kamu yang dikirim untuk mereka dengan misi dakwah."
Ah, hati kecil ini... Selalu punya jawaban seluas lautan untuk setiap kekecewaan. Aku percaya hati kecil siapapun selalu suci, hanya saja kadang pikiran manusia terlalu dominan dan mengabaikan kesucian itu. Kalimat pamungkas yang selalu menguatkanku adalah: "Kita tidak bisa membuat semua orang menyukai kita. Sebaik apapun kita, sama seperti kita yang tidak mungkin juga menyukai semua orang."
Untuk beberapa hal, aku kini bersyukur atas kejadian-kejadian buruk ini. Paling tidak, aku jadi tahu seperti apa diriku di mata sebagian orang, dan ini menjadi bahan bakar untuk memperbaiki diri. Sakit memang, tapi begitulah hidup. Kita dituntut melewati rasa sakit untuk bisa kembali menciptakan kebahagiaan. Lagipula, hari-hari kita terlalu berharga untuk terus mengingat hal buruk.
Pelan-pelan, mari belajar melupakan. Mungkin langkah awalnya adalah dengan mengabaikan rasa sakitnya, walaupun mau tidak mau aku juga harus mengabaikan orangnya. Entah ini benar atau tidak, yang jelas aku sedang berjuang agar hatiku sehat. Aku ingin panjang umur, ingin melihat anak-anakku tumbuh besar dan menjadi orang hebat. Jika aku tak bisa mengubah pandangan buruk mereka, mungkin sudah waktunya aku masa bodoh dan melakukan hal yang lebih bermanfaat untuk hatiku dan keluargaku. Toh, Allah tidak pernah tidur. Aku percaya Allah punya waktu yang tepat untuk segalanya. Semoga saat itu tiba, aku bisa menyaksikannya. Wallahualam.
Inilah aku, manusia biasa yang hatinya bisa terluka meski sekuat apapun menahannya. Aku selalu berusaha memaafkan, walaupun aku tak bisa melupakan. Bukan salahku, kan, jika aku tidak bisa lupa? Lalu salah siapa? Entahlah.
Selamat menikmati dan belajar seni hidup!
(Ditulis ketika bayangan dan gaung kata-kata itu mengisi kepalaku. Tapi di akhir tulisan ini, aku tersenyum dan berucap syukur, Alhamdulillah... Allah punya sejuta cara menyampaikan kasih sayang-Nya, bisa jadi ini adalah salah satunya.)
Comments
Post a Comment