Tulisan ini diisarikan dari Podcast #TemanNgobrol IMAJIE TV yang membahasa Mataram pada masa lalu degan narasumber Bapak Bambang P. Jatmiko yang juga dikenal sebagai Wiracita Jatiswara, Seorang peneliti sejarah Bali dan Lombok yang sudah melanglang buana ke berbagai belahan dunia demi mendapatkan data sejarah Lombok yang valid dan terbukti.
Awal Mula: Ketika Belanda Dipanggil Masuk
Kedatangan Belanda ke Lombok bukan sepenuhnya karena ambisi penjajahan semata. Sejarah mencatat, para pemimpin Sasak sendiri yang bersurat meminta bantuan Belanda. Penyebabnya adalah penyalahgunaan kekuasaan oleh Made, putra raja yang diberi mandat memimpin karena sang raja sudah terlalu sepuh.
Made menjalankan pemerintahan dengan gaya yang menekan dan menindas, sehingga para pemimpin Sasak merasa perlu mencari penyeimbang kekuatan. Surat kepada Belanda itulah yang membuka jalan masuknya kolonialisme ke Lombok.
Kehadiran Belanda melahirkan situasi pelik. Lombok saat itu dihadapkan pada dua kekuatan besar: kerajaan dan Belanda. Negosiasi sempat dilakukan, salah satunya mengenai pengasingan Made. Raja bersedia, tetapi ingin menentukan lokasi pengasingan sendiri—sementara Belanda menolak. Ketegangan pun meningkat.
Faksi Made yang kuat di dalam kerajaan membuat jalan damai semakin sulit. Ketika Made dihukum mati, para pendukungnya marah dan memilih berperang. Di titik inilah Mataram memasuki masa senjakala.
Perang Pertama: Saat Belanda Dipermalukan
Pertempuran pertama ternyata berakhir dengan kekalahan telak di pihak Belanda. Pasukan kolonial yang berkemah di sekitar Cakranegara tidak menyadari bahwa tentara kerajaan melubangi tembok Puri setebal 1,5 meter untuk memasukkan laras senapan. Malam itu, puluhan moncong senjata diarahkan ke tenda-tenda Belanda.
Tembakan serentak menewaskan banyak prajurit, termasuk Jenderal Van Ham. Hingga kini, tidak ada yang tahu siapa penembaknya. Logikanya, di tengah gelap dan kepanikan, sulit membidik seseorang secara spesifik. Namun, dramatisasi sejarah sering melahirkan klaim sepihak tentang siapa pembunuh sang jenderal.Kekalahan itu membuat Belanda dipermalukan. Media internasional menulisinya, dari Singapura hingga Eropa. Belanda yang terkenal jaya, hancur oleh sebuah kerajaan kecil di pulau yang bahkan tak banyak orang tahu letaknya di peta dunia. Kritik besar pun mengguncang parlemen di negeri Belanda.
Tragedi pun terjadi. Perempuan, anak-anak, hingga orang tua menjadi korban. Bahkan rakyat biasa ikut melawan dengan tombak ketika Belanda mundur. Bagi Belanda, ini bukti bahwa siapa pun bisa jadi ancaman. Serangan kedua pun berakhir dengan bumi hangus di Mataram.
Puputan: Ritual Menyongsong Kematian
Salah satu bab paling heroik sekaligus tragis adalah puputan. Banyak yang menyamakan puputan dengan "perang sampai mati", padahal sejatinya ia adalah ritual kematian yang penuh makna.
Sebelum puputan, keluarga kerajaan mandi bersih, mengenakan pakaian dan perhiasan terbaik, lalu diupacarakan. Anak-anak, bahkan yang baru berusia tiga tahun, turut serta. Mereka berbaris menyongsong musuh, dengan rohaniawan di barisan paling belakang.
Tugas rohaniawan bukan hanya mendoakan, tapi juga memastikan semua benar-benar gugur. Jika ada yang masih hidup, ia yang akan menuntaskan. Sepanjang jalan, mereka membaca mantra, menabur bunga, dan berjalan menuju kematian terhormat. Itulah makna puputan—bukan sekadar bertahan, melainkan pengorbanan total dalam balutan ritual suci.
Akhir Sebuah Era
Setelah perang besar itu, Belanda menguasai Lombok. Sisa keluarga kerajaan diasingkan ke Batavia, lalu tersebar ke berbagai daerah seperti Bengkulu, Sukabumi, dan Bogor. Sebagian besar gugur dalam puputan, tetapi jejak darah biru tetap ada—meski tercerai berai.
Peninggalan kerajaan pun banyak yang hilang. Puri, taman, dan bangunan indah diratakan. Taman Gunungsari, yang pernah dipuji naturalis Inggris Alfred Russel Wallace sebagai "tempat terindah", hancur. Hanya Taman Narmada yang tersisa hingga kini yang waktu itu hampir pula diratakan.
Kisah 1894 di Lombok adalah kisah tentang undangan yang berujung penjajahan, tentang perang yang sempat membuat Belanda dipermalukan, dan tentang puputan sebagai simbol kehormatan terakhir.
Sejarah ini mengingatkan kita, bahwa kekuasaan bisa runtuh bukan hanya oleh musuh dari luar, tetapi juga oleh perpecahan di dalam.


Comments
Post a Comment