Gerimis Di Brang Oetan : Bagian 5 - Transformasi di Hutan


Darah yang mengering di bahu Saleh bukan sekadar bekas luka; itu adalah tinta hitam yang menuliskan sumpah baru di atas lembaran hidupnya yang kini telah koyak. Selama tiga minggu, ia terbaring di ruangan gelap sebuah gua kecil di dalam Olat, dirawat oleh tetua desa yang tersisa dan memang telah biasa berada disana untuk menyendiri, seorang pria tua yang matanya mengalami kebutaan sebagian bernama Pin Jeme’ yang dulunya adalah mantan abdi kerajaan sebelum memilih hidup menyepi.

Di bawah bimbingan Pin Jeme’ , Saleh mengalami metamorfosis yang menyakitkan. Luka di bahunya, yang seharusnya membuatnya memohon ampun pada rasa sakit, justru dipaksanya untuk bersahabat dengan beban.

"Pedang itu seperti padi, Saleh," suara Pin Jeme’  bergema di dalam gua yang lembap, memecah kesunyian malam. "Jika kau tidak membiarkannya ditempa api, ia tidak akan pernah tajam. Jika kau tidak membiarkannya bersentuhan dengan batu asah, ia tidak akan pernah berguna. Kau telah dibakar oleh api Pamolikang. Sekarang, jadilah baja.

***

Setiap fajar, sebelum matahari menyentuh pucuk lontar, Saleh sudah berdiri di bawah naungan hutan Tua yang lebat. Ia tidak lagi memikul ikatan Pade Gutis, melainkan sebatang bambu runcing yang ujungnya telah dibakar hingga sekeras besi. Ia berlatih di sela-sela pohon lontar yang rapat, menggunakan bayang-bayang batang-batang tinggi itu sebagai lawan tanding.

Ia belajar bergerak tanpa suara, selaras dengan desau angin yang menggerakkan pelepah-pelepah lontar di atasnya. Ia belajar bagaimana membaca jejak di tanah yang kering dan bagaimana menahan napas saat perompak melakukan patroli di pinggiran desa yang telah menjadi puing.

Tidak sendirian, Saleh mengumpulkan pemuda-pemuda Labu Pukat yang selamat—mereka yang kehilangan ayah, ibu, atau saudara di tangan Pamolikang. Mereka adalah kelompok pemuda yang dulu menghabiskan waktu dengan mengaji di masjid, namun kini mata mereka memancarkan api dendam yang terkendali.

"Kita tidak akan menyerbu kapal itu dengan dada telanjang," ujar Saleh di hadapan mereka suatu malam, cahaya api unggun menari-nari di wajah mereka yang keras. "Kita tidak punya meriam Belanda, kita tidak punya serdadu Eropa. Tapi kita punya hutan ini. Kita punya Tuwa, dan kita punya Olat ini. Kita adalah bagian dari tanah ini, dan tanah ini akan menjadi kuburan bagi siapa saja yang menjarah kehormatan kita."

Saleh memetakan serangan dengan sangat teliti. Ia menggambar denah di atas tanah menggunakan ranting. Ia mencatat arus Sungai Oetan yang ia hafal sejak kecil. Ia tahu di bagian mana sungai itu mendangkal, di mana arus menjadi sangat deras, dan di mana kapal-kapal perompak yang sarat beban akan melambat.

Transformasi Saleh bukan sekadar fisik. Ia menjadi pria yang dingin dan kalkulatif. Jika dulu ia adalah pemuda yang selalu tersenyum saat menatap Fatimah, kini senyum itu telah digantikan oleh garis rahang yang tegas. Ia tidak membiarkan dendam menguasai akal sehatnya, karena ia tahu dendam yang meledak-ledak hanya akan berakhir pada kematian yang sia-sia. Ia memelihara dendam itu, menjaganya tetap membara seperti bara di dalam tungku, siap diledakkan pada waktu yang tepat.

Ia sering menyelinap ke dekat garis pantai pada malam hari. Di sana, ia mengamati gerak-gerik perompak yang mulai berani merapat ke darat untuk mencari air bersih. Ia mempelajari pola mereka, jam pergantian jaga, dan titik lemah pada formasi kapal-kapal mereka. Ia mencatat semuanya di dalam pikirannya—setiap detail kecil adalah kunci menuju keselamatan Fatimah.

Suatu hari, di bawah naungan pohon lontar yang besar, Saleh menemukan potongan kayu jati besar yang terseret ke pantai. Ia menatap kayu itu dan sebuah ide gila muncul. Ia mulai memerintahkan pemuda-pemudanya untuk menebang bambu-bambu yang direkatkan dengan rotan, membuat jebakan di sepanjang muara Sungai Oetan. Mereka menciptakan ranjau Sungai, balok-balok kayu yang disembunyikan di bawah permukaan air, siap untuk menahan laju sekoci-sekoci perompak jika mereka mencoba masuk lebih jauh ke sungai.

"Dea Papin," tanya Saleh suatu sore kepada Pin Jeme’ , "Apakah benar bahwa kemenangan itu ditentukan oleh jumlah pasukan?"

Pin Jeme’  tersenyum tipis, memperlihatkan gusi yang mulai memutih. "Kemenangan ditentukan oleh siapa yang paling mengenal medan pertempuran, dan siapa yang memiliki alasan paling kuat untuk tidak mati. Kau punya keduanya, Saleh. Tapi ingat, jangan biarkan kebencian membuatmu lupa bahwa tujuanmu adalah membawa gadis itu pulang, bukan sekadar memenggal kepala perompak."

Saleh terdiam. Ingatannya melayang pada saat-saat Fatimah diseret di pantai. Ia masih bisa merasakan jemarinya yang lepas dari jemari Fatimah. Ia masih bisa mendengar jeritan itu. Transformasinya hampir sempurna; ia telah menjadi predator hutan, namun di balik kemampuannya bersembunyi dan menyerang, hatinya tetaplah hati seorang pemuda yang hanya ingin kembali mengaji bersama kekasihnya di serambi masjid yang tenang.

Di tengah Tuwa yang lebat, di bawah pengawasan pohon-pohon lontar yang kaku dan perkasa, Saleh dan pasukannya bersiap. Mereka adalah bayang-bayang yang menunggu. Mereka adalah badai yang sedang mengumpulkan kekuatannya. Saat kabar tentang ekspedisi Belanda di bawah Letnan Hendrik Collardt mulai terdengar, Saleh tahu bahwa waktunya hampir tiba. Pertempuran di Sungai Oetan akan menjadi panggung bagi mereka—bukan sebagai tentara bayaran, bukan sebagai pengikut Belanda, melainkan sebagai putra-putra Labu Pukat yang menuntut kembali apa yang telah dirampas secara paksa dari mereka.

Saleh menatap ke arah laut. Angin kini membawa aroma hujan yang dingin, tanda bahwa badai besar akan segera datang. Ia mengepalkan tangannya, merasakan sisa luka di bahunya berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Fatimah, tunggulah sebentar lagi, bisiknya dalam hati. Aku tidak akan membiarkan sejarah menuliskan akhir yang lain selain kepulanganmu.

Bersambung ke Bagian 6

Comments