Malam itu, Labu Pukat tidak membawa kesunyian yang biasa. Biasanya, suara jangkrik di sela-sela bebatuan adalah musik pengiring tidur penduduk desa. Namun, malam ini, angin yang berhembus dari arah perairan utara membawa aroma yang asing: bau amis belerang yang bercampur dengan karat besi.
Haji Zainuddin yang biasa disapa Dea Guru berdiri di serambi masjid. Alisnya yang tebal, memutih dimakan usia, bertaut rapat. Di tangannya, tasbih kayu cendana berputar gelisah. Ia menatap ke arah laut yang gelap gulita, di mana seharusnya hanya ada pantulan cahaya bintang yang tenang. Namun, ia melihat sesuatu yang lain—kerlip api yang samar, berbaris panjang seperti deretan obor di punggung naga yang sedang merayap mendekat.
"Dea Guru," suara Saleh memecah lamunan ulama itu. Pemuda itu datang dengan napas sedikit memburu, tangannya masih memegang sisa ikatan jerami padi. "Penduduk desa mulai gelisah. Para nelayan yang baru kembali dari laut mengaku melihat kapal-kapal besar dengan layar hitam yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya."
Haji Zainuddin tidak menoleh, suaranya berat seperti guntur yang tertahan di balik awan. "Dunia ini luas, Saleh. Dan di dunia yang luas ini, selalu ada serigala yang mencari domba untuk diterkam.
Di kejauhan seseorang membawa kabar dengan panik, istana Raja Sumbawa di negeri Oetan, nasib negeri ini sedang dipertaruhkan. Berita telah sampai ke telinga para tetua desa bahwa kedamaian sedang terkoyak. Mereka mendengar kabar tentang Istana Raja yang dibakar adalah sebuah guncangan yang mengirimkan gelombang ketakutan hingga ke relung-relung desa paling terpencil. Karaeng Pamolikang, nama itu diucapkan dengan bisikan yang bergetar, seolah menyebutnya saja bisa memanggil maut datang menjemput.
Saleh teringat Fatimah. Ia segera bergegas menuju kediaman gadis itu. Di sana, ia menemukan keluarga Fatimah sedang sibuk mengemasi barang-barang berharga dan cadangan makanan ke dalam keranjang-keranjang bambu.
"Saleh," ayah Fatimah menyambutnya dengan wajah yang pucat pasi. "Kami mendengar pasukan Raja Taliwang dan orang-orang Bugis telah bergerak hingga ke Alas. Pamolikang memperkuat pertahanannya. Jika mereka terdesak, mereka tidak akan lari ke tengah laut. Mereka akan lari ke daratan, ke desa-desa yang bisa mereka jarah untuk logistik dan budak."
Fatimah menatap Saleh. Mata yang biasanya bening itu kini menyimpan kecemasan yang dalam. Ia tidak menangis, namun jemarinya meremas kain kerudungnya dengan kuat, buku-buku jarinya memutih.
"Aku akan membawamu ke Dalam Olat," bisik Saleh, suaranya tegas meski hatinya diliputi keraguan. "Di sana, di antara pepohonan, gua-gua batu dan lebatnya "Tuwa", kita akan aman sampai badai ini berlalu."
"Bagaimana dengan rumah kita?" tanya Fatimah lirih. "Bagaimana dengan Bale Alang yang baru saja kita isi penuh?"
Saleh menatap ke arah lumbung padi mereka. "Itu hanya kayu dan beras, Fatimah. Aku bisa menanam padi lagi, aku bisa membangun Bale Alang baru. Tapi tidak ada yang bisa menggantikan napasmu."
Tiba-tiba, suara dentuman meriam yang teredam—seperti suara guntur yang pecah di bawah air—menggetarkan tanah tempat mereka berdiri. Saleh tersungkur, refleks memeluk Fatimah untuk melindunginya dari serpihan kayu rumah yang bergetar hebat. Di cakrawala, api merah mulai melesat tinggi, menerangi langit malam yang seharusnya gelap.
***
Negeri Oetan terbakar.
Jarak itu mungkin jauh, namun bagi mereka yang berada di Labu Pukat, api itu terasa seperti sedang menjilat-jilat kaki mereka. Kepanikan meledak. Suara tangis bayi, teriakan laki-laki yang memanggil nama keluarga, dan derap langkah kaki orang-orang yang melarikan diri ke dalam kegelapan malam memenuhi udara.
Haji Zainuddin muncul dari balik kegelapan, matanya menyala dengan keteguhan yang luar biasa. "Jangan biarkan ketakutan membutakan iman kalian!" teriaknya, memecah kekacauan. "Ambil apa yang perlu, tinggalkan apa yang menghambat. Lari ke dalam Olat! Jangan menoleh ke arah laut!"
Namun, saat Saleh menarik tangan Fatimah untuk berlari, ia melihat ke arah pantai. Di sana, siluet kapal-kapal perompak mulai terlihat jelas, dipotong oleh latar belakang api yang melahap pesisir utara. Mereka datang bukan untuk berdagang. Mereka datang untuk memanen kehancuran.
Fatimah menatap pantai dengan mata terbelalak. "Saleh... kapal-kapal itu... mereka bergerak ke arah sini."
Saleh merasakan darahnya membeku. Bukan karena takut, melainkan karena ia tahu bahwa waktu mereka telah habis. Malam itu, di bawah langit yang mulai memerah oleh api, bukan lagi tentang padi atau janji masa depan. Malam itu adalah tentang bagaimana mereka harus membedakan mana yang merupakan awal dari akhir, dan mana yang merupakan ujian terberat bagi dua jiwa yang sedang jatuh cinta.
"Lari, Fatimah!" teriak Saleh, namun saat ia hendak memutar arah, suara tembakan mesiu yang memekakkan telinga merobek kesunyian subuh yang baru saja akan menjelang.
Malam itu, Labu Pukat tidak lagi mengenal doa. Malam itu, Labu Pukat hanya mengenal jerit dan bara. Dan di tengah kekacauan itu, Saleh menyadari satu hal pahit: sejarah tidak pernah peduli pada sepasang kekasih yang hanya ingin hidup dalam damai. Sejarah hanya peduli pada siapa yang memegang senjata, dan siapa yang akan menjadi abu.
Bersambung ke Bagian 3
Bagian VI (Enam)
Bagian VII (Tujuh)
Bagian VIII (Delapan)
Bagian IX (Sembilan)
Bagian X (Sepuluh)

Comments
Post a Comment