Laki-laki Kok Enggak Suka Bola?


Sejak kecil, banyak dari kita tumbuh dengan peta jalan yang sudah digambar oleh orang lain di lingkungan kita. Bagi seorang anak laki-laki, peta itu sseringnya berupa instruksi yang sangat kaku: jangan menangis, jangan terlihat lemah, dan jadilah yang terkuat. Kita terbiasa mendengar kalimat seperti, "Laki-laki kok nangis, memalukan!" atau "Kalau dipukul, balas pukul lagi, jangan mau kalah!". "Laki-laki kok gak suka bola?!" Tanpa disadari, ekspektasi-ekspektasi ini tumbuh bersama kita, membentuk sebuah dinding tebal yang memisahkan diri kita yang sebenarnya dengan apa yang dituntut oleh lingkungan sekitar.

Fenomena inilah yang hari ini sering kita sebut sebagai toxic masculinity atau maskulinitas beracun. Istilah ini sering kali disalahartikan sebagai serangan terhadap kaum pria. Padahal, sama sekali bukan tentang menyalahkan pria menjadi pria. Sebaliknya, istilah ini lahir untuk menggugat tuntutan sosial yang sempit, yang memaksa pria memakai topeng ketangguhan palsu yang perlahan-lahan justru merusak kesehatan mental dan membebani jiwanya sendiri.

Mari kita lihat sekeliling kita. Berapa banyak penyeragaman minat yang terjadi hanya karena label gender? Seorang pria sering kali dianggap "kurang jantan" jika ia tidak menyukai sepak bola, tidak gemar bersenang-senang di luar rumah, atau lebih memilih membaca buku dan memasak di dapur.

Mengapa kemampuan dasar bertahan hidup seperti memasak dan mengasuh anak harus diberi label gender? Ketika seorang ayah memilih untuk memandikan bayinya atau menyiapkan makan malam, itu bukanlah bentuk penurunan harga diri atau "takut istri", melainkan wujud nyata dari tanggung jawab dan kasih sayang yang tulus.

Lebih jauh lagi, doktrin ini sering kali menormalisasi kekerasan. Pria seolah-olah dituntut untuk menyelesaikan konflik dengan otot atau keagresifan demi membuktikan eksistensinya. Bahkan dalam hal perawatan diri, ada stigma tak kasat mata bahwa pria yang peduli pada kebersihan kulit atau penampilan fisik dianggap kurang maskulin. Akibatnya, banyak pria yang abai terhadap kesehatan diri mereka sendiri hanya karena takut dihakimi oleh lingkungan sosialnya.

Ketika seorang pria dipaksa untuk menahan semua emosinya sendirian, dampak yang dihasilkan bisa sangat merusak. Kemandirian yang ekstrem (hyper-independence) membuat banyak pria enggan mencari bantuan, baik bantuan medis saat sakit fisik maupun ruang aman saat kesehatan mentalnya terganggu. Mereka menimbun stres, kecemasan, dan kesedihan di balik senyuman atau amarah—karena amarah sering kali menjadi satu-satunya emosi yang "diizinkan" bagi pria untuk diekspresikan di depan umum.

Tekanan ini tidak hanya merugikan diri si pria, tetapi juga merenggangkan hubungannya dengan orang-orang tercinta. Ketika kita kesulitan menunjukkan kerentanan (vulnerability), kita juga akan kesulitan membangun hubungan emosional yang mendalam dan tulus dengan pasangan, anak, maupun sahabat. Kita hadir secara fisik, namun absen secara jiwa. Kita menjadi asing di dalam rumah kita sendiri.

Mendekonstruksi pemikiran lama yang sudah mengakar ini memang menantang, namun sangat penting untuk dimulai. Menjadi pria yang sehat (healthy masculinity) berarti berani menerima emosi sebagai bagian dari kemanusiaan kita. Menangis bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa kita memiliki hati yang masih berfungsi.

Di sinilah pentingnya kehadiran figur pria atau ayah yang utuh, baik secara fisik maupun emosional (paternal presence). Ketika seorang ayah tidak gengsi menunjukkan empati, mau mendengarkan tanpa menghakimi, dan berani mengekspresikan kasih sayang lewat pelukan atau kata-kata, ia sedang memutus rantai trauma antargenerasi. Ia sedang mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa menjadi maskulin tidak harus menjadi kaku dan beracun.

Mari kita sadari bersama bahwa kekuatan sejati seorang pria tidak diukur dari seberapa keras ia bisa memukul, seberapa dominan ia menindas, atau seberapa rapat ia menyembunyikan lukanya. Kekuatan sejati itu ada pada keberanian untuk jujur pada diri sendiri, bertanggung jawab dengan penuh kasih, dan menjadi ruang aman bagi orang-orang di sekitarnya.

Comments