Pernahkah kita merasa begitu gagah saat berhasil menaklukkan puncak gunung? Kita rela mengambil cuti panjang, menabung berbulan-bulan untuk membeli perlengkapan terbaik, dan menahan lelah mendaki berjam-jam demi sebuah foto di atas awan. Rinjani, Tambora, hingga puncak-puncak tertinggi kita kejar dengan bangga. Namun, ada sebuah ironi yang sering luput kita sadari. Kaki-kaki perkasa yang mampu menanjak ribuan meter di atas permukaan laut itu, mendadak "lumpuh" tak bertenaga justru saat mendengar panggilan Azan dari masjid yang hanya berjarak lima puluh langkah dari pintu rumah. Jarak ke puncak gunung yang berkilo-kilo meter terasa dekat karena hobi, tapi jarak ke masjid yang di depan mata terasa lebih jauh dari benua antartika karena iman yang sedang "koma". *** Sekelarnya dari kajian tadi, jujurly ada satu rasa yang tertinggal di dada: rasa malu, bercampur dengan kerinduan untuk memperbaiki diri. Rasanya baru kemarin kita melepas Ramadan, dan kini k...
- Get link
- X
- Other Apps