El Nino 2026: Strategi "Main Cantik" Biar Dapur Tetap Ngepul
Teman-teman, kalian merasa nggak sih, belakangan ini cuaca
di NTB lagi hobi banget "nge-prank"?
Pagi panasnya ampun-ampunan sampai rasanya matahari ada
tiga, sorenya tiba-tiba hujan deras. Oke, Tenang, itu bukan sekadar perasaan teman-teman
saja, tapi memang dinamika atmosfer kita lagi dinamis-dinamisnya karena masa
transisi musim. Setidaknya itu penjelasan kak Nina salah satu narasumber saya
dari BMKG di Dialog NTB BIcara minggu lalu.
Tapi, ada tamu tak diundang yang perlu kita antisipasi di
pertengahan 2026 ini namanya: El Nino.
Kalau denger nama El Nino, biasanya pikiran kita langsung
melayang ke bayangan sawah retak-retak atau gagal panen. Tapi, hasil obrolan
seru di NTB Bicara kemarin justru membuka mata kalau kita sebenarnya
punya banyak "senjata rahasia" buat main cantik menghadapi tantangan
ini. Memang cuaca kemarau akan terasa panas namun untuk menjaga ketahanan
pangan kiyta masih punya harapan besar untuk tetrap bisa produktif. Setidaknya
ada tiga “juru” yang saya tangkap dari hasil obrilan di NTB BIcara minggu lalun
:
Jurus Pertama: Pakai Bibit "Si Paling Sat-set"
Berdasarkan keterangan dari salah satu narasumber saa Bapak
Dr. Awaludin yang merupakan penyuluh dari BRMP NTB bahwa saat ini kita
sudahmemiliki Bibit dan benih yang Sat-set tumbuh dan pnanennya
Kalau dulu kita harus sabar nunggu padi matang, sekarang
zamannya varietas Genjah. Bayangkan, ada bibit bernama Cakra Buana
atau Pajajaran yang umurnya cuma 100 hari lebih kurang. Sat-set banget,
kan? Tanam sekarang, tiga bulan kemudian sudah bisa panen sebelum air
benar-benar surut.
Bahkan ada varietas Inpari Nutri Zinc. Ini keren
banget, karena selain tahan haus, dia punya kandungan gizi buat mencegah
stunting. Jadi, petani kita nggak cuma kasih makan perut, tapi juga kasih makan
otak generasi masa depan.
Jurus Kedua: Jadi "Pawang Air" yang Cerdas
Dulu mungkin kita mikir sawah harus selalu banjir airnya.
Padahal, padi itu bukan tanaman air; dia cuma butuh air di waktu-waktu
tertentu. Sekarang ada teknik AWD (pengairan berselang). Pakai pipa
sederhana saja buat ukur ketinggian air di dalam tanah. Kalau masih cukup
lembap, nggak usah dialirin air dulu. Hemat air, tapi hasil tetap maksimal.
Berdasarkan keterangan Dr. Awal, Pemerintah juga sudah
"tebar" ribuan pompa dan bangun embung di mana-mana. Jadi, selagi
masih ada sisa-sisa hujan sekarang, tabungan air itu harus kita jaga baik-baik.
Jurus Ketiga: Stop "Nyakitin" Hutan
Keterangan dari Akademisi, Pak Suhairin juga sangat penting
unutk kita ingat karena Ini yang paling penting tapi sering luput dari obrolan.
Kita senang lihat produksi jagung kita meledak, tapi kalau hutan di perbukitan
(terutama di wilayah timur NTB) dibabat habis buat jagung, kita sendiri yang
rugi.
Tanpa pohon, air hujan cuma mampir lewat di permukaan tanah (alias banjir) lalu langsung lari ke laut. Tanah nggak punya "tabungan" air buat masa kering nanti. Jadi, kalau kita mau El Nino nggak terasa terlalu pedih, ya kita harus mulai sayang lagi sama hutan kita.
Meski El Nino ini Adalah kabar yang tak mengenakkan tapi kita tetap punya kabar baik yakni kita punya Petani Milenial & Informasi Harga komoditi pertanian yang "Cuan"
Keren ya, sekarang makin banyak anak muda di NTB yang terjun
ke sawah. Mereka nggak cuma bawa cangkul, tapi juga bawa smartphone buat
cek data BMKG dan aplikasi "Siap Tanam". Yang artinya mereka menerapkan
ilmu mereka tentang pertanian untuk menambah kualitas dan kuantitas dan harapan
kita bersama semoga semakin banyak petani-petani milenial atau genZ yang mau
terjun dan membahwa perubahan yang bagus unutk pertanian di NTB
Ditambah lagi, infomrasinya harga gabah sekarang lagi
manis-manisnya (HPP sekitar Rp6.500/kg). Ini jadi vitamin buat petani kita
supaya tetap semangat meski langit lagi pelit kasih hujan. Semoga gak hanya pas
lagi musim tana maja ya harganya bagus, nanti pas musim panen semoga harganya
tetap bagus agar para petani kita sejarhtera dan terbayarrr lelahnya.
Intinya...
El Nino 2026 memang tantangan, tapi bukan berarti kita harus
pasrah. Dengan kombinasi bibit yang pas, teknologi irigasi yang pintar, dan
kesadaran menjaga alam, NTB tetap bisa kok jadi lumbung pangan yang surplus.
Sedia payung sebelum hujan itu biasa. Sedia bibit genjah, buat
antisipasi dan mitigasi dari awal dan kalau bisa sedia pompa dan menabug air sebelum kemarau? Itu
baru luar biasa!

Comments
Post a Comment