Gerimis Di Brang Oetan : Bagian 9 - Sisa-sisa Perang


Suara deru meriam telah lama bungkam, berganti dengan desau angin yang membawa bau garam dan sisa-sisa kayu terbakar dari dalam Tuwa. Pertempuran di Brang Oetan tidak menyisakan kegemilangan yang sering dibanggakan dalam hikayat-hikayat kerajaan; ia hanya menyisakan sunyi yang amat panjang dan berat.

Di tepian sungai yang kini menjadi saksi bisu, matahari mulai meredup, membiarkan semburat jingga pucat menyapu hamparan puing-puing kapal yang berserakan. Pemandangan itu adalah sebuah lukisan duka: potongan tiang layar yang patah, perahu-perahu kecil yang karam separuh, dan di atas pasir yang dingin, sebuah artefak kolosal yang akan diingat zaman—jangkar kayu besar yang telah terlepas dari lambungnya, menghujam bumi seperti salib yang menolak lapuk oleh arus sejarah.

Saleh dan Fatimah berjalan terhuyung di sepanjang bibir pantai. Langkah mereka tidak lagi tegap seperti pemuda-pemudi yang dulu berlarian di antara rumpun padi. Setiap langkah adalah perjuangan melawan rasa lelah yang menggerogoti sumsum tulang. Tubuh mereka penuh luka—luka gores, memar, dan bekas cambuk yang meradang—namun luka-luka itu tampak kerdil jika dibandingkan dengan luka di jiwa mereka yang kini menganga lebar.

Di depan jangkar kayu yang menjulang itu, mereka berhenti. Fatimah merosot jatuh ke atas pasir, kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya. Ia menatap jangkar raksasa itu, lalu menatap telapak tangannya sendiri yang kotor oleh jelaga dan darah kering. Sebuah isak tangis, yang selama berbulan-bulan ia simpan di balik dinding kehormatannya, akhirnya pecah. Itu bukan tangis yang merengek, melainkan tangis yang meraung, merobek kesunyian sore itu hingga ke kedalaman hutan.

Saleh berlutut di sampingnya. Ia tidak mencoba menenangkan dengan kata-kata manis, karena ia tahu kata-kata tidak akan pernah cukup untuk menambal robekan di hati mereka. Ia hanya merengkuh tubuh Fatimah, mendekapnya ke dadanya yang bidang—dada yang dulunya detaknya teratur oleh kerja keras di ladang, kini bergetar hebat oleh sesak yang tak terperi.

"Kita masih hidup," bisik Saleh, suaranya parau, seperti gesekan batu di dasar sungai. "Lihatlah, Fatimah. Kita masih hidup."

"Untuk apa, Saleh?" Fatimah membalas di sela isak tangisnya, suaranya pecah dan bergetar. "Lihatlah sekeliling kita. Labu Pukat telah hilang. Alang kita, rumah kita, masa kecil kita, semuanya menjadi abu. Apa yang tersisa untuk dua orang seperti kita di dunia yang telah hancur ini?"

Saleh menangkup wajah Fatimah. Ia melihat wajah itu—wajah yang dulunya penuh dengan keceriaan yang tenang, kini dipenuhi garis-garis kelelahan dan tatapan yang menyimpan kengerian. Ia menyapu helaian rambut yang menutupi dahi Fatimah, jemarinya lembut, penuh dengan kasih yang telah ditempa oleh api.

"Segala sesuatu yang kita bangun dengan tangan kita bisa dibakar, Fatimah," ujar Saleh, matanya menatap tajam ke arah jangkar kayu yang kokoh itu. "Namun, perang tidak bisa membakar apa yang ada di dalam sini." Ia menunjuk ke arah dada Fatimah, lalu ke arah dadanya sendiri. "Mereka merampas segalanya, mereka merampas rumah, mereka merampas panen, mereka mencoba merampas martabat kita. Namun lihatlah, kita tetap berdiri di sini. Jangkar ini memang telah karam, ia kehilangan fungsinya sebagai penahan kapal, namun ia tetaplah benda yang kuat. Begitu pula kita. Kita tidak lagi sama, Fatimah. Kita telah rusak, kita telah patah, namun kita tetap utuh di hadapan Tuhan."

Fatimah menenggelamkan wajahnya di dada Saleh. Ia merasakan aroma tanah, aroma keringat, dan aroma kayu yang masih melekat pada kekasihnya—aroma kehidupan yang nyaris hilang darinya. Di depan jangkar kayu itu, mereka bukan lagi seapsang kekasih yang bermimpi tentang rumah kecil di tengah ladang padi. Mereka adalah penyintas, dua jiwa yang telah menyeberangi lautan kematian dan kembali untuk menceritakan kisah yang mustahil.

"Aku takut," bisik Fatimah, suaranya mengecil. "Aku takut jika aku memejamkan mata, aku akan terbangun di kapal itu lagi. Aku takut jika aku tertidur, aku akan mendengar suara cambuk itu lagi."

"Maka jangan pernah memejamkan mata sendirian," jawab Saleh tegas. "Mulai hari ini, aku akan menjadi penjagamu. Jika kau tidak bisa tidur, aku akan menatap bintang untukmu. Jika kau takut akan kegelapan, aku akan menjadi cahaya sekecil apa pun yang kau butuhkan. Kita akan membangun kembali Labu Pukat bukan hanya dengan padi, tetapi juga dengan kenangan yang kita pulihkan."

Di sekitar mereka, sisa-sisa pasukan Bone dan Belanda mulai bersiap untuk pergi. Mereka melihat ke arah pasangan itu dengan pandangan yang aneh—campuran antara rasa heran dan hormat. Mereka adalah para serdadu yang terbiasa dengan kematian, namun mereka tidak terbiasa melihat cinta yang mampu bertahan di antara reruntuhan yang begitu sempurna.

Saleh menatap ke cakrawala. Di sanalah kapal-kapal musuh itu dulu datang, membawa badai. Kini, cakrawala itu tampak jernih, seolah laut sedang membasuh dirinya sendiri dari segala dosa yang telah terjadi. Ia menyadari bahwa dendam yang selama ini ia pelihara seperti pisau di balik baju, kini telah tumpul. Ia telah membunuh Pamolikang, ia telah mendapatkan Fatimah kembali, namun ia tidak merasakan kepuasan yang ia bayangkan sebelumnya. Ia hanya merasakan kehampaan yang perlahan terisi oleh rasa syukur yang pahit.

"Lihatlah jangkar ini, Fatimah," Saleh menunjuk ukiran kayu yang kasar namun agung itu. "Ia adalah sisa dari kapal perompak yang ingin menghancurkan kita. Sekarang, ia hanyalah kayu yang mati. Ia tidak bisa lagi menahan kapal, ia tidak bisa lagi berlayar. Namun di sini, ia menjadi monumen bagi kita. Ia adalah bukti bahwa kapal-kapal besar pun akan tenggelam, bahwa perompak paling kejam pun akan binasa. Tapi cinta, cinta yang sederhana seperti doa-doa kita di masjid tua itu, adalah satu-satunya yang tetap berdiri."

Fatimah akhirnya mengangkat wajahnya. Air matanya masih mengalir, namun tatapannya kini berbeda, lebih dalam, lebih dewasa, dan lebih terang. Ia menyentuh permukaan jangkar yang kasar itu. Dinginnya kayu yang terendam air laut selama berbulan-bulan itu seolah meresap ke dalam kulitnya, menenangkan api yang sempat membakar jiwanya.

"Kita akan menanam pohon lontar baru di sekitar jangkar ini," kata Fatimah pelan. "Agar anak cucu kita tahu, bahwa di tanah ini, pernah ada dua orang yang hampir kehilangan segalanya, namun memilih untuk tidak pernah kehilangan satu sama lain."

"Kita akan kembali menjadi petani," sahut Saleh, menatap ladang yang kini gersang dan penuh bekas pijakan sepatu bot. "Kita akan kembali bekerja, mengolah tanah ini hingga padi-padi itu kembali merunduk. Kita akan menanam kehidupan di atas tanah yang dipenuhi darah."

Mereka berdiri, perlahan namun pasti. Saleh menuntun Fatimah, jemari mereka bertaut erat, seolah-olah jika genggaman itu terlepas, dunia akan menarik mereka kembali ke dalam kegelapan. Mereka berjalan menjauhi tepian sungai, meninggalkan sisa-sisa perang, meninggalkan kehancuran, meninggalkan jangkar kayu yang kini menjadi saksi bisu bagi cinta yang paling tangguh.

Malam mulai turun, membawa bintang-bintang yang mulai bermunculan satu per satu, seolah menjadi lentera yang menyambut mereka pulang. Labu Pukat memang hancur, namun jiwa mereka telah menemukan dermaga. Di tengah sunyi yang menyelimuti, mereka melangkah mantap, dua jiwa yang telah ditempa oleh api, kembali menapaki jalan yang akan membawa mereka menuju hari esok yang lebih cerah.

Sisa-sisa perang itu bukan lagi berarti kekalahan; itu adalah bab pertama dari sebuah sejarah baru. Sejarah yang tidak ditulis dengan tinta darah di atas buku-buku kekuasaan, melainkan ditulis dengan kesetiaan di atas tanah yang pernah mereka pertahankan. Dan di bawah langit yang sama, di atas tanah yang sama, mereka tahu, bahwa mereka tidak akan pernah lagi merasa sendirian. Karena dalam setiap hembusan angin, dalam setiap dentang kehidupan yang mulai berdetak kembali, mereka adalah pemenang yang sesungguhnya. Pemenang yang tidak menuntut harta, melainkan menuntut hak untuk terus mencintai, di sela-sela reruntuhan, sampai akhir zaman.

Bersambung ke bagian 10

...

...

Comments