
Ratusan tahun telah membasuh luka di tanah Labu Pukat. Jika hari ini seseorang berdiri di bibir pantainya, menatap garis cakrawala di mana dua belas kapal besar pernah memuntahkan api, ia tidak akan lagi mencium aroma mesiu. Yang ada hanyalah wangi laut yang memeluk daratan, dan desau pohon lontar yang kesepian karena hutan telah berubah menjadi kebun dan desa-desa nelayan, pohon lontar yang mungkin membisikkan doa-doa tentang masa lalu yang tidak pernah benar-benar mati.
Di pusat desa, sebuah jangkar kayu yang ditemukan di tepi Pantai telah dibawa warga ke dalam desa, ia “disemayamkan” di sebuah bangunan khusus yang dibangun di halaman depan masjid sebelah kanan. Mereka tidak lagi tahu persis kapal siapa yang pernah memilikinya, apakah itu kapal Karaeng Pamolikang yang angkuh, atau kapal perompak lain yang hancur di tengah amukan sejarah 1688, namun bagi mereka, jangkar itu adalah kompas moral. Sebuah pengingat bahwa badai sedahsyat apa pun akan karam, tetapi ketabahan adalah dermaga yang tetap tegak.
Di pusat desa, sebuah jangkar kayu yang ditemukan di tepi Pantai telah dibawa warga ke dalam desa, ia “disemayamkan” di sebuah bangunan khusus yang dibangun di halaman depan masjid sebelah kanan. Mereka tidak lagi tahu persis kapal siapa yang pernah memilikinya, apakah itu kapal Karaeng Pamolikang yang angkuh, atau kapal perompak lain yang hancur di tengah amukan sejarah 1688, namun bagi mereka, jangkar itu adalah kompas moral. Sebuah pengingat bahwa badai sedahsyat apa pun akan karam, tetapi ketabahan adalah dermaga yang tetap tegak.
Labu Pukat telah bertransformasi menjadi negeri yang diberkati, sebuah desa yang damai Bernama Desa Pukat. Brang Oetan yang dulu menjadi palagan darah, kini terus mengalir tenang, menjadi urat nadi kehidupan yang mengairi ribuan hektar sawah. Hanya saja semakin dangkal dan menyempit karena perkembangan manusia di sekitarnya. Pukat bukan lagi desa yang terlupakan; ia telah tumbuh menjadi pusat ilmu. Konon, dulu para pangeran dari Istana Sumbawa akan dikirim ke sini, dididik oleh para ulama di bawah bimbingan spiritual yang berakar dari ajaran Haji Zainuddin. Di serambi-serambi masjid yang kini lebih megah, mereka ditempa ilmu agama dan adab, belajar tentang bagaimana menjaga amanah rakyat sebelum mereka kembali ke istana untuk memimpin dengan tangan yang adil dan hati yang tunduk.
Masyarakat Pukat tumbuh menjadi komunitas yang teguh. Tidak ada perpecahan yang mampu membelah mereka; seolah-olah, setiap jengkal tanah Pukat telah mengisap memori tentang betapa mahalnya harga sebuah persatuan. Mereka adalah orang-orang yang beriman kuat, yang mengerti bahwa di dunia ini, hanya ada dua hal yang nyata: pengabdian pada Sang Pencipta dan kasih sayang antarsesama manusia.
***
Di sebuah rumah panggung kayu yang menghadap ke arah laut, Muhammad Saleh dan Fatimah Caba menghabiskan sisa usia mereka. Mereka menua dengan anggun. Rambut mereka telah memutih, kulit mereka telah dipenuhi garis-garis keriput seperti peta jalan yang telah mereka tempuh. Namun, di mata mereka, masih tersisa binar pemuda-pemudi yang dulu berjanji di bawah pohon lontar.
Kehidupan mereka adalah sebuah pengabdian yang tak pernah putus. Saleh, dengan bahu yang masih tegap meski dimakan usia, tetap menjadi penasihat bagi para petani. Ia mengajarkan tentang bagaimana mengelola air sungai agar tidak meluap, dan bagaimana cara menjaga Pade Gutis agar tetap menjadi berkah, bukan sekadar komoditas. Fatimah, di sisi lain, menjadi rujukan bagi para perempuan di desa. Ia mengajar mengaji, merajut ikatan komunitas, dan menjadi pendengar yang bijak bagi siapa saja yang hatinya tengah dilanda kegelisahan.
Salah satu babak paling indah dalam hidup mereka adalah saat mereka menunaikan ibadah haji. Mereka berangkat melalui perairan Pukat yang saat itu telah menjadi pelabuhan kecil yang sibuk. Kampung nelayan itu telah tumbuh besar, dihuni oleh perpaduan penduduk lokal, orang-orang Makassar yang merantau mencari kedamaian, dan warga dari Lombok yang membawa keahlian tenun dan tani. Pukat menjadi sebuah kuali persaudaraan, tempat perbedaan melebur menjadi satu doa yang sama.
Saat mereka kembali dari tanah suci, dengan gelar Haji dan Hajjah yang disandang dengan kerendahan hati, mereka membawa serta hikmah yang besar. "Dunia ini luas," kata Saleh kepada anak cucu yang duduk mengelilinginya di teras rumah. "Namun, seberapa jauh pun kita melangkah, pada akhirnya kita hanya akan kembali pada apa yang telah kita tanam. Kami menanam kesetiaan di tengah perang, dan Allah menumbuhkan kedamaian yang tak terbayangkan untuk desa kita."
Ada fakta sejarah yang sering mereka selipkan saat bercerita: tentang catatan Gubernur Jenderal Joannes Camphuijs pada 1688, tentang bagaimana kekacauan Makassar dan pelarian-pelarian dari Bone pernah mencoba merobohkan Sumbawa. Mereka menceritakan itu bukan untuk memupuk dendam, melainkan agar generasi penerus paham bahwa kedamaian yang mereka nikmati hari ini adalah warisan yang dibayar dengan darah.
"Jangkar di pantai itu," Fatimah akan menunjuk ke arah monumen kayu tersebut dengan senyum tipis, "dulu adalah simbol ketakutan. Kini, ia adalah simbol bahwa tidak ada musuh yang terlalu besar jika hati kita memiliki jangkar yang benar."
Saleh sering merenung. Ia ingat Letnan Hendrik Collardt, ia ingat Raja Tambora dengan payung kebesaran berwarna merah yang dulu memicu kecemburuan di kalangan petinggi Bima, dan ia ingat bagaimana politik dunia luar—urusan perdagangan budak oleh Christoffel Nootnagel dan intrik para Residen di Bima—hampir menghancurkan dunianya yang kecil. Namun, semua itu hanyalah riak di permukaan air. Apa yang tetap abadi bukanlah siapa Gubernur Jenderal yang memimpin di Batavia, melainkan bagaimana seorang pria dan seorang wanita di sebuah desa kecil mampu bertahan untuk tidak saling melepaskan.
Mereka wafat dalam damai, dimakamkan tidak jauh dari masjid tempat mereka pertama kali mengaji bersama. Makam mereka sederhana, namun selalu dikunjungi orang-orang yang butuh kekuatan.
Labu Pukat kini adalah mercusuar. Ia membuktikan bahwa tragedi bukanlah titik akhir dari sebuah narasi. Tragedi adalah ruang kosong yang disediakan semesta agar manusia bisa mengisinya dengan sesuatu yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih bermakna. Jangkar kayu itu masih ada di sana, di antara pasir dan karang, diam, bisu, namun berteriak tentang satu pesan abadi: Bahwa cinta yang diuji dengan api, tidak akan pernah bisa hangus.
Jika angin sedang tenang, dan ombak tidak terlalu riuh, penduduk Pukat akan mengatakan bahwa jika kau menempelkan telingamu ke jangkar tua itu, kau akan mendengar dua detak jantung yang berdetak seirama. Detak jantung Saleh dan Fatimah, yang meskipun jasad mereka telah kembali ke tanah dan terhapus waktu, namun jiwa mereka telah menyatu dengan tanah Pukat—menjadi bagian dari keabadian, menjadi penjaga kedamaian, dan menjadi pengingat bagi setiap pangeran dan petani yang datang ke sana: bahwa ketabahan adalah kekuatan terbesar manusia di muka bumi.
Di Pukat, kehidupan terus berputar, padi terus dipanen, dan azan terus berkumandang, merajut langit dengan harapan. Sejarah mungkin pernah mencoba membakar desa ini hingga ke akarnya, namun cinta Saleh dan Fatimah telah memastikannya untuk terus tumbuh, selamanya, melampaui waktu dan melampaui sejarah itu sendiri.
Tamat.
-------------------------------------------------
...
...
Comments
Post a Comment