Namun, penilaian yang tergesa-gesa sering kali meluputkan
kita dari kebenaran yang lebih jernih. Untuk memahami Bayan, kita tidak bisa
hanya menggunakan kacamata modern yang memisahkan ruang publik dan ruang
domestik secara dikotomis, di mana ruang publik dianggap lebih tinggi
kedudukannya daripada ruang domestik. Di Bayan, kedua ruang ini tidak saling
menjatuhkan, melainkan saling menggenapi dalam sebuah harmoni yang lembut.
Masyarakat adat Bayan sesungguhnya menyimpan sebuah rahasia
filosofis yang sangat mendalam: tanah tempat mereka berpijak adalah Gumi
Inan, yang berarti Bumi Ibu atau Ibu Bumi. Sebuah kesadaran kosmis bahwa
fondasi kehidupan, spiritualitas, dan keberlangsungan adat mereka sejatinya
berporos pada rahim seorang perempuan.
Komando Rahasia dari Balik Dinding Pedangan
Dekonstruksi terhadap maskulinitas pemimpin adat di Bayan
dimulai ketika kita berani melongok ke balik dinding-dinding bambu rumah adat.
Di dalam struktur pranata adat mereka, terdapat jabatan-jabatan kunci yang
mutlak dipegang oleh perempuan, bukan sebagai simbol atau pelengkap saja,
melainkan sebagai pemegang otoritas penuh. Dua di antaranya yang paling agung
adalah Inan Meni dan Inan Pedangan.
Inan Meni adalah pranata adat kunci. Ia adalah muara
awal dari setiap niat baik yang hendak diwujudkan dalam sebuah ritual. Ketika
sebuah upacara adat besar akan digelar, ritual tersebut tidak dimulai dari
tetabuhan saron di alun-alun atau dari sabda sang pemangku laki-laki. Ritual
itu bermula dari Balen Inan Meni (Rumah Inan Meni), di mana sang
"Ibu Adat" melakukan restu ritual pertamanya. Tanpa ketukan restu
dari bilik sunyinya, seluruh prosesi adat di luar sana tidak akan pernah bisa
melangkah.
Lalu, ada pula Inan Pedangan. Kata pedangan
merujuk pada area dapur, sebuah ruang domestik yang dalam pandangan modern
sering kali direndahkan sebagai tempat "urusan belakang". Namun dalam
kosmologi Bayan, pedangan adalah ruang sakral tempat merawat kehidupan.
Kehidupan manusia bersandar pada tiga pilar utama: sandang, pangan, dan papan.
Di Bayan, urusan krusial mengenai ketersediaan dan kesucian pangan diatur oleh Inan
Pedangan.
Di sinilah letak keunikan relasi kuasanya. Ketika ritual adat seperti Maulid Adat atau ritual pemuliaan air dilakukan, para lelaki adalah mereka yang bertugas mengeksekusi urusan di luar. Namun, seluruh kesiapan logistik, penyucian bahan makanan, dan aturan ketat di dalam dapur disetir sepenuhnya oleh komando perempuan. Jika urusan internal yang dipegang para perempuan ini belum selesai atau dianggap belum suci, para lelaki di luar tidak akan pernah bisa memulai ritual mereka. Laki-laki di barisan depan adalah pelaksana dari ketetapan yang telah disucikan oleh perempuan di barisan dalam.
Sistem ini memperlihatkan sebuah bentuk emansipasi yang
tidak menuntut perempuan untuk menjadi maskulin agar diakui, melainkan
menghormati feminitas pada tempatnya yang paling mulia. Kuasa perempuan Bayan
tidak bersifat koersif (memaksa) atau demonstratif di mimbar-mimbar publik.
Kuasanya bersifat spiritual, mendasar, dan mutlak.
Pembagian wilayah kerja adat ini begitu rapi. Pranata adat
laki-laki mengurusi hal-hal yang bersifat eksternal dan tata laksana
pemerintahan adat. Sementara perempuan menjaga wilayah internal yang bersifat
privat, spiritual, dan berkaitan langsung dengan penyucian. Keduanya ibarat dua
sisi dari satu mata uang yang sama; satu sisi tidak akan memiliki nilai tanpa
kehadiran sisi yang lain.
Bahkan, ada sebuah aturan ketat yang mencerminkan betapa posisi perempuan adalah penentu legalitas kepemimpinan di Bayan. Seorang pemimpin adat laki-laki (seperti Pemangku atau Pembekal) tidak akan pernah bisa diangkat atau menjalankan fungsinya secara sah jika ia tidak memiliki istri. Mengapa? Karena saat seorang lelaki dilantik menjadi pemimpin adat, sang istri secara otomatis mengemban amanah sebagai pranata adat pendamping yang memiliki tugas-tugas spesifik yang tidak boleh dan tidak bisa digantikan oleh suaminya. Adat Bayan memandang kepemimpinan bukan sebagai ketokohan tunggal yang maskulin, melainkan sebuah kepemimpinan dwitunggal yang melibatkan keseimbangan feminin dan maskulin.
Melalui pemahaman tentang Gumi Inan, kita diajak
untuk mendekonstruksi pemikiran kita sendiri yang sering kali terlalu sempit
dalam mendefinisikan "kekuasaan" atau "kesetaraan".
Perempuan Bayan mungkin tidak berdiri di bawah sorot lampu panggung publik
untuk menghitung jumlah suara atau memukulkan palu sidang. Namun, dari jemari
mereka yang menyucikan beras padi bulu di dalam pedangan, dan dari
rapalan doa sunyi di bilik Inan Meni, jalannya peradaban adat Bayan
ditentukan.
Kekuasaan sejati tidak selalu bising. Di Bayan, ia mengalir dengan lembut, senyap, namun mengakar kuat di bawah fondasi rumah-rumah adat, menjaga agar Gumi Inan tetap menjadi bumi yang meneduhi dan menghidupi semua anaknya.
--------------------------------------------------------------------------------

Comments
Post a Comment