Seharusnya, pertempuran di Brang Oetan (Sungai Utan) telah usai dengan tenggelamnya kapal utama Pamolikang. Namun, di muara sungai yang tertutup rapat oleh dedaunan bakau, sebuah sekoci kecil yang luput dari pengamatan sedang berusaha membelah arus menuju laut lepas. Di dalamnya, beberapa pengikut setia Pamolikang yang tersisa membawa satu-satunya harta jarahan yang tersisa: Fatimah
Saleh, yang baru saja melepas Fatimah di geladak kapal utama, merasakan detak jantungnya kembali berdegup kencang saat matanya menangkap siluet sekoci itu di kejauhan. Baru saja melepaskan pelukannya dari Fatimah dan memeriksa sisi lain geladak kapal, seketika itu Fatimah telah hilang dari pandangan. Mata Sale yang tajam menangkap pergerakan musuh yang licik.
"Mereka membawanya pergi!" teriak Saleh, menunjuk ke arah muara.
Tanpa menunggu komando dari Letnan Collardt, Saleh menyambar sebuah pedang yang tergeletak di lantai geladak dan melompat ke atas sekoci Belanda yang tertambat di sisi kapal yang tenggelam. Ia mendayung dengan tenaga yang sisa, membelah air sungai yang pekat oleh lumpur dan sisa pertempuran.
"Saleh, jangan!" Fatimah berteriak dari atas kapal yang miring, suaranya parau. Namun, Saleh tidak menoleh. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa tidak akan ada lagi perpisahan.
Di muara yang sempit, perompak yang mengendalikan sekoci menyadari kehadiran Saleh. Mereka melepaskan tembakan. Peluru meleset, hanya menggores pinggiran sekoci Saleh. Saleh tidak membalas. Ia terus mendayung, memposisikan sekocinya untuk menabrak sekoci perompak tersebut.
BRAK!
Dua perahu kecil itu beradu keras. Saleh melompat dengan satu gerakan yang gesit, mendarat tepat di tengah-tengah sekoci musuh. Pertarungan itu brutal. Tidak ada ruang untuk strategi, tidak ada ruang untuk keindahan. Ini adalah pertarungan hidup dan mati di atas permukaan air yang tidak stabil.
Perompak pertama menerjang dengan golok. Saleh menangkis dengan pedangnya, lalu dengan satu sentakan tangan kiri, ia menghantam pangkal hidung musuhnya hingga tumbang. Perompak kedua—seorang pria bertubuh gempal yang tampak seperti petarung kelas kakap, mencabut belati panjang.
"Kau pemuda Pukat, kau seharusnya mati di desamu!" geram perompak itu.
"Desaku adalah tempatku bangkit, dan di sanalah kau akan menemui ajalmu," balas Saleh.
Mereka bertarung dengan liar. Sekoci itu bergoyang hebat, hampir terbalik. Saleh merasakan sabetan tajam di lengannya, namun ia mengabaikan rasa sakit itu. Ia hanya melihat Fatimah yang duduk di ujung sekoci, tangannya terikat, wajahnya pucat namun matanya menatap Saleh dengan harapan yang membara.
Dalam sebuah manuver nekat, Saleh membiarkan dirinya terpukul agar bisa masuk ke jarak dekat. Saat perompak itu mengayunkan belatinya, Saleh menusukkan pedangnya ke rusuk musuhnya. Pria itu mengerang, terhuyung, dan jatuh ke sungai yang gelap, tenggelam bersama beban dosa-dosanya.
Hening sejenak. Hanya ada suara napas Saleh yang memburu dan detak jantungnya yang berdentum di telinga. Saleh segera merangkak menuju Fatimah. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia memutus ikatan di tangan Fatimah.
Begitu ikatan itu terlepas, Fatimah menerjang ke depan, memeluk Saleh erat-erat. Mereka jatuh terduduk di dasar sekoci yang bergoyang. Tidak ada kata yang keluar, hanya isak tangis yang tertahan, sebuah melodi syukur yang paling murni.
"Kau datang," bisik Fatimah di balik pelukan itu. "Kau selalu datang."
Saleh menatap Fatimah, menangkup wajah gadis itu dengan tangannya yang berlumuran darah. "Aku tidak akan membiarkan sejarah memisahkan kita, Fatimah. Bahkan jika aku harus menantang maut seribu kali, aku akan tetap menemuimu."
Di kejauhan, sisa pasukan Kerajaan Bone mulai merapat dengan kapal-kapal mereka. Suasana perang yang tadinya mencekam perlahan berubah menjadi suasana kemenangan. Di antara rimbunnya pohon bakau, matahari mulai muncul dari balik awan, menyinari air sungai yang kini tampak tenang.
Saleh mendayung kembali menuju kapal utama yang sudah kandas. Di sana, di antara sisa-sisa kayu yang hancur dan jangkar kapal besar yang terlepas, jangkar kayu yang akan menjadi monumen bisu sejarah, mereka berdiri kembali di atas tanah yang solid.
Mereka selamat. Labu Pukat mungkin telah menjadi abu, namun di atas abu itulah, mereka akan mulai menulis kisah mereka sendiri, sebuah kisah yang tidak lagi dicatat oleh meriam Belanda atau keserakahan perompak, melainkan oleh dua hati yang telah teruji oleh api dan akhirnya, berhasil menaklukkan nasib mereka sendiri.
Bersambung ke bagian 9

Comments
Post a Comment