Gerimis Di Brang Oetan : Bagian 3 - Serangan Subuh


Subuh itu tidak datang dengan cahaya kejora, melainkan dengan dentuman meriam yang menggetarkan isi bumi. Labu Pukat, desa yang dulunya berselimut damai, seketika berubah menjadi kawah neraka. Lidah-lidah api merambat rakus, melahap Alang-alang kering di atap rumah penduduk, menelan lumbung-lumbung padi yang menyimpan kerja keras setahun penuh menjadi abu hitam yang beterbangan seperti salju terkutuk.Penduduk riuh. Pekik teriakan dan tangisan tiba-tiba saja memenuhi udara Labu Pukat.

Saleh sedang berada di serambi rumah Fatimah ketika langit seolah runtuh. Bau mesiu yang tajam menusuk hidung, disusul oleh derap langkah sepatu bot yang berat dan teriakan-teriakan dalam bahasa yang terdengar asing, bahasa para penjarah yang haus akan darah.

"Saleh, jangan lihat ke belakang!" teriak ayah Fatimah, namun langkah mereka terhenti oleh sekelompok pria berwajah bopeng dengan parang yang berlumuran jelaga yang tiba-tiba saja sudah sedekat itu dengan mereka.

"Lari, Fatimah! Ke arah Tuwa!" perintah Saleh. Ia tidak punya senjata, namun tangannya menyambar sebatang kayu balok yang terbakar dari sisa pagar yang roboh.

Kekacauan itu adalah badai yang tak beraturan. Saleh menerjang perompak pertama yang mencoba menyentuh Fatimah. Balok kayu itu menghantam dada si perompak, membuatnya terjungkal ke dalam kobaran api rumah yang ambruk. Namun, kedatangan musuh itu seperti air bah. Dari balik kabut asap, muncul lebih banyak lagi perompak yang dipimpin oleh seorang pria bertubuh besar dengan bekas luka melintang di wajahnya—pengikut Karaeng Pamolikang.

"Tangkapi wanita-wanita itu!" perintah sang pemimpin dengan suara serak yang memuakkan.

Fatimah disambar dari belakang. Ia menjerit, suaranya melengking tinggi, memanggil nama Saleh di tengah riuh rendah teriakan penduduk yang disembelih.

"Fatimah!" Saleh berlari, menabrak barisan perompak. Ia berhasil menggapai tangan Fatimah, menariknya sekuat tenaga hingga gadis itu terlepas dari dekapan kasar si perompak. Mereka berlari menembus ilalang yang tajam, napas mereka memburu, paru-paru mereka terasa terbakar oleh udara panas yang membawa abu.

Namun, nasib tidak berpihak pada cinta yang sedang mencoba melarikan diri. Sebuah tembakan senapan matchlock meletus, disusul rasa panas yang luar biasa di bahu kiri Saleh. Pemuda itu tersungkur, dunianya berputar hebat. Darah hangat merembes cepat, membasahi kain bajunya hingga berubah warna menjadi merah pekat.

"Saleh!" Fatimah terjatuh di sampingnya, air matanya jatuh bercampur dengan jelaga di wajahnya. Ia mencoba menarik tubuh Saleh untuk bangkit.

"Pergi... lari ke dalam Olat..." bisik Saleh, suaranya parau, pandangannya mulai mengabur. Ia melihat Fatimah gemetar hebat, menatap bahunya yang hancur.

Sebelum Fatimah sempat berbuat apa-apa, sebuah cengkeraman kasar menyambar rambutnya. Fatimah ditarik paksa ke belakang hingga kepalanya mendongak. Saleh mencoba meraih kaki perompak itu, namun tendangan sepatu bot tepat di wajah membuatnya tersungkur kembali ke atas tanah yang panas.

"Anak muda ini bisa jadi budak yang baik jika ia tidak mati, tapi gadis ini... dia berharga untuk kapal utama," tawa si perompak, menyeret Fatimah yang memberontak hebat.

"TIDAK! LEPASKAN DIA!" Saleh berteriak, suaranya serak, penuh murka yang tak berdaya. Ia mencoba bangkit dengan satu tangan yang gemetar, namun darah yang kehilangan banyak membuat tenaganya terkuras.

Dari tempatnya tersungkur, Saleh menyaksikan adegan yang akan menghantuinya dalam mimpi-mimpi buruk selama sisa hidupnya. Fatimah diseret di atas pasir pantai yang kini penuh dengan mayat penduduk desa. Di sana, sekoci-sekoci perompak telah bersiap. Fatimah meronta, mencakar tangan perompak yang memeganginya, namun ia kalah kuat. Tubuhnya dilemparkan ke dalam sekoci yang bergoyang di atas air dangkal.

"Saleh! Saleh!" teriakan Fatimah memudar, tertelan oleh deru ombak dan suara tawa para perompak yang menang.

Saleh memaksakan diri untuk berdiri. Ia merangkak, jemarinya membenam dalam pasir yang basah oleh darah dan air laut. Ia melihat sekoci itu bergerak menjauh, menuju kapal besar yang menunggu di cakrawala. Kapal itu berdiri tegak, sebuah raksasa hitam yang memisahkan mereka.

Saat itulah, pandangan Saleh menjadi gelap total. Suara terakhir yang didengarnya sebelum kesadarannya hanyut adalah gemuruh meriam yang kembali meletus, menghancurkan sisa-sisa terakhir dari Labu Pukat yang ia kenal. Ia tersungkur kembali di antara tumpukan Pade Gutis yang kini menjadi abu. Di sana, di antara reruntuhan masa depannya, ia pingsan, meninggalkan mimpinya terkubur di bawah bayang-bayang layar hitam yang menjauh ke tengah lautan.

Labu Pukat kini senyap, hanya menyisakan deru api dan aroma kematian. Cinta mereka, yang dulunya bersemi di ladang-ladang hijau, kini tersisa sebagai sepi yang menusuk tulang, terikat oleh takdir yang kejam di tengah luasnya samudra yang tak peduli.

Bersambung Ke Bagian 4

Comments