Menghina Fisik Wapres? Salah Besar! Ini Alasan Cerdas di Balik Roastingan Pandji.

Baru juga masuk 2026, eh, timeline sosmed udah kebakaran jenggot lagi. Gara-garanya sederhana: satu orang botak berdiri di panggung Netflix, megang mic, dan ngomongin apa yang sebenernya banyak dan sering kita omongin di warung kopi tapi takut di-post di medsos. Ya, Pandji Pragiwaksono balik lagi dengan Mens Rea.

Jujur aja, nonton Mens Rea itu rasanya kayak lagi diurut sama tukang pijat yang sadis. Sakit? Banget. Tapi pas kelar, badan rasanya enteng karena semua "masuk angin" politik yang kita pendam setahun belakangan ini akhirnya "disendawakan" dengan lantang.

Pandji berani banget. Dia gak lagi main aman, asli dia main api—dan kita semua menikmati kehangatannya. Tapi, biasalah ya, namanya juga Indonesia. Kalau nggak ada yang baper, rasanya kurang afdal. Muncul deh suara-suara sumbang yang bilang Pandji ini cuma "pedagang olok-olokan" atau "penista fisik pejabat".

Mari simak ini, duduk sebentar, seruput kopi, dan kita bedah kenapa argumen mereka itu sebenernya lebih lucu dari materinya Pandji.

1. "Pandji Cuma Cari Duit dari Ngolok-ngolok Presiden dan Pejabat!"

Wah, narasi ini klasik banget. "Duh, cari makan kok gitu amat, ngejelek-jelekin pemimpin sendiri."

Halo? Mari kita luruskan logikanya.
Pertama, mari bicara soal komoditas. Kalau Pandji dibilang "menjual" olok-olokan, terus apa kabar pejabat kita? Bukankah mereka sering "menjual" janji manis yang pas udah kepilih ternyata barangnya fiktif? Bukankah ada yang "menjual" aset negara atau izin tambang buat kepentingan segelintir orang?

Pandji cuma menjual tiket dan langganan Netflix. Transaksinya jelas: Lo bayar, lo ketawa (atau tersinggung), kelar. Nggak ada APBN yang bocor, nggak ada hutan adat yang digusur gara-gara bit dia tentang Jokowi atau Prabowo.

Kedua, soal rasa hormat. Banyak yang lupa kalau stand-up comedy, apalagi di level special show begini, adalah bentuk tertinggi dari check and balances budaya. Ketika DPR diam, ketika media massa main aman, komedian lah yang tugasnya jadi "anjing penjaga" (in good way ya).

Menertawakan penguasa itu bukan penghinaan, itu mekanisme pertahanan rakyat. Kalau pejabatnya tingkahnya absurd—kayak bikin konten joget-joget padahal rakyat lagi susah makan—masa kita harus tepuk tangan? Ya kita ketawain lah. Pandji nggak menciptakan keburukan itu; dia cuma ngasih cermin. Kalau bayangan di cermin itu jelek, jangan pecahin cerminnya, tapi benerin mukanya (baca: kinerjanya).

Jadi, kalau dibilang Pandji cari duit dari keburukan pejabat, salah besar. Pandji cari duit dari kewarasan kita yang butuh validasi bahwa, "Gila, ternyata bukan gue doang yang ngerasa negara ini lagi agak laen."

2: "Parah Banget, Pandji Menghina Fisik dan Pribadi Gibran!"

Nah, ini nih yang paling sering digoreng. "Jangan body shaming dong!" atau "Gibran kan diam aja, kok diserang terus?"

Poin tentang Gibran di Mens Rea itu bukan soal fisik an sich. Itu adalah metafora.

Ketika Pandji membahas gestur, mimik muka, atau (mungkin referensi ke kasus Fufufafa yang legendaris itu), dia sedang tidak ngomongin Gibran sebagai "mas-mas biasa tetangga sebelah". Dia sedang membicarakan Gibran sebagai Simbol Negara. Dia Wapres, lho. Orang nomor dua di republik ini.

Dalam panggung politik dan satir, tubuh pejabat adalah tubuh publik. Cara dia berdiri, cara dia ngomong (atau cara dia menolak ngomong), itu adalah representasi dari kompetensi dan wibawanya.

Mengkritik Gibran yang kelihatan "kosong" atau "cuma planga-plongo" (meminjam istilah netizen) bukanlah penghinaan fisik seperti ngatain orang di jalanan. Itu adalah kritik terhadap kapabilitas. Itu cara satir bilang: "Woy, ini jabatan sakral, kok diisinya sama figur yang bahkan berdiri tegak di depan argumen aja susah?"

Lagipula, agak ironis nggak sih kita sibuk membela perasaan seorang pejabat tinggi negara yang punya akses ke semua kemewahan dan kekuasaan, sementara pejabat tersebut mungkin nggak pernah mikirin perasaan kita pas harga beras naik atau pas pajak kita dipake buat proyek nggak jelas?

Satire punches up, not down. Pandji memukul ke atas. Dia meninju kekuasaan yang super power. Kalau kekuasaan itu merasa "sakit" cuma karena diketawain, berarti kekuasaan itu rapuh banget.

Jadi Kesimpulannya adalah... 
Pada akhirnya, Mens Rea atau "Niat Jahat" yang dimaksud Pandji mungkin bukan cuma soal politisi. Tapi soal kita juga.

Apakah kita punya "niat jahat" untuk membiarkan demokrasi ini jadi lelucon selamanya? Atau kita mau pakai tawa ini sebagai bensin buat mulai mikir kritis lagi?

Buat yang masih marah-marah sama Pandji: Santai, Bro. Itu cuma komedi. Yang horor beneran itu bukan mulutnya Pandji, tapi kenyataan kalau apa yang diomongin Pandji itu... semuanya fakta.

Comments