Pelajaran Penting dari Film Remarkably Bright Creatures : Saat Luka Menemukan Penawarnya.!


Baru saja saya menyelesaikan film adaptasi dari novel Remarkably Bright Creatures di Netflix. Kalau kamu serius dan fokus menonton, beneran rasanya seperti baru saja melakukan perjalanan menyelam ke dasar laut yang paling tenang, lalu muncul ke permukaan dengan napas yang lebih lega.

Disclaimer : Tulisan ini bukan review, ini adalah semacam renungan sehabis nonton film ini. Review lengkapnya bisa kalian baca di IMAJIE REVIEW.

Film ini membawa saya merenung: Kehilangan sering kali digambarkan sebagai lubang besar yang kosong, tapi bagi Tova Sullivan, kehilangan adalah rutinitas yang bersih dan rapi. Saya melihat bagaimana trauma tidak selalu mewujud dalam ledakan tangis; terkadang, ia bersembunyi di balik keinginan untuk terus bergerak agar pikiran tidak punya celah untuk bertanya: "Mengapa ini terjadi?"

1. Geometri Luka dan Jebakan Rutinitas

Menonton sosok Tova adalah melihat refleksi banyak dari kita yang memilih "kesibukan" sebagai mekanisme pertahanan. Dengan membersihkan kaca akuarium setiap malam, Tova sebenarnya sedang berusaha menghapus debu-debu kenangan akan putranya yang hilang 30 tahun silam.

Namun, saya belajar satu hal penting malam ini: trauma yang tidak diproses adalah energi yang terperangkap. Ia tidak akan hilang hanya karena kita menyibukkan diri. Luka Tova menjadi statis, seperti air di dalam tangki akuarium, hingga akhirnya ia bertemu dengan Marcellus—makhluk yang justru hidup di dalam keterbatasan itu sendiri.

2. Perjalanan Menuju 'Closure'

Sering kali kita mencari closure pada jawaban yang tak kunjung datang. Padahal, melalui hubungan unik Tova dan Marcellus (Si Gurita), saya diingatkan bahwa berdamai dengan masa lalu bukanlah tentang mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan "mengapa".

Berdamai adalah tentang menerima bahwa ada bagian dari hidup kita yang akan tetap menjadi misteri, namun itu tidak menghalangi kita untuk tetap merasa utuh. Kedekatan mereka menunjukkan bahwa pemulihan sering kali terjadi saat kita berani membuka diri pada koneksi baru—bahkan jika koneksi itu terasa mustahil, seperti persahabatan antara manusia dan seekor gurita.

3. Mengapa Gurita Begitu Menarik?

Setelah menonton, saya jadi tertarik mencari tahu lebih dalam tentang gurita secara ilmiah. Ternyata, pemilihan makhluk ini sebagai "teman bicara" Tova sangatlah jenius secara filosofis maupun biologis:

Kecerdasan yang Terdesentralisasi: Tidak seperti kita yang pusat kendalinya ada di otak, sekitar dua pertiga neuron gurita ada di lengan-lengannya. Lengan mereka bisa "berpikir" dan bertindak secara mandiri. Ini selaras dengan cara kita memproses trauma: terkadang tubuh kita bereaksi terhadap memori jauh sebelum pikiran kita menyadarinya.

Ahli dalam Melepaskan: Secara biologis, gurita memiliki kemampuan untuk melepaskan anggota tubuhnya jika terancam bahaya (autotomi). Mereka adalah simbol hidup tentang bagaimana "melepaskan" adalah kunci untuk tetap bertahan hidup.

Memori yang Tajam dalam Waktu yang Singkat: Gurita hidup dengan intensitas tinggi namun memiliki usia yang pendek. Keterbatasan waktu Marcellus di film ini seolah menjadi pengingat bagi saya (dan Tova) bahwa waktu kita terlalu berharga untuk terus berlari dari masa lalu.


Pada akhirnya, bagi saya, film ini adalah pengingat bahwa kita semua sering kali terjebak dalam "akuarium" yang kita buat sendiri entah itu berupa penyesalan, standar hidup yang kaku, atau duka yang tak usai.

Berdamai dengan masa lalu bukan berarti kita melupakan apa yang hilang di tengah lautan hidup, melainkan belajar untuk terus berenang di permukaan tanpa takut tenggelam oleh bebannya. Terkadang, kita hanya butuh sudut pandang dari "luar" untuk menyadari bahwa meski hidup ini penuh kehilangan, ia tetaplah sebuah perjalanan yang luar biasa terang.

Comments