Pernahkah kamu menyadari satu hal yang paradoks dalam hidup ini? Kita sering kali menghabiskan waktu berjam-jam merencanakan liburan akhir pekan, merancang karier lima tahun ke depan, atau memilih menu makanan untuk nanti malam. Namun, kita hampir tidak pernah merencanakan satu hal yang paling pasti akan terjadi: kematian.
Bagi sebagian orang, membicarakan kematian itu tabu, menyeramkan, atau bikin suasana jadi gloomy. Padahal, bagi orang-orang yang berpikir cerdas, kematian adalah jangkar terbaik untuk menjalani hidup yang berkualitas. Mengapa demikian? Kemarin saya dapat insight yang jleb banget tentang ini dari Ust, Felix Siauw di Podcast Suara Berkelas. Luar biasa membuat saya tersadar akan beberapa hal termasuk bagaimana kita menyikapi kematian.
Disini saya akan berbagi insight tersebut, tentang bagaimana cara cerdas mendesain sisa hidup kita menggunakan perspektif yang logis dan realistis.
Disini saya akan berbagi insight tersebut, tentang bagaimana cara cerdas mendesain sisa hidup kita menggunakan perspektif yang logis dan realistis.
1. Siap Mati adalah Kunci Siap Hidup
Banyak orang terjebak dalam lingkaran setan wasting time alias membuang-buang waktu secara sia-sia. Mereka menunda mimpi, bertahan di hubungan yang toksik, atau terus-menerus menimbun dendam. Mengapa? Sederhana: karena mereka merasa akan hidup selamanya.
"Orang yang tidak siap mati, sebenarnya tidak akan pernah siap untuk hidup."
Ketika kita menyadari bahwa setiap detak jantung kita memiliki batas kuota (tenggat waktu), cara pandang kita terhadap hari ini akan berubah total. Kita tidak akan lagi membiarkan diri kita pergi tidur dalam keadaan marahan dengan pasangan. Kita tidak akan mau meninggalkan rumah tanpa memberikan pelukan hangat kepada orang tua atau anak. Mengetahui ada "ujung" dari segalanya membuat kita lebih selektif memilih masalah mana yang layak kita pikirkan dan mana yang harus segera kita ikhlaskan.
2. Hukum Otomatisasi Tubuh: Kamu adalah Apa yang Kamu "Konsumsi"
Dalam dunia teknologi, ada istilah Garbage In, Garbage Out (GIGO), jika kamu memasukkan data sampah, maka sistem akan menghasilkan keluaran yang sampah pula. Tubuh dan pikiran manusia bekerja dengan cara yang persis sama.
Banyak orang ingin meninggal dalam keadaan yang baik (husnul khatimah), tetapi hari-hari mereka diisi dengan mengonsumsi konten negatif, memaki orang di kolom komentar, atau bergunjing.
Secara sains dan psikologi, habit (kebiasaan) adalah cara tubuh melakukan otomatisasi tindakan.
- Jika setiap hari kamu melatih pikiranmu dengan amarah dan kebencian, maka saat kamu terdesak atau di akhir hayat, tubuhmu secara otomatis akan mengeluarkan respon itu. Kamu tidak punya pilihan lain karena hanya bahan itu yang tersedia di dalam kepalamu.
- Sebaliknya, jika kamu mengisi kepalamu dengan konten edukatif, kata-kata baik, dan kebiasaan berbagi, maka tubuhmu akan terprogram secara otomatis untuk berbuat baik.
Bayangkan diri kita seperti seorang koki. Kita hanya bisa memasak hidangan berdasarkan bahan-bahan yang ada di dapur kita. Jadi, mulailah menyortir bahan apa saja yang boleh masuk ke dalam kepalamu hari ini.
3. Cara Cerdas "Membajak" Umur
Secara biologis, umur manusia sangat terbatas, mungkin hanya berkisar antara 60 hingga 70 tahun. Namun, tahukah kamu bahwa ada cara cerdas untuk melipatgandakan umur kita?
Cara Pertama: Menyerap Umur Orang Lain (Membaca)
Ketika kamu membaca sebuah buku biografi tokoh hebat yang ditulis selama puluhan tahun, kamu sebenarnya sedang "membajak" umur mereka. Kamu hanya butuh beberapa jam untuk menyerap pengalaman, kegagalan, dan kebijaksanaan yang mereka kumpulkan sepanjang hidup mereka. Membaca adalah jalan pintas terbaik untuk menjadi cerdas tanpa harus mengalami semua trial-error yang menyakitkan secara langsung.
Cara Kedua: Memperpanjang Umur Setelah Mati (Legacy)
Fisik kita boleh saja dikubur di dalam tanah, tetapi ide, karya, dan kebaikan kita bisa tetap hidup dan bekerja.
- Menulislah atau buatlah karya. Buku, video edukasi, sistem bisnis yang bermanfaat, atau tulisan sederhana yang mengubah hidup seseorang adalah bentuk "umur tambahan" kita di dunia.
- Jadilah inspirasi. Ingatkah kamu pada sosok guru atau dosen yang mengubah cara pandangmu saat remaja? Meskipun mereka mungkin sudah tiada, setiap kali kamu mempraktikkan ilmu mereka, sosok mereka sebenarnya sedang "hidup" kembali di dalam dirimu.
Jadi, Kamu Mau Diingat sebagai Apa?
Pada akhirnya, hidup ini adalah sebuah buku yang drafnya sedang kita tulis sendiri hari demi hari. Kita memang tidak bisa memilih kapan halaman terakhir buku itu akan ditutup. Namun, kita punya kendali penuh untuk menentukan apakah cerita di dalam buku tersebut layak dibaca, menginspirasi, atau justru cepat dilupakan orang.
Jadi, mulailah hari ini dengan pertanyaan sederhana sebelum kamu menyentuh ponselmu: "Jika hari ini adalah halaman terakhir dari buku hidupku, apakah aku bangga dengan apa yang aku tulis sekarang?"

Comments
Post a Comment