Suara deru meriam telah lama bungkam, berganti dengan desau angin yang membawa bau garam dan sisa-sisa kayu terbakar dari dalam Tuwa. Pertempuran di Brang Oetan tidak menyisakan kegemilangan yang sering dibanggakan dalam hikayat-hikayat kerajaan; ia hanya menyisakan sunyi yang amat panjang dan berat.
Di
tepian sungai yang kini menjadi saksi bisu, matahari mulai meredup, membiarkan
semburat jingga pucat menyapu hamparan puing-puing kapal yang berserakan.
Pemandangan itu adalah sebuah lukisan duka: potongan tiang layar yang patah,
perahu-perahu kecil yang karam separuh, dan di atas pasir yang dingin, sebuah
artefak kolosal yang akan diingat zaman—jangkar kayu besar yang telah terlepas
dari lambungnya, menghujam bumi seperti salib yang menolak lapuk oleh arus
sejarah.
Saleh
dan Fatimah berjalan terhuyung di sepanjang bibir pantai. Langkah mereka tidak
lagi tegap seperti pemuda-pemudi yang dulu berlarian di antara rumpun padi.
Setiap langkah adalah perjuangan melawan rasa lelah yang menggerogoti sumsum
tulang. Tubuh mereka penuh luka—luka gores, memar, dan bekas cambuk yang
meradang—namun luka-luka itu tampak kerdil jika dibandingkan dengan luka di
jiwa mereka yang kini menganga lebar.
Di
depan jangkar kayu yang menjulang itu, mereka berhenti. Fatimah merosot jatuh
ke atas pasir, kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya. Ia menatap jangkar
raksasa itu, lalu menatap telapak tangannya sendiri yang kotor oleh jelaga dan
darah kering. Sebuah isak tangis, yang selama berbulan-bulan ia simpan di balik
dinding kehormatannya, akhirnya pecah. Itu bukan tangis yang merengek,
melainkan tangis yang meraung, merobek kesunyian sore itu hingga ke kedalaman
hutan.
Saleh
berlutut di sampingnya. Ia tidak mencoba menenangkan dengan kata-kata manis,
karena ia tahu kata-kata tidak akan pernah cukup untuk menambal robekan di hati
mereka. Ia hanya merengkuh tubuh Fatimah, mendekapnya ke dadanya yang
bidang—dada yang dulunya detaknya teratur oleh kerja keras di ladang, kini
bergetar hebat oleh sesak yang tak terperi.
"Kita
masih hidup," bisik Saleh, suaranya parau, seperti gesekan batu di dasar
sungai. "Lihatlah, Fatimah. Kita masih hidup."
"Untuk
apa, Saleh?" Fatimah membalas di sela isak tangisnya, suaranya pecah dan
bergetar. "Lihatlah sekeliling kita. Labu Pukat telah hilang. Alang
kita, rumah kita, masa kecil kita, semuanya menjadi abu. Apa yang tersisa untuk
dua orang seperti kita di dunia yang telah hancur ini?"
Saleh
menangkup wajah Fatimah. Ia melihat wajah itu—wajah yang dulunya penuh dengan
keceriaan yang tenang, kini dipenuhi garis-garis kelelahan dan tatapan yang
menyimpan kengerian. Ia menyapu helaian rambut yang menutupi dahi Fatimah,
jemarinya lembut, penuh dengan kasih yang telah ditempa oleh api.
"Segala
sesuatu yang kita bangun dengan tangan kita bisa dibakar, Fatimah," ujar
Saleh, matanya menatap tajam ke arah jangkar kayu yang kokoh itu. "Namun,
perang tidak bisa membakar apa yang ada di dalam sini." Ia menunjuk ke
arah dada Fatimah, lalu ke arah dadanya sendiri. "Mereka merampas
segalanya, mereka merampas rumah, mereka merampas panen, mereka mencoba
merampas martabat kita. Namun lihatlah, kita tetap berdiri di sini. Jangkar ini
memang telah karam, ia kehilangan fungsinya sebagai penahan kapal, namun ia
tetaplah benda yang kuat. Begitu pula kita. Kita tidak lagi sama, Fatimah. Kita
telah rusak, kita telah patah, namun kita tetap utuh di hadapan Tuhan."
Fatimah
menenggelamkan wajahnya di dada Saleh. Ia merasakan aroma tanah, aroma
keringat, dan aroma kayu yang masih melekat pada kekasihnya—aroma kehidupan
yang nyaris hilang darinya. Di depan jangkar kayu itu, mereka bukan lagi
seapsang kekasih yang bermimpi tentang rumah kecil di tengah ladang padi.
Mereka adalah penyintas, dua jiwa yang telah menyeberangi lautan kematian dan
kembali untuk menceritakan kisah yang mustahil.
"Aku
takut," bisik Fatimah, suaranya mengecil. "Aku takut jika aku
memejamkan mata, aku akan terbangun di kapal itu lagi. Aku takut jika aku
tertidur, aku akan mendengar suara cambuk itu lagi."
"Maka
jangan pernah memejamkan mata sendirian," jawab Saleh tegas. "Mulai
hari ini, aku akan menjadi penjagamu. Jika kau tidak bisa tidur, aku akan
menatap bintang untukmu. Jika kau takut akan kegelapan, aku akan menjadi cahaya
sekecil apa pun yang kau butuhkan. Kita akan membangun kembali Labu Pukat bukan
hanya dengan padi, tetapi juga dengan kenangan yang kita pulihkan."
Di
sekitar mereka, sisa-sisa pasukan Bone dan Belanda mulai bersiap untuk pergi.
Mereka melihat ke arah pasangan itu dengan pandangan yang aneh—campuran antara
rasa heran dan hormat. Mereka adalah para serdadu yang terbiasa dengan
kematian, namun mereka tidak terbiasa melihat cinta yang mampu bertahan di
antara reruntuhan yang begitu sempurna.
Saleh
menatap ke cakrawala. Di sanalah kapal-kapal musuh itu dulu datang, membawa
badai. Kini, cakrawala itu tampak jernih, seolah laut sedang membasuh dirinya
sendiri dari segala dosa yang telah terjadi. Ia menyadari bahwa dendam yang
selama ini ia pelihara seperti pisau di balik baju, kini telah tumpul. Ia telah
membunuh Pamolikang, ia telah mendapatkan Fatimah kembali, namun ia tidak
merasakan kepuasan yang ia bayangkan sebelumnya. Ia hanya merasakan kehampaan
yang perlahan terisi oleh rasa syukur yang pahit.
"Lihatlah
jangkar ini, Fatimah," Saleh menunjuk ukiran kayu yang kasar namun agung
itu. "Ia adalah sisa dari kapal perompak yang ingin menghancurkan kita.
Sekarang, ia hanyalah kayu yang mati. Ia tidak bisa lagi menahan kapal, ia
tidak bisa lagi berlayar. Namun di sini, ia menjadi monumen bagi kita. Ia
adalah bukti bahwa kapal-kapal besar pun akan tenggelam, bahwa perompak paling
kejam pun akan binasa. Tapi cinta, cinta yang sederhana seperti doa-doa kita di
masjid tua itu, adalah satu-satunya yang tetap berdiri."
Fatimah
akhirnya mengangkat wajahnya. Air matanya masih mengalir, namun tatapannya kini
berbeda, lebih dalam, lebih dewasa, dan lebih terang. Ia menyentuh permukaan
jangkar yang kasar itu. Dinginnya kayu yang terendam air laut selama
berbulan-bulan itu seolah meresap ke dalam kulitnya, menenangkan api yang
sempat membakar jiwanya.
"Kita
akan menanam pohon lontar baru di sekitar jangkar ini," kata Fatimah
pelan. "Agar anak cucu kita tahu, bahwa di tanah ini, pernah ada dua orang
yang hampir kehilangan segalanya, namun memilih untuk tidak pernah kehilangan
satu sama lain."
"Kita
akan kembali menjadi petani," sahut Saleh, menatap ladang yang kini
gersang dan penuh bekas pijakan sepatu bot. "Kita akan kembali bekerja,
mengolah tanah ini hingga padi-padi itu kembali merunduk. Kita akan menanam
kehidupan di atas tanah yang dipenuhi darah."
Mereka
berdiri, perlahan namun pasti. Saleh menuntun Fatimah, jemari mereka bertaut
erat, seolah-olah jika genggaman itu terlepas, dunia akan menarik mereka
kembali ke dalam kegelapan. Mereka berjalan menjauhi tepian sungai,
meninggalkan sisa-sisa perang, meninggalkan kehancuran, meninggalkan jangkar
kayu yang kini menjadi saksi bisu bagi cinta yang paling tangguh.
Malam
mulai turun, membawa bintang-bintang yang mulai bermunculan satu per satu,
seolah menjadi lentera yang menyambut mereka pulang. Labu Pukat memang hancur,
namun jiwa mereka telah menemukan dermaga. Di tengah sunyi yang menyelimuti,
mereka melangkah mantap, dua jiwa yang telah ditempa oleh api, kembali menapaki
jalan yang akan membawa mereka menuju hari esok yang lebih cerah.
Sisa-sisa
perang itu bukan lagi berarti kekalahan; itu adalah bab pertama dari sebuah
sejarah baru. Sejarah yang tidak ditulis dengan tinta darah di atas buku-buku
kekuasaan, melainkan ditulis dengan kesetiaan di atas tanah yang pernah mereka
pertahankan. Dan di bawah langit yang sama, di atas tanah yang sama, mereka
tahu, bahwa mereka tidak akan pernah lagi merasa sendirian. Karena dalam setiap
hembusan angin, dalam setiap dentang kehidupan yang mulai berdetak kembali,
mereka adalah pemenang yang sesungguhnya. Pemenang yang tidak menuntut harta,
melainkan menuntut hak untuk terus mencintai, di sela-sela reruntuhan, sampai
akhir zaman.
Bersambung ke bagian 10
Bagian X (Sepuluh)
...
...

Comments
Post a Comment