Cahaya matahari yang menembus celah-celah palka kapal adalah cahaya yang berbeda dari yang Fatimah kenal di Labu Pukat. Jika matahari di desanya adalah anugerah yang menyapa pucuk-pucuk lontar dengan kehangatan, matahari di sini adalah saksi bisu bagi pembusukan jiwa.
Di dalam lambung kapal utama milik Karaeng Pamolikang, udara terasa begitu kental dan berbau—campuran antara keringat busuk, sisa makanan yang basi, air laut yang terperangkap, dan rasa takut yang terperas dari ribuan pori-pori manusia. Fatimah meringkuk di sudut, di antara puluhan perempuan lain yang telah kehilangan kilau di matanya. Tangannya yang dulu terampil memanen Pade Rau, kini gemetar, lecet, dan kotor oleh noda hitam minyak kapal.
Setiap kali kayu kapal berderit diterjang ombak, Fatimah tersentak. Ia membayangkan Saleh. Apakah pemuda itu sudah tiada? Apakah bahunya yang terluka itu berakhir dengan kematian di bawah sinar matahari yang membakar? Setiap kali memikirkan Saleh, Fatimah akan memejamkan mata, merapalkan doa-doa yang diajarkan Haji Zainuddin. Bukan doa untuk keselamatan dirinya—karena ia merasa jiwanya sudah hampir karam melainkan doa agar Saleh tetap hidup, meski itu berarti mereka harus terpisah selamanya oleh cakrawala yang luas.
Pintu palka kayu yang berat itu terbuka dengan derit yang menyayat. Sinar dari dek atas jatuh menusuk ke dalam kegelapan, menyilaukan mata para tawanan. Seorang perompak, pria bertubuh kekar dengan tato sulur di lengan dan bekas luka bakar di leher, melangkah masuk. Ia adalah tangan kanan Pamolikang, pria yang menyeret Fatimah di pantai beberapa hari lalu.
"Bangun, tikus-tikus darat!" teriaknya dalam logat Makassar yang kental namun kasar.
Perempuan-perempuan lain gemetar, bangkit dengan tertatih. Namun, Fatimah tetap diam. Ia tahu apa yang menanti mereka di atas dek. Ia telah melihat apa yang terjadi pada perempuan yang dibawa kemarin, mereka kembali dengan tatapan kosong, pakaian yang koyak, dan tubuh yang seolah telah dicuri martabatnya.
Si perompak mendekat, ujung sepatunya yang keras menendang rusuk Fatimah. "Kau, Gadis Pukat. Pemimpin ingin melihatmu di kabinnya malam ini. Bersihkan dirimu di dek."
Fatimah tidak bergerak. Ia menatap pria itu dengan pandangan yang membuat si perompak sedikit ragu. Ada api yang masih berpijar di balik mata gadis itu, sebuah api yang menolak untuk padam meski disiram air dingin kekejaman.
"Aku tidak akan pergi," ucap Fatimah. Suaranya kecil namun stabil, bergema di palka yang pengap.
Pria itu tertawa, tawa yang terdengar seperti gesekan logam berkarat. Ia mencengkeram rambut Fatimah dan menyeretnya naik ke atas dek. Fatimah tidak berteriak. Ia menggigit bibirnya sampai darah terasa di mulutnya, menahan rintihan yang akan menjadi kemenangan bagi penyiksanya.
Di atas dek, laut terbentang luas, biru gelap yang menyimpan ribuan kematian. Di depan tiang layar, Karaeng Pamolikang berdiri, menatap peta kuno yang terbentang di atas tong kayu. Ketika ia melihat Fatimah diseret, ia tersenyum, sebuah senyuman yang tidak pernah mencapai matanya.
"Kau keras kepala Sekali, Fatimah Caba," ujar Pamolikang tanpa menoleh. "Orang-orangmu sudah habis. Desamu hanya tinggal jadi abu. Mengapa kau masih menyimpan harga diri yang tidak akan memberi makan perutmu?"
Fatimah berdiri tegak, meski kakinya terasa lemas. "Harga diri tidak untuk memberi makan perut, Tuan. Harga diri adalah pakaian yang kukenakan. Jika kau merobeknya, kau hanya akan melihat seorang manusia yang lebih terhormat daripada dirimu yang hidup dari merampok."
Tangan Pamolikang bergerak cepat. Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Fatimah, membuatnya jatuh tersungkur ke dek kayu yang kasar. Sudut bibir Fatimah pecah, darah segar menetes ke papan kapal.
"Kau akan belajar," desis Pamolikang. "Ikat dia di tiang utama. Jangan beri air, jangan beri makan, sampai dia memohon untuk menjadi milikku."
Fatimah diseret ke tiang utama. Tali kasar melilit pergelangan tangannya, mengikatnya dengan posisi berdiri yang melelahkan. Di bawah terik matahari Sumbawa yang menyengat, Fatimah dipaksa berdiam diri. Kulitnya yang halus mulai melepuh. Rasa haus mulai merambat seperti duri di tenggorokannya.
Setiap jam, perompak-perompak itu lewat. Mereka mengejek, meludahi, dan sesekali melemparkan sisa makanan ke arahnya. Namun, Fatimah tetap diam. Ia memfokuskan pikirannya pada satu hal: Masigid (Masjid) desa. Ia membayangkan aroma kayu khas wangi di serambi tempatnya dulu mengaji. Ia membayangkan suara Saleh yang membacakan ayat-ayat, suara yang dulu membuatnya merasa aman dari segala marabahaya.
"Ya Allah, nene koasa.." bisiknya di dalam hati, suaranya parau. "Jika ini adalah akhir dari perjalananku, jangan biarkan aku kehilangan diriku sendiri. Jangan biarkan mereka melihatku hancur."
Hari berganti malam, dan siksaan itu bertambah. Dinginnya angin laut menyapu tubuhnya yang basah oleh keringat dan air asin. Fatimah mulai berhalusinasi. Ia melihat wajah Saleh di balik awan yang lewat. Saleh tersenyum padanya, seolah berkata bahwa ia sedang mencari jejaknya.
Pada hari ketiga, tubuh Fatimah mulai menyerah. Pandangannya berbayang. Ia hampir pingsan ketika Pamolikang mendekat, memegang semangkuk air dingin.
"Minumlah," goda Pamolikang, mengayunkan mangkuk itu di depan bibir Fatimah yang pecah-pecah. "Hanya satu kata. Mengakuilah bahwa kau milikku, dan kau bisa menikmati hidup di kapal ini sebagai nyonya."
Fatimah menatap mangkuk itu dengan nafsu yang menyiksa. Tubuhnya berteriak untuk air, namun jiwanya menolak tunduk. Ia menolehkan kepalanya, menjauh dari mangkuk itu.
"Lebih baik aku mati sebagai jiwa yang merdeka, daripada hidup sebagai tawanan yang hina," ucapnya, suaranya nyaris berupa bisikan.
Pamolikang geram. Ia menumpahkan air di mangkuk itu ke dek kapal, membiarkan air itu meresap ke dalam celah kayu. Ia memukul perut Fatimah dengan gagang pedangnya. Fatimah tersedak, napasnya terputus, tubuhnya terkulai lemas diikat tali.
"Biar dia di sana," perintah Pamolikang pada anak buahnya. "Jangan beri setetes pun air. Lihat berapa lama dia bisa bertahan sebelum dia merangkak di kakiku."
Namun, di tengah kesakitan yang mendera, Fatimah menemukan kekuatan dari sesuatu yang tidak terduga. Ia melihat sebuah benda kecil tersangkut di balik tiang tempat ia diikat, sebuah jimat kayu kecil yang mungkin jatuh dari leher seorang tawanan yang telah dibuang ke laut sebelumnya. Ia meraba jimat itu dengan ujung jarinya. Itu adalah ukiran kayu kasar, berbentuk burung.
Fatimah tersenyum di balik kesakitan. Ia teringat kata-kata Saleh tentang Pade Gutis. Padi yang diikat erat, semakin ditekan erat justru akan semakin kokoh dan kuat. Ia adalah padi itu. Ia tidak akan hancur oleh badai, karena ia tahu di mana akarnya berada, pada Tuhan, pada kehormatan, dan pada janji yang ia simpan dalam hati untuk Saleh.
***
Malam itu, di tengah laut yang tenang namun mematikan, Fatimah tidak lagi merasa lapar atau haus. Ia merasa melayang. Ia membayangkan dirinya kembali ke Labu Pukat, berjalan di antara pohon-pohon lontar yang melindunginya, dan melihat Saleh sedang menunggunya dengan tangan yang terbuka.
Ia tahu, perompak ini bisa menyiksa tubuhnya, membakar desanya, dan merampas hartanya. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa mereka sentuh: cintanya kepada Saleh dan martabatnya sebagai seorang manusia.
Kapal itu terus melaju, membelah ombak menuju pertempuran besar di Sungai Oetan. Dan di tiang utama, Fatimah Caba, gadis yang dulu dianggap lemah, kini telah bertransformasi menjadi sosok yang lebih kuat daripada besi. Ia adalah doa yang bertahan hidup di tengah neraka, menunggu waktu yang tepat untuk kembali kepada satu-satunya orang yang memegang kunci hatinya.
Setiap tetes darah yang jatuh ke dek kapal adalah bukti dari janji yang ia jaga. Dan di kejauhan, di atas tanah yang sedang terbakar, Saleh pun sedang melakukan hal yang sama: menempa dirinya menjadi pedang yang akan datang menjemputnya pulang. Mereka berdua, meski terpisah jarak dan nasib, sedang melangkah menuju titik temu yang sama—sebuah pertempuran di mana cinta akan diuji untuk terakhir kalinya, dan di mana jangkar sejarah akan menentukan nasib mereka selamanya.

Comments
Post a Comment