Angin dari Selat Alas tidak pernah membawa aroma yang sama dua kali. Kadang ia membawa bau garam yang tajam, kadang aroma tanah basah yang baru saja disapa hujan, namun bagi Muhammad Saleh, angin itu selalu membawa aroma yang paling ia kenal: bau dedaunan lontar yang terbakar matahari dan wangi pucuk padi yang sedang merunduk manja di bulirnya.
Labu Pukat, tahun 1688. Sebuah negeri yang seolah luput dari riuh rendah dunia. Di sini, waktu tidak diukur dengan dentang lonceng logam sebagaimana yang dikabarkan terjadi di negeri-negeri jauh di seberang samudra. Waktu di Labu Pukat diukur dengan gerak matahari yang menyapu puncak-puncak Olat (bukit/Gunung), dengan suara azan yang membelah senja dari masjid kayu yang tiang-tiangnya masih kokoh memeluk aroma kayu cendana.
Saleh berdiri di tengah ladang. Punggungnya yang bidang basah oleh keringat. Di depannya, hamparan Pade Gutis, padi pilihan yang ikatan-ikatannya telah ia rapikan dengan jemari yang kasar namun telaten, berbaris menunggu untuk diangkut ke Bale Alang. Setiap ikatan adalah janji. Setiap bulir adalah doa.
"Jangan terlalu dipaksakan, Saleh. Matahari sudah hampir mencium cakrawala."
Sebuah suara lembut, renyah seperti desau angin di sela pelepah Jontal (lontar), membelah kesunyian. Saleh menoleh. Siti Fatimah Caba berdiri di sana, di pematang, dengan kerudung yang tersampir longgar namun anggun. Di tangannya, sebuah kendi tanah berisi air nira dingin.
Saleh tersenyum, menampilkan deretan gigi yang putih kontras dengan kulitnya yang terbakar matahari. "Bagi seorang petani, Fatimah, senja bukan tanda untuk berhenti. Senja hanyalah tanda bahwa kerja kita hari ini akan segera tersimpan dengan aman di lumbung."
Fatimah mendekat, langkahnya ringan seolah ia sedang menari di atas tanah yang kering. Ia menyodorkan kendi itu. Saleh menerimanya, membiarkan air nira yang manis mengalir membasahi kerongkongannya yang kering. Di balik jarak yang hanya sejengkal itu, Saleh bisa mencium aroma melati yang selalu menyertai Fatimah, sebuah aroma yang menurutnya hampir sama menenangkannya daripada zikir paling khusyuk yang ia lantunkan di serambi masjid bersama Haji Zainuddin.
Mereka telah mengenal satu sama lain sejak dunia masih terasa sebesar halaman rumah. Mereka adalah dua anak manusia yang tumbuh di bawah pengawasan yang sama, diajarkan untuk takut pada Tuhan dan mencintai tanah kelahiran. Orang tua mereka, ayah Saleh yang seorang pengerah tenaga, dan ayah Fatimah yang memegang teguh amanah leluhur, tidak pernah menaruh curiga. Bagi penduduk Labu Pukat, Saleh dan Fatimah adalah sepasang merpati yang ditakdirkan untuk berpasangan di bawah naungan pohon lontar yang sama.
"Bapak bilang, Bale Alang sudah penuh," bisik Fatimah, matanya menatap hamparan ladang yang mulai keemasan ditimpa cahaya matahari. "Tahun ini adalah panen terbaik yang pernah kita lihat. Haji Zainuddin bilang, ini adalah berkah bagi mereka yang sabar.
Saleh meletakkan kendi, tangannya menyeka peluh di dahi. Ia menatap Fatimah dalam-dalam. "Berkah itu bukan hanya tentang padi yang penuh di lumbung, Fatimah. Bagiku, berkah itu adalah ketika aku melihatmu berdiri di sana, menungguku pulang."
Fatimah menunduk, semburat merah merayap di pipinya. Ia adalah gadis yang menjaga kehormatan seperti ia menjaga air di dalam kendi agar tidak tumpah. Ia tidak membalas dengan kata-kata, namun jemarinya yang lentik menyentuh ikatan Pade Gutis yang baru saja diletakkan Saleh.
"Kita akan membangun rumah dengan pondasi yang kuat, Saleh. Seperti kayu lontar yang tidak akan tumbang meski badai dari laut datang," ucap Fatimah, suaranya pelan namun penuh ketegasan yang tak terduga.
Saleh mengangguk. Ia tidak tahu bahwa takdir sedang menuliskan naskah yang sangat berbeda. Ia tidak tahu bahwa badai yang mereka bicarakan bukan sekadar metafora, melainkan sesuatu yang akan datang dengan lidah api dan baja yang haus darah.
Di kejauhan, di atas garis cakrawala yang memisahkan laut dan langit, burung-burung gagak mulai terbang berputar-putar dengan gelisah. Saleh menatapnya sesaat, merasakan firasat aneh yang tiba-tiba melintas di jantungnya. Namun, ia segera menepisnya. Ia menarik napas dalam, menghirup aroma tanah yang menjadi rumahnya, dan kembali memikul ikatan padi.
***
Hari itu, Labu Pukat masih tenang. Desa itu masih menjadi surga yang lupa akan kekejaman dunia di luar sana. Saleh dan Fatimah berjalan berdampingan menuju bale alang, langkah mereka selaras, jiwa mereka bertaut dalam janji-janji bisu yang diucapkan semesta.
Mereka tidak sadar, bahwa malam itu adalah malam terakhir di mana mimpi-mimpi mereka masih berbentuk kebahagiaan yang sederhana. Di balik garis laut yang gelap, Karaeng Pamolikang sedang mengasah belati, dan sejarah sedang bersiap untuk mencatat tragedi yang akan membuat tanah Pukat menangis selama berabad-abad kemudian.
Saleh menoleh sekali lagi ke arah laut. Laut itu tenang, namun di kedalamannya, ia merasa ada sesuatu yang sedang mengintai. Sesuatu yang akan mengubah seluruh jalan hidup mereka menjadi noktah-noktah darah di atas kertas sejarah.
Namun, saat itu, Fatimah tertawa kecil karena sesuatu yang dikatakan Saleh. Tawa itu menghalau segala rasa takut. Untuk saat ini, hanya itu yang penting. Hanya mereka, padi, dan harapan yang tumbuh subur di Labu Pukat.

Comments
Post a Comment