Ketika Dunia Sibuk Rapat Iklim, Masyarakat Adat Bayan di Kaki Rinjani Sudah Berhasil Jaga 37 Mata Air Selama Berabad-abad
Ritual sebagai Tools Konservasi: Saat Agama dan Adat Menjaga Oksigen
Bagi mata manusia modern yang telanjur dididik oleh
rasionalisme barat, menyaksikan sebuah ritual adat di tengah hutan sering kali
memicu kesimpulan yang bias. Kepulan asap kemenyan, sesajian yang ditata rapi,
kain-kain tenun yang membebat batang pohon besar, hingga rapalan doa-doa dalam
bahasa lokal kerap kali buru-buru dilabeli sebagai praktik yang mistis, kuno,
ketinggalan zaman, atau bahkan dicap bid'ah oleh cara pandang keagamaan
yang kaku. Ritual dianggap sebagai tindakan sia-sia yang tidak memiliki
korelasi langsung dengan upaya penyelamatan bumi di tengah krisis iklim global.
Namun, benarkah demikian? Jika kita bersedia menanggalkan sebentar kacamata prasangka tersebut dan bersedia melihat lebih dalam, kita akan menemukan sebuah realitas yang mengejutkan. Di balik balutan ritus spiritualnya, masyarakat adat Bayan sebenarnya sedang mempraktikkan sebuah metode sains tradisional yang sangat canggih. Ritual bukanlah sekadar mistisisme kosong, lebih dari itu ritual adalah tools (instrumen) konservasi ekologi yang sangat efektif. Ketika sebuah komunitas menganggap hutan dan sumber air itu suci, mereka akan menjaganya dengan komitmen moral yang jauh lebih ketat dan setia, melampaui ketatnya barisan aturan hukum positif maupun patroli polisi hutan.
Masyarakat adat Bayan membagi ruang hidup mereka ke dalam
zonasi-zonasi filosofis yang sangat ketat, di mana salah satu puncak
tertingginya adalah konsep Gumi Dalem (Bumi Bagian Dalam atau
Kawasan Sakral). Dalam perspektif luar, Gumi Dalem mungkin hanya
dipahami sebagai wilayah yang dipenuhi oleh pantangan-pantangan gaib. Namun,
jika dibedah menggunakan kacamata ekologi modern, Gumi Dalem adalah
sebuah manifesto dari konsep kawasan cagar alam atau strict nature reserve.
Dalam kosmologi Bayan, dua elemen krusial yang wajib dijaga
mutlak tanpa kompromi di dalam Gumi Dalem adalah Air dan Oksigen.
Para leluhur Bayan ratusan tahun lalu mungkin tidak menggunakan istilah ilmiah
seperti fotosintesis, siklus hidrologi, atau daur karbon.
Namun, mereka memiliki kesadaran intuitif dan empiris yang luar biasa: bahwa
jika pohon-pohon di hulu (seperti di kawasan Hutan Adat Mandala atau lereng
Rinjani) ditebang, maka pasokan udara bersih akan menipis dan mata air yang
menghidupi peradaban di bawahnya akan mati.
Untuk mengunci agar kawasan krusial ini tidak disentuh oleh keserakahan manusia, masyarakat adat membungkus pengetahuan ekologis ini dengan bahasa kesucian (sakralitas). Ketika sebuah area ditetapkan sebagai Gumi Dalem, alam diperlakukan sebagai subjek yang memiliki jiwa, bukan sekadar objek komoditas yang siap dieksploitasi. Larangan menebang pohon atau mencabut tanaman sekecil apa pun di kawasan ini berubah menjadi sebuah kewajiban moral-spiritual. Di sinilah sains tradisional bekerja: mereka melestarikan ekosistem vital penyuplai oksigen dunia bukan dengan membuat laporan analisis dampak lingkungan (AMDAL) yang tebal di atas kertas, melainkan dengan menanamkan rasa hormat dan takut akan rusaknya tatanan kosmos di dalam dada setiap warganya.
Selamat Olor: Harmoni Hidrologi dan Teologi Air
Salah satu bukti paling nyata dari ritual sebagai instrumen
konservasi adalah pelaksanaan ritual Selamat Olor yang rutin
digelar di Hutan Adat Bangkat Bayan. Secara kasatmata, ritual ini adalah bentuk
ekspresi rasa syukur masyarakat atas limpahan air yang mengalir dari hulu
menuju area persawahan dan pemukiman mereka. Namun, secara substansial, Selamat
Olor adalah sebuah mekanisme manajemen sumber daya air berbasis komunitas (community-based
water management) yang sangat adaptif.
Bayan diberkahi dengan sedikitnya 37 titik mata air alami
yang mengalir tanpa henti. Untuk mengelola kekayaan hidrologi ini, adat
menunjuk seorang pranata khusus yang disebut Inan Ai
(Ibu/Pemimpin Air). Melalui ritual Selamat Olor, seluruh pemanfaat air
dikumpulkan. Di dalam ritual tersebut, egoisme sektoral antar-petani diredam.
Air dihormati sebagai berkah bersama yang harus dibagi secara adil, tidak boleh
dikuasai secara sepihak.
Secara ilmiah, ritual ini memastikan bahwa area di sekitar tangkapan air (catchment area) tetap bersih dari aktivitas manusia yang merusak. Mengapa debit air di Hutan Mandala dan Bangkat Bayan bisa bertahan selama berabad-abad di saat daerah lain mengalami kekeringan? Jawabannya ada pada kontinuitas ritual ini. Ritual memaksa masyarakat untuk secara berkala kembali ke hutan, membersihkan saluran secara gotong royong, memeriksa kondisi tegakan pohon pelindung air, dan memperbarui sumpah kolektif untuk menjaga kelestarian alam. Ritual Selamat Olor menjembatani hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam sekelilingnya secara seimbang. Ia mengubah aktivitas konservasi yang melelahkan menjadi sebuah perayaan spiritual yang dirindukan dan dijalankan penuh keikhlasan.
Sering kali kita melihat bagaimana hukum negara, dengan
segala perangkat undang-undang, denda miliaran rupiah, hingga ancaman penjara, gagal
menghentikan laju deforestasi. Mengapa? Karena hukum positif bekerja dengan
instrumen ketakutan dari luar (eksternal). Ketika polisi hutan tidak
berjaga, atau ketika hukum bisa dinegosiasikan dengan materi, maka pohon-pohon
di hutan akan tetap tumbang.
Sebaliknya, ritual dan aturan Awiq-Awiq di Bayan
bekerja dengan menyentuh kesadaran dari dalam (internal). Menjaga hutan
adat bukan karena takut ditangkap polisi, melainkan karena rasa hormat yang
mendalam pada warisan leluhur dan kesadaran bahwa merusak alam berarti
mengundang bencana spiritual bagi anak cucu. Sanksi adat seperti denda kerbau
yang diputuskan dalam musyawarah Gundem bukan sekadar hukuman denda
materi, melainkan sebuah ritual penyucian kembali ekosistem yang sempat robek
akibat ulah manusia.
Melalui pemahaman ini, stigma negatif luar terhadap ritual adat sebagai praktik kuno atau mistis seketika runtuh. Di tengah kepungan krisis iklim, ketika negara-negara maju sibuk berdebat di forum internasional tentang kuota emisi karbon, masyarakat adat Bayan telah lama mempraktikkan solusinya secara nyata di lapangan. Mereka menjaga paru-paru bumi dan merawat pasokan oksigen dunia, justru lewat bait-bait doa dan kepulan asap kemenyan yang selama ini disalahpahami. Ritual, pada akhirnya, adalah cara paling intim dan paling cerdas yang dimiliki manusia untuk mencintai bumi tempat mereka berpijak.

Comments
Post a Comment