Brang Oetan, yang biasanya hanya berbisik di antara akar-akar bakau dan desau daun nipah, pagi itu dipaksa menelan jeritan kematian. Airnya yang tenang berubah warna menjadi kecokelatan oleh lumpur yang diaduk oleh lunas-lunas kapal, lalu perlahan memerah pekat dan amis oleh darah mereka yang tumpah sebelum sempat mengucap doa terakhir.
Saleh berdiri di haluan sekoci Belanda, matanya yang tajam membelah kabut pagi yang tertahan di permukaan sungai. Ia adalah kompas hidup bagi Letnan Hendrik Collardt. Di belakang mereka, barisan prajurit Bone bergerak seperti bayang-bayang di atas air, senyap namun mematikan.
"Di sana," bisik Saleh, menunjuk ke sebuah tikungan sungai yang tertutup rapat oleh tajuk pohon-pohon besar. "Di balik dinding pohon itu, mereka bersarang."
Tiba-tiba, sebuah dentuman membelah udara. Meriam dari benteng darurat yang dibangun Pamolikang di tepian sungai memuntahkan peluru besi. Air di samping sekoci Saleh menyembur setinggi pohon kelapa, menghujani mereka dengan lumpur dan serpihan kayu.
"Perlindungan!" teriak Collardt dengan pelafalan bahasa Indonesia yang kaku.
Kekacauan meledak seketika. Pasukan Belanda membalas tembakan dengan senapan matchlock mereka, menghasilkan kepulan asap putih yang tebal, menyesakkan paru-paru. Suara desingan peluru timah membelah udara, menghantam batang-batang pohon dengan suara thud yang keras.
"Jangan berhenti!" Saleh berteriak di atas riuh perang. "Jika kalian berhenti di sini, mereka akan mengurung kita dalam lorong sungai yang sempit ini!"
Prajurit Bone, dengan ketangkasan yang melampaui logika, mulai melompat dari sekoci ke akar-akar bakau yang mencuat, merayap masuk ke dalam Tuwa untuk mengepung posisi artileri musuh dari samping. Mereka bergerak seperti kucing hutan, bayangan mereka samar di antara cahaya matahari yang tertutup asap mesiu.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Saleh melihat kapal utama Pamolikang, sebuah kapal Melayu besar yang dimodifikasi dengan meriam-meriam rampasan. Kapal itu mencoba berbalik arah, namun seperti yang diperkirakan Saleh, lunasnya menghantam jebakan kayu yang ia tanam di dasar sungai. Kapal itu miring, tersangkut, dan terjebak di tengah arus yang mulai surut.
"Kena kau!" teriak seorang perwira Belanda, dalam Bahasa Belanda
Pamolikang, yang berdiri di atas geladak kapalnya yang miring, berteriak murka. Ia memerintahkan anak buahnya untuk menembak ke segala arah. Peluru berseliweran seperti kawanan lebah yang marah. Saleh melihat seorang prajurit di sampingnya tumbang, kepalanya pecah terkena peluru nyasar. Namun, Saleh tidak bergeming. Fokusnya hanya satu: kapal utama itu.
Di sana, di antara jeritan para perompak yang panik, Saleh melihat Fatimah. Ia diikat di tiang utama, tubuhnya terlihat kecil dan rapuh di tengah badai api yang berkecamuk.
"Fatimah!" Saleh berteriak, namun suaranya tenggelam oleh dentuman meriam yang kembali meletus.
Kapal Maccasser milik Belanda merapat paksa ke lambung kapal perompak. Pertempuran beralih menjadi perang jarak dekat. Pedang beradu dengan keris, suara benturan besi terdengar seperti simfoni kematian. Saleh adalah yang pertama melompat ke geladak kapal perompak. Ia tidak lagi menggunakan bambu runcing; ia telah merebut sebuah pedang pendek dari seorang perompak yang ia jatuhkan di geladak.
Ia bergerak seperti orang kesurupan. Setiap tebasannya adalah balasan atas setiap hari kesedihan yang ia lalui. Ia menembus barisan perompak, mengabaikan luka sabetan yang mulai mengucur di lengannya. Ia tidak mencari musuh; ia mencari jalan menuju Fatimah.
Di geladak yang miring dan licin oleh darah, Pamolikang menyadari kehadiran Saleh. Pemimpin perompak itu mencabut belati panjangnya, matanya merah karena amarah dan rasa putus asa. "Kau pemuda dari desa yang terbakar itu!" raungnya.
"Aku adalah akhir dari riwayatmu!" balas Saleh.
Keduanya beradu. Pamolikang, dengan tubuh yang besar dan pengalaman bertahun-tahun di laut, mengayunkan belatinya dengan brutal. Saleh, yang ditempa oleh latihan keras di bawah bimbingan Pin Jeme’ , menggunakan kelincahannya untuk menghindar. Setiap kali Pamolikang menyerang, Saleh memutar tubuhnya, memanfaatkan kemiringan kapal untuk membalas.
Kapal itu semakin miring. Air sungai mulai meluap masuk ke dalam palka. Di sekeliling mereka, perompak yang tersisa melompat ke sungai, berusaha melarikan diri ke dalam Tuwa, namun mereka disambut oleh ujung-ujung tombak prajurit Bone yang telah menunggu di tepian.
"Kau pikir kau bisa mengalahkan laut?" Pamolikang tertawa, meski darah mengalir dari luka di bahunya. "Laut selalu memiliki cara untuk menelan orang sepertimu!"
"Laut tidak peduli padamu," kata Saleh, suaranya dingin, kontras dengan keriuhan perang. "Hari ini, tanah yang kau bakar menuntut balas."
Dengan sebuah manuver cepat, Saleh menunduk saat belati Pamolikang menyambar udara di atas kepalanya. Mereka beradu gerakan, pukulan, tendangan dan geraman yang berusaha membuat gentar satu sama lain. Tendangan Pamolikang mengenai lambung Saleh dan membuatnya terpental, nyaris jatuh ke Sungai. Saleh berusaha bangkit sembari memegangi perutnya yang sakit, hampir limbung namun ia kembali maju dan kali ini belati Pamolikang menyambar udara karena Saleh cekatan menghindar ke bawah. Tak menunggu jeda Ia menghujamkan pedangnya tepat ke perut pria itu. Pamolikang terbelalak, napasnya terputus. Tubuhnya yang besar oleng, lalu jatuh terjungkal ke dalam arus sungai yang deras di bawah kapal yang miring. Terlihat Pamolikang limbung kesakitan. Anak buahnya yang tersisa kebingungan, beberapa menyerang Saleh namun sebagian tewas oleh tembakan -tembakan dari beberapa penjuru.
Begitu Pamolikang jatuh, kapal itu bergetar hebat sebelum akhirnya kandas sepenuhnya di dasar sungai yang dangkal. Keheningan yang aneh tiba-tiba menyelimuti lokasi tersebut, hanya diselingi suara api yang mendesis di kayu-kayu yang hangus.
Saleh tidak membuang waktu. Ia berlari menuju tiang utama. Di sana, Fatimah menatapnya dengan mata yang basah oleh air mata dan jelaga. Ia tidak percaya. Setelah berbulan-bulan di dalam neraka, ia melihat sosok yang selama ini menghantui doanya berdiri di depannya dengan baju yang terkoyak dan berlumuran darah.
"Saleh..." bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.
Saleh memutus ikatan di tangan Fatimah dengan satu gerakan pedang yang presisi. Begitu ikatan itu lepas, Fatimah terjatuh ke pelukannya. Mereka berpelukan di tengah-tengah geladak yang miring, dikelilingi oleh puing-puing perang, asap mesiu yang masih mengepul, dan suara air sungai yang terus mengalir, sebuah saksi bisu bahwa badai telah berakhir.
Di kejauhan, sisa-sisa armada Belanda dan prajurit Bone merayakan kemenangan mereka. Namun, bagi Saleh dan Fatimah, pertempuran di Sungai Oetan tidak menyisakan kemenangan atau kekalahan. Itu adalah tempat di mana mereka kembali menjadi manusia setelah hampir hilang ditelan sejarah yang kejam.
Mereka berdiri di sana, di antara jangkar-jangkar kayu besar yang terlepas dan reruntuhan kapal yang kandas, saling mendekap erat seolah takut jika mereka melepaskan, dunia akan kembali menarik mereka ke dalam kekacauan. Di luar sana, sejarah mungkin akan mencatat ini sebagai keberhasilan ekspedisi Kompeni Belanda, namun bagi mereka, ini adalah hari di mana janji yang mereka ucapkan di bawah pohon lontar Labu Pukat akhirnya ditepati oleh takdir yang sempat tertunda.
Saleh menatap wajah Fatimah, menghapus air mata yang bercampur abu di pipinya dengan ibu jarinya yang kasar. "Kita pulang," bisiknya.
Dan untuk pertama kalinya sejak matahari terbit di subuh yang kelabu itu, Fatimah tersenyum. Senyum yang sama dengan yang dulu pernah membuat Saleh merasa bahwa dunia, sesulit apa pun, selalu layak untuk diperjuangkan. Di bawah langit Labu Pukat yang mulai menjernih, mereka melangkah turun dari kapal, meninggalkan sisa-sisa perang untuk kembali ke tanah mereka sendiri, membawa serta luka yang dalam, namun membawa cinta yang jauh lebih dalam lagi.
Bersambung ke Bagian VIII (Delapan)
Bagian VI (Enam)
Bagian VII (Tujuh)
Bagian VIII (Delapan)
Bagian IX (Sembilan)
Bagian X (Sepuluh)

Comments
Post a Comment