Mengapa Tidak Pernah Ada Keputusan yang Salah dalam Hidupmu?


Pernah gak kamu terbangun di sepertiga malam, lalu tiba-tiba kepalamu dipenuhi oleh parade penyesalan masa lalu?

  • "Coba saja dulu aku mengambil jurusan kuliah itu..."
  • "Coba saja aku tidak melepaskan orang itu..."
  • "Kenapa hari itu aku harus mengiyakan keputusannya?"

Penyesalan adalah salah satu ruang paling gelap yang diciptakan oleh pikiran manusia. Di sana, kita kerap bertindak sebagai hakim yang paling kejam bagi diri kita sendiri. Kita mencambuk diri kita hari ini atas keputusan-keputusan yang kita ambil bertahun-tahun lalu. Namun, mari kita letakkan sebentar cambuk itu. Tarik napas dalam-dalam, dan mari kita lihat kenyataan ini dengan kacamata yang lebih jernih: Sebenarnya, tidak pernah ada keputusan yang salah dalam hidup ini.

Mungkin kalimat ini terdengar utopis atau bahkan seperti pembelaan diri yang naif. Namun, jika kita mau menelisik lebih dalam ke ruang kesadaran batin, begitulah hukum kehidupan bekerja.

Porsi yang Tepat untuk Kesadaran Saat Itu

Mengapa tidak ada keputusan yang salah? Karena pada detik di mana kamu mengetuk palu keputusan tersebut di masa lalu, tindakan itu diambil berdasarkan level kesadaran tertinggi yang kamu miliki saat itu.

Kamu yang dulu, dengan segala keterbatasan informasi, trauma yang belum sembuh, pemahaman yang masih dangkal, atau gejolak emosi yang sedang membuncah, telah memilih opsi yang menurutmu paling masuk akal pada momen tersebut. Itulah porsi yang paling tepat untuk dirimu yang dulu.

Sangat tidak adil jika kamu yang hari ini (yang telah membaca lebih banyak buku, melewati lebih banyak badai, dan memiliki sudut pandang yang lebih dewasa) menghakimi dirimu yang dulu. Kamu bisa melihat keputusan itu "salah" hari ini justru karena kamu sudah belajar dari konsekuensi keputusan tersebut. Jika kamu tidak pernah mengambil langkah yang kamu sebut "salah" itu, kamu tidak akan pernah memiliki kesadaran yang kamu miliki hari ini. Maka, meratapi keputusan masa lalu sesungguhnya adalah bentuk penolakan kita terhadap proses bertumbuh.

"Kegilaan" yang Terus Diulang

Albert Einstein pernah melontarkan sebuah kalimat yang menampar logika kita:

"Insanity (kegilaan) adalah saat kamu melakukan hal yang sama berulang-ulang, dengan level berpikir (level of thinking) yang sama, tetapi kamu mengharapkan hasil yang berbeda."

Jika hidup ini diibaratkan sebuah game, penyesalan hanyalah seperti menekan tombol reload atau memutar kembali memori tanpa pernah mengubah cara bermain. Kamu tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kamu selalu punya kuasa penuh untuk mengubah level berpikirmu hari ini.

Ketika sebuah keputusan di masa lalu membawa dampak yang pahit hari ini, itu bukanlah hukuman dari semesta. Itu hanyalah hukum konsekuensi. Suka atau tidak suka, dampak itu harus dipeluk. Pertanyaan pentinganya bukan lagi "Kenapa dulu aku begitu?", melainkan "Dengan kesadaranku yang baru hari ini, langkah berbeda apa yang akan kuambil?"

Berhenti melabeli dirimu sebagai produk dari keputusan yang salah. Kamu adalah manusia yang sedang berproses, seorang murid di sekolah kehidupan yang kurikulumnya memang penuh dengan uji coba.

Tengoklah dirimu di masa lalu dengan rasa welas asih. Katakan pada dirimu yang dulu: "Terima kasih sudah memilih jalan itu. Meskipun pahit, konsekuensinya telah menuntun selereng kesadaran baru dalam diriku hari ini." 

Ketika kamu berhenti mengutuki keputusan masa lalu, pintu penjara batinmu terbuka. Kamu tidak lagi berjalan mundur sembari meratapi apa yang hilang, melainkan berjalan maju dengan langkah yang lebih mantap, sadar, dan utuh.

Comments