Stres dan Emosi Terpendam, Musuh Dalam Selimut yang Bikin Autoimun Kamu Mengamuk!

stress

Kita sering sekali mendengar nasihat, "Jangan stres ya, nanti penyakitnya kambuh." Bagi pejuang autoimun, kalimat ini bukan cuma sekadar basa-basi, tapi sebuah fakta lapangan yang sering kali terbukti kebenarannya.

Banyak orang bertanya-tanya: Apakah stres itu yang memicu munculnya autoimun sejak awal? Dan benarkah emosi yang kita pendam lama-kelamaan bisa berubah menjadi penyakit fisik? Dr. David Afandijaya meluruskan mitos ini dengan penjelasan yang sangat logis berdasarkan cara kerja tubuh kita. Yuk, kita bongkar bagaimana pikiran yang ruwet bisa membuat fisik kita ikut berantakan! 

Stres Sendiri Tidak Bikin Autoimun, TAPI...

Mari kita luruskan dulu faktanya. Menurut Dr. David, stres sendirian tidak bisa langsung mencetuskan atau menciptakan penyakit autoimun dari kondisi tubuh yang awalnya 100% sehat. Jadi, kamu tidak akan tiba-tiba kena autoimun hanya karena pusing memikirkan pekerjaan selama satu atau dua hari. Namun, ceritanya akan sangat berbeda jika di dalam tubuhmu sebenarnya sudah ada "bakat" atau kondisi awal autoimun (misalnya ususmu sudah mulai mengalami disbiosis). Saat kondisi itu terjadi dan kamu dihantam stres berat atau overthinking, yang terjadi adalah ledakan peradangan (flare)! 

Kenapa stres bisa memperburuk autoimun secara drastis? Ini alasannya: 

Hormon Berantakan: Saat stres, produksi hormon kortisol (anti-radang alami tubuh) akan kacau, dan hormon progesteronmu akan hancur. Akibatnya, benteng pertahanan tubuh untuk meredam peradangan menjadi roboh.

Jebakan Comfort Food: Ketika pikiran stres, otak kita secara alami akan mencari pelarian instan untuk menenangkan diri. Sayangnya, pelarian paling gampang adalah junk food atau makanan yang tinggi gula dan karbohidrat. Bagi orang autoimun, makanan ini adalah bahan bakar yang membuat peradangan di usus makin menyala-nyala. 

Misteri Emosi Terpendam dan Pola Makan Negatif 

Lalu, bagaimana dengan emosi yang dipendam? Apakah patah hati, dendam, atau rasa sedih yang disimpan rapat-rapat bisa langsung berubah jadi penyakit? Jawabannya: Secara langsung mungkin tidak. Emosi tidak tiba-tiba bermutasi menjadi sel autoimun. Tapi, emosi terpendam akan mengubah kepribadian dan perilaku (food habit) seseorang secara negatif. Orang yang memendam emosi atau mengalami trauma psikologis yang belum selesai biasanya memiliki hubungan yang tidak sehat dengan makanan (emotional eating). Mereka cenderung mencari makanan dengan rasa yang kuat (terlalu manis, terlalu gurih) sebagai pengganti kebahagiaan atau penenang emosi mereka. Nah, dari pola makan yang rusak bertahun-tahun akibat pelarian emosi inilah, penyakit-penyakit degeneratif dan autoimun itu akhirnya lahir. 

Tubuh Kita Menyimpan Trauma: Kenalan dengan Fasia 

Satu fakta luar biasa yang dibagikan Dr. David adalah bahwa tubuh kita secara fisik sebenarnya merekam semua trauma masa lalu kita melalui jaringan ikat yang bernama Fasia. Fasia adalah jaringan tipis yang membungkus seluruh otot dan organ tubuh kita. 

Ketika kita mengalami trauma psikologis, stres kronis, atau kecemasan yang berkepanjangan, fasia di dalam tubuh kita akan merespons dengan cara melengket dan mengeras. Pernahkah kamu merasa leher tegangan, bahu kaku, punggung pegal, atau pinggang kaku yang tidak sembuh-sembuh walau sudah sering dipijat? Sering kali, itu bukan sekadar lelah fisik biasa, melainkan tanda bahwa tubuhmu sedang menyimpan memori trauma dan emosi yang terperangkap di dalam fasia. 

Jika dibiarkan mengeras dalam jangka panjang, lengketnya fasia ini akan mulai mengganggu fungsi gerak bahkan fungsi organ tubuhmu. 

Solusi: Kelola Pikiran, Kelola Makanan 

Jadi, menyembuhkan autoimun tidak akan pernah sempurna jika kamu hanya menjaga apa yang masuk ke mulut, tapi membiarkan pikiranmu terus-menerus diracuni oleh stres dan emosi negatif. Mulai hari ini, luangkan waktu untuk melakukan manajemen stres: Sadari emosimu, jangan dipendam sendirian. Cari support system atau profesional jika perlu. Lakukan peregangan (stretching) ringan atau yoga untuk membantu melepaskan ketegangan pada fasia tubuh. Saat stres datang, ambil segelas air putih hangat, bukan mencari camilan manis.

Comments