Suara gemuruh di cakrawala pagi itu bukan berasal dari guruh guntur, melainkan dari deru layar yang terkembang gagah. Di ufuk timur, sepuluh kapal dari Kerajaan Bone yang dipimpin oleh barisan prajurit pilihan yakni pendekar-pendekar yang telah teruji dalam riuhnya pertempuran laut, mereka memotong jalur air, ditemani oleh dua sekoci besar milik Kompeni: Maccasser dan Arent.
Di atas geladak Maccasser, Letnan Hendrik Collardt menatap pesisir di Labu Pukat, Sumbawa dengan kacamata jauh yang teropongnya kusam oleh garam laut. Di sampingnya, seorang perwira dari Kerajaan Bone, dengan keris terselip di pinggang dan mata yang setajam elang, memindai garis pantai yang terlihat sunyi dan mematikan.
Mereka mencari Karaeng Pamolikang. Mereka membawa titah Gubernur Jenderal Joannes Camphuijs: basmi para perompak itu, atau Kerajaan Sumbawa akan benar-benar lenyap dari peta perdagangan
Saleh, yang selama berhari-hari mengintai dari balik pepohonan lontar yang rapat di tepi Tuwa (Hutan), melihat kedatangan itu dengan napas tertahan. Ini adalah kekuatan yang tak pernah ia bayangkan akan melihat di Labu Pukat. Ia tidak menyukai serdadu asing, namun ia membutuhkan meriam mereka untuk meruntuhkan pertahanan Pamolikang.
Tanpa ragu, Saleh muncul dari balik semak. Ia tidak berjalan tegak layaknya prajurit, melainkan merayap dengan kesiagaan penuh, menunjukkan diri di sebuah tanjung yang menjorok ke laut. Ia melambaikan kain putih yang kusam.
Beberapa saat kemudian, sebuah sekoci kecil diturunkan dari Maccasser menuju pantai. Saleh berdiri tegak saat para serdadu Belanda dan prajurit Bone merapat. Mereka mengarahkan senapan ke arahnya.
"Siapa kau?" bentak salah satu prajurit Bone dalam bahasa yang dimengerti Saleh.
"Saya penduduk asli desa ini," jawab Saleh tenang. Bahunya yang terluka kini telah dibalut kain kasar, namun ia berdiri dengan wibawa seorang pria yang telah berdamai dengan kematian. "Kalian mencari Pamolikang. Dia tidak berada di laut terbuka. Dia telah merayap masuk ke dalam aliran Sungai Oetan, ke dalam Tuwa yang tidak kalian kenal."
Letnan Collardt turun dari sekoci, matanya menatap pemuda kurus dengan sorot mata yang membara itu dengan rasa ingin tahu yang dingin. "Kau tahu di mana dia bersembunyi?"
Saleh menunjuk ke arah rimbunnya hutan lontar yang menutupi aliran sungai yang berkelok. "Sungai itu adalah jebakan yang dia buat. Kalian akan kehilangan kapal di sana jika masuk tanpa panduan. Ada tumpukan batang kayu yang disengaja diletakkan di bawah permukaan air—ranjau yang dipasang untuk melumpuhkan kapal yang mencoba mendekat."
Perwira Bone itu saling pandang. Mereka tahu bahwa laporan tentang kekejaman perompak itu benar, namun mereka kekurangan peta medan darat.
"Berikan aku alasan mengapa kami harus mempercayaimu, anak muda," tanya Collardt.
Saleh menatap mata sang Letnan dengan tajam. "Karena saya tidak menginginkan harta kalian. Saya hanya menginginkan kepala orang yang telah membakar rumah saya dan membawa pergi kekasih saya. Saya tahu setiap jengkal Tuwa. Saya tahu di mana kapal mereka disembunyikan di balik rerimbunan pohon, di titik di mana meriam kalian tidak bisa menjangkau jika kalian hanya menembak dari laut."
Di bawah naungan pohon lontar yang tinggi, Saleh membuka gulungan daun pisang setengah kering yang berisi sketsa kasar yang ia buat selama berhari-hari. Ia menunjukkan jalur masuk ke anak sungai yang tersembunyi—jalur yang hanya diketahui oleh warga lokal. Ia menjelaskan bagaimana air pasang akan mempengaruhi posisi kapal perompak dan di mana posisi terbaik untuk menempatkan pasukan agar Pamolikang tidak punya ruang untuk melarikan diri ke daratan.
Prajurit Bone itu mengangguk pelan, mengakui kejeniusan taktis yang dimiliki oleh pemuda desa tersebut. "Ini adalah peta yang berharga," bisiknya.
"Peta ini tidak berharga jika kalian tidak bergerak sekarang," balas Saleh. "Saat matahari mencapai titik tertinggi, Pamolikang biasanya memindahkan kapal ke perairan yang lebih dalam untuk menghindari pengintaian. Jika kalian masuk sekarang, kalian akan menemukannya dalam posisi terjebak di sempitnya sungai."
Collardt memberikan perintah singkat dalam bahasa Belanda. Pasukan segera bersiap. Saleh tidak meminta senjata, ia hanya meminta satu hal: "Bawa aku ke sana. Aku akan menunjukkan jalan di mana kapal-kapal kalian tidak akan karam."
Saleh melompat ke sekoci, meninggalkan masa lalunya yang abu di belakang. Saat sekoci itu membelah air, Saleh menoleh sekali lagi ke arah reruntuhan Labu Pukat. Ia melihat Olat yang bisu dan pohon-pohon lontar yang melambai, seolah memberi restu.
Ekspedisi balasan ini bukan lagi tentang politik Kompeni atau ambisi Kerajaan Bone. Bagi Saleh, ini adalah perjalanan terakhir menuju api yang akan menentukan apakah ia akan pulang dengan membawa kekasihnya, atau menemui ajalnya di antara sisa-sisa kapal yang hancur. Di balik punggungnya, para prajurit itu menyiapkan meriam, namun di dalam dadanya, Saleh menyiapkan nyawanya sendiri. Tuwa kini tidak lagi menjadi tempat persembunyian; hutan telah menjadi saksi bahwa dendam yang murni, jika diarahkan dengan tepat, akan mampu menenggelamkan perompak paling kejam sekalipun ke dasar laut.
Bersambung ke Bagian VII (Tujuh)
Bagian VI (Enam)
Bagian VII (Tujuh)
Bagian VIII (Delapan)
Bagian IX (Sembilan)
Bagian X (Sepuluh)

Comments
Post a Comment