Teman-teman, kalian pernah mendengar atau membaca gak kalimat yang bunyinya seperti ini: "Kalau sudah kena autoimun, ya pasrah saja, penyakit ini nggak bisa sembuh dan harus minum obat seumur hidup"?
Bagi sebagian besar orang yang baru saja didiagnosis dokter mengalami autoimun entah itu Psoriasis, Lupus, Hashimoto, atau jenis lainnya, kalimat tersebut rasanya seperti petir di siang bolong. Bikin ciut nyali dan langsung berkecil hati. Tapi, tunggu dulu. Dr. David Afandijaya bersama Detalk membawa sebuah kabar baik yang sangat melegakan: Yes, autoimun itu bisa sembuh! Dr. David sendiri adalah bukti nyatanya. Beliau berhasil sembuh total dari dua jenis autoimun sekaligus, yaitu Psoriasis (yang menyerang kulit) dan Hashimoto (yang menyerang kelenjar tiroid).
Lalu, kalau memang bisa sembuh, kenapa selama ini banyak yang bilang tidak bisa? Yuk, kita bedah pelan-pelan.
Jebakan "Mengobati Gejala" vs "Menyembuhkan Akar Masalah"
Dalam dunia medis konvensional, fokus utama pengobatan sering kali berada pada gejala yang muncul di permukaan. Kalau kulitmu merah-merah, bersisik, dan gatal karena Psoriasis, kamu akan diberi salep atau obat antiradang untuk kulit. Kalau kelenjar tiroidmu bermasalah karena Hashimoto sehingga badanmu lemas dan gampang gemuk, kamu akan diberi hormon buatan untuk menstabilkan tiroidnya. Apakah cara ini salah? Tentu tidak. Obat-obatan tersebut sangat membantu agar kita tidak tersiksa oleh gejalanya.
Tapi masalahnya di sini: Mengobati gejala itu ibarat kamu melihat lantai rumah basah karena atapnya bocor, lalu kamu sibuk mengepel lantainya terus-menerus tanpa pernah menambal atapnya. Hasilnya? Begitu kamu berhenti mengepel, lantainya bakal basah lagi. Kamu akan berputar-putar di tempat tanpa pernah benar-benar selesai.
Di Mana Sih Akar Masalah Autoimun Sebenarnya?
Ini dia rahasia besarnya: Penyakit autoimun itu canggih, tapi sebetulnya "salah alamat". Jika kamu menderita Psoriasis atau Vitiligo, akar masalahnya bukan di kulitmu. Jika kamu menderita Hashimoto, akar masalahnya bukan di tiroidmu. Begitu pula dengan jenis autoimun lainnya.
Kulit dan tiroid hanyalah "korban salah sasaran" dari sistem imun tubuhmu yang sedang mengamuk. Jadi, kalau kita betul-betul mau sembuh dari autoimun, yang harus kita perbaiki bukan organ yang menjadi korban, melainkan akar masalah yang membuat sistem imun kita jadi ngamuk dan bingung.
Sistem tubuh kita itu sebenarnya super pintar dan sangat kompleks. Autoimun tidak datang tiba-tiba tanpa sebab. Penyakit ini tercetus karena adanya akumulasi dari pola hidup yang keliru, makanan pemicu (trigger food), lingkungan yang tidak sehat, hingga kondisi pencernaan yang rusak (disbiosis).
Langkah Awal untuk Sembuh
Jadi, untuk kita yang saat ini sedang berjuang melawan autoimun, jangan berkecil hati lagi, ya! Langkah pertama yang harus ditanamkan di dalam pikiran adalah: Tubuhmu punya kemampuan luar biasa untuk menyembuhkan dirinya sendiri (self-healing), asalkan kamu memberinya modal yang tepat.
Alih-alih cuma fokus mencari "obat sakti" untuk menghilangkan gejala instan, mulailah melirik ke dalam diri: Perbaiki apa yang kamu makan sehari-hari, Kelola stres dengan baik, Perbaiki jam tidurmu.
Sembuh dari autoimun itu bukan tentang keajaiban obat semalam, melainkan tentang komitmenmu untuk mengubah pola hidup secara total.

Comments
Post a Comment